Updates from evnov Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • evnov 10:33 am on October 24, 2010 Permalink | Reply  

    Antara Maria dan Marta 

    Marta: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

    Yesus: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara. Tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

    Sampe saat ini perut gw masih kram dan betis, punggung, leher gw masih sakit akibat latihan teater T_T. Dengan 24 SKS dan tugas yang banyak, gw kelelahan…

    Mata kuliah apresiasi drama mengharuskan tiap kelompok bikin pertunjukkan di TIM (Taman Ismail Marzuki). Walaupun gak semua main di panggung, semua yang ikut kuliah ini harus ikut olah tubuh (lari-lari, loncat2, dsb), olah suara, bedah naskah, yang mau gak mau jadi pulang malem terus buat proyek ini. Gw juga ikut salah satu teater kampus (yang emang penting banget coz banyak sekolah bagus yang sangat mentingin keahlian drama diluar teori). Dan teater kampus ini latihannya jauh lebih capeeee (guling2 di lapangan). Jadi inget pas brotherhood 3 hari 2 malem di sawangan, 1 kamar berbilik ukuran kira-kira 4 x 5 m, isinya 12 orang + tas gede-gede, tidur di atas tiker 😀 chahahaha.

    Belum lagi penelitian ke sekolah, ngubek-ngubek perpus jurusan buat liat skripsi (yang sampe sekarang masih bingung banget dengan penelitian semester ini T_T).

    Bukan hanya fisik, pikiran gw juga kacau -,-” Karena keteledoran gw, 1 mata kuliah bernilai 4 SKS keluar dari KRS dan baru ketauan setelah masa perbaikan KRS udah selesai. Yang mengejutkan, mata kuliah ini baru ada di semester 7 pas gw PPL (dan PPL gak boleh sambil kuliah). Gw udah nanya ke dosen, senior, temen seangkatan, masih bisa gak sih gw lulus 4 tahun? Katanya sih bisa, tapi sulit en ribet *hiiiks*. Gw gak ngadu ke nyokap, yang ada nyokap bisa sakit gara-gara mikirin kuliah gw (jadi ngadu ke teteh gw aja). Thx God, gw masih bisa ambil kuliah lain yang bikin SKS gw pas 24. Ya Tuhan, masa aku harus molor kuliah? Kasian banget si teteh kelamaan ngurus kuliahku 😥 …Kapan si teteh married? Lagian, aku udah bikin rencana jangka panjang, Tuhan… Rancanganku memang bukan rancangan-Mu, tapi…

    Dan lagi, kayanya gw harus berhenti ngajar bimbel. Pernah tuh ya, 1 hari gw bolos kuliah buat ngajar (abis waktunya bentrok sama kuliah).  Kayanya emang harus resign… Sayang banget, padahal bayarannya lumayan :D. Deket pula (5 menit naik angkot dari rumah). Lagian semester ini besar pasak daripada tiang (baca: besar pengeluaran daripada ongkos + jajan yang dikasih teteh gw). Jadi kan bayaran bimbel bisa buat nutupin kegedean pasak :D. Dilema…

    Saat ini juga persiapan buat natal sekolah minggu dan natal ibadah umum. Pasti bakal banyak rapat, latihan, kegiatan…

    Dan senior yang menunjukkan gejala ‘aneh’ ke gw. Bingung gimana ngadepinnya, yang ada kalau dia tersinggung dengan ‘jaga jarak’ gw, senior-senior yang lain bisa negatif ke gw…

    Belum lagi hal-hal lain yang bikin gw sangat menangis…

    Ini lelah yang mencakup fisik, hati, pikiran. Dan parahnya, saat teduh gw mulai gak beres T_T. Parahnya, gw jadi males ngerjain tugas -,-”. Parahnya, gw suka ngerasa gak damai sejahtera… Setiap kali gw minta ampun sama Tuhan, gw gak disiplin lagi dan lagi… Ngelakuin salah lagi dan lagi…

    Marta, apa yang kau rasakan saat melihat Maria duduk di dekat kaki Yesus? Apakah kau ingin duduk juga tapi tidak bisa karena banyak sekali yang menyibukkanmu? Apakah sepertinya Yesus hanya peduli pada Maria dan bukan kepadamu yang telah melakukan ini dan itu?Apakah kau kelelahan?

    Maria, apa yang kau rasakan saat duduk dekat kaki-Nya? Apakah rasanya begitu menyenangkan dan menenangkan hingga kau duduk tanpa terganggu yang lain? Apakah suara-Nya begitu lembut dan menenteramkan? Apakah kau merasa damai sejahtera?

    Yesus, apakah ini yang Kau katakan, “Evi, Evi, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara…” Karena, memang inilah yang kurasakan…

    Yang sulit adalah, percaya bahwa segala sesuatu mendatangkan kebaikan. Tapi seumur hidup gw, Yesus gak pernah bohong! Maka gw mau percaya… Dan ya, Yesus selalu menguatkan :).

    Maria, aku ingin bergabung bersamamu. Duduk dekat kaki-Nya dan mendengarkan tiap kata-Nya. Aku ingin dekat pada sumber kuat dan pengharapanku…

    Dan ketika gw duduk dekat kaki-Nya, gw mendengar:

    “Tetapi hanya satu saja yang perlu: Evi  telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

    Catatan: Kisah dua bersaudara Maria-Marta ini ada di Lukas 11:38-42. Makasih buat ka’lunniey buat proyek saat teduh (share ayat teduh by sms) yang bikin gw lebih bersemangat buat sate :).

    Advertisements
     
    • tukangbakmi 12:56 pm on October 24, 2010 Permalink | Reply

      Gejala aneh gimana pi?
      Kalo deket2 lu langsung komat kamit baca doa gitu? Ato kalo lu nyamperin,dia ngacung2in bawang putih?

    • lunniey 1:22 pm on October 24, 2010 Permalink | Reply

      Iyak ep Yesus gak pernah bu’ung kok.. Biarpun keliatannya yah, kemungkinan lo tipis buat selesai kul 4 taun, biar kata lu ngerasa itu juga sebagian karena kelalaian lo.. Tapi Yesus bakal cover semua kok ^^ yang penting tetep deket ma Dia.. Lagian sebagian cerita di Alkitab kan gitu ep 😛 di tengah2 rencana Tuhan pasti semua tokoh Alkitab banyak yang ngerasa stress, takut, ragu, dll.. Tapi mereka menunjukkan ketika mereka tetap berjalan bersama Tuhan, Enggak ada akhir yang mengecewakan^^ Anggap aja 1 lagi mukjizat seru yang akan Tuhan persiapkan buat lo 😀

      @Komin, bukan, rada anehnya tuh, tiap kali su’ep dateng selalu disajiin kembang 7 rupa @.@

    • riuw 5:37 pm on October 29, 2010 Permalink | Reply

      wiiuhh kayaknya soal maria and marta udah khasnya si dedek evi yah =D

      yah itulah hidup ev *sigh* kalau gak ngalamin kayak gitu, brarti sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan..

      kadang k ia juga gitu, ingin rasanya depok di Bom and smuanya mati, enak deh gw ke rumah Bapa, nggak ada masalah yang harus di selesaikan lagi =p

      hayuukk dek evi, qita jadi anak muda yang berani menghadapi semuanya apapun yang terjadi, Tuhan menyatakan Kuasanya dengan jelas ketika qita berada di titik bawah.. inget at filipi “sengala perkara dapat ku tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”^^ >>senjata banget niy ev^^

    • richilia 1:45 am on February 9, 2011 Permalink | Reply

      Saat kelelahan secara fisik, hati dan pikiran menghampiri…mari datang kepada Yesus. Dia bilang “Marilah datang kepadaku semua yang letih lesuh dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepada mu”

  • evnov 6:46 am on August 28, 2010 Permalink | Reply  

    Mari Sekolaaaaah :D 

    Peduli amat dengan peluluhan huruf  k, t, s, p! Gak penting juga antonim dan sinonim. Menarik apanya dari konjungsi? Tapi toh, saya tetap duduk dengan mata terkantuk-kantuk mendengar dosen berceloteh tentang hierarki gramatika, linguistik! Mencari-cari tulisan sastrawi di perpustakaan yang sampulnya robek dan debu setumpuk yang sukses bikin batuk dan gatel-gatel. Bergadang sampai subuh untuk makalah yang revisi untuk kesekian kalinya. Berdesakan di bus yang gak ada matinya!


    “Ngapain masuk Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia? Kenapa gak Inggris atau Perancis gitu?” Simple, waktu SMA saya pernah juara dua baca *cuma baca doang* cerpen. Selain itu, praktek pidato saya okeh, drama dari SD, SMP, SMA, dapat tepuk tangan meriah, dan saya maunya jadi guru Bahasa Indonesia, bukan Inggris atau Perancis :D.


    Apa saya menikmatinya? Gak juga. Di beberapa bagian, enggak sama sekali malahan. Saya gak bersahabat sama sastra. Buku sastra Indonesia kebanyakan patriarki, menindas feminis! Bahasanya ribet, gak to the point. Sebenernya mah, saya gak terlalu suka baca buku =P. Sejarah dan teori sastra bikin ngantuk. Meskipun demikian, saya belajar untuk mencintai sastra. Saya harus mencintainya!


    Dan walah, teori pendidikan ngebosenin. Tapi harus update untuk isu-isu pendidikan. Debat dan diskusi tentang bobroknya sistem belajar dan mengajar. Saya ditempa jadi guru yang profesional, dan canggih *baca: mutakhir*. Profesional? Bikin silabus (rencana pengajaran) ajee revisi empat kali. Wakakakakak!


    Dan, miris juga karena bakat sastrawi temen-temen saya okeh-okeh bangeeet! Apresiasi sastranya, teorinya, tulisan-tulisannya, makalahnya, wow! Sastra, pendidikan, bahasa, dari berbagai segi, mereka tuh bikin saya pengeeeeen bisa kayak gitu =P.


    Saya tidak pernah lupa, saat nama saya tercantum di koran, lulus SNMPTN untuk jurusan yang saya geluti sekarang di UNJ. Orang tua saya sama sekali gak ngasih selamat, mereka mau saya masuk UI. Perasaan saya? Langsung ngambek lah *hehe*. Setelah itu, barulah mereka memberi selamat. Tapi kata-kata ortu masih terngiang, saya harus seperti kayak-kakak saya, saya harus pintar, saya harus dikirim ke luar negeri seperti mereka, begini, begitu. Apa yang harus saya lakukan?


    Saya mengetuk pintu bertuliskan UI. Menggedor, menggebrak, tapi gak kebuka. Walaupun saya gak tau pasti untuk apa saya ambil jurusan Psikologi dan Tata Niaga UI, pokoknya yang penting masuk UI. Ujian masuk perguruan tinggi yang pertama berjudul UMB, saya gak lolos. Akhirnya banting stir ngambil IPS (saya jurusan IPA) di ujian masuk SNMPTN. Pilihan terakhir yang baru saya pilih di ruang BK (Bimbingan Konseling, tempat daftar perguruan tinggi) untuk SNMPTN adalah jurusan yang saya geluti sekarang :D.


    Apa ini untung-untungan? Gak sama sekali! Meskipun banyak orang yang bertanya, mau jadi apa saya nanti dengan pendidikan yang saya ambil, gak perlu diambil hati. Yang saya angankan, nanti, ya nanti, saya akan menjadi pendidik yang mengasihi anak-anak murid saya. Sambil menulis, musikalisasi puisi dengan gitar, hal-hal yang menyenangkan buat saya, adalah hari yang saya jalani dan nantikan. Kenyatannya, walau beberapa hal membuat saya bosan dan lelah, saya tetap menikmati bagian yang lain. Debat, pidato, musikalisasi puisi yang menggelikan. Di tempat mana lagi satu kelas bikin seminar yang pembicara, pantia, peserta, pencari dana, adalah saya dan teman-teman saya sendiri? Saat ini, saya ingin sekali menikmati semua bagian, mata kuliah yang membosankan, makalah yang bikin repot, bus yang laris manis, teman-teman yang asyik, dosen yang ganteng, mata kuliah yang bikin semangat, semuanya, jadi satu paket yang benar-benar saya nikmati dan syukuri.


    Saya ingin, menjalani panggilan hidup saya dengan seratus milyar semangat. Saya ingin jadi pendidik yang menjadi berkat. Saya ingin bekerja bukan demi uang, tapi karena saya menikmati dan mencintai pekerjaan itu, karena saya rindu panggilan itu genap.


    Kalau dipikir, bagaimana mungkin saya bakal kangen dengan masa kuliah saya? Sekarang udah harus mikirin skripsi, menjelajah ke sekolah-sekolah bagiin kuesioner. Belum lagi suasana rohani yang kering kerontang di kampus (walaupun teman-teman saya asyik sekaliii, tapi saya adalah minoritas). Tapi, saya akan kangen! Pasti! Jadi nikmati saja, syukuri. Hari-hari depan adalah hari yang berkemenangan, damai sejahtera.


    Ah, setelah dua bulan libur semester, tanggal 30 Agustus masuk kuliah lagi :D. Semangaaaaat!!!! ^^. Untuk itulah tulisan ini saya buat, untuk mengingat, betapa saya mencintai hari-hari yang Tuhan rancangkan dalam hidup saya. Terlepas dukungan maupun kata-kata yang membuat lutut saya lemas, saya harus bersemangat! Ini bukan demi kertas sakti (baca: Ijazah), tapi ini demi Dia, yang tercinta ^^.


    Cerita penutup: Di dunia kodok, sedang terjadi perlombaan yang sangat seru!! Para kodok yang (terlatih dan tidak terlatih) berlomba untuk menaiki menara yang sangat tinggi. Para penonton riuh rendah, bersorak, mengutuk, di pinggir garis batas perlombaan. Saat para kodok mulai naik, sorakan yang bercampur kutukan, menjadi satu suara yang menjatuhkan. Ya, para penonton mulai sehati untuk membuat para peserta lomba patah arang. “Kamu gak bakal bisa naik ke atas”. “Kalian adalah para kodok yang lemah!!”. “Booooo!!” “Wuuuuu”. Para peserta lomba mulai kehilangan semangat, satu persatu mulai jatuh dari menara yang mereka naiki. Peserta yang jatuh, juga mengutuki peserta yang masih berusaha untuk naik. Dan jatuhlah semua peserta lomba, kecuali satu… Satu kodok berhasil naik ke puncak menara!! Bagaimana bisa? Ternyata, kodok itu tuli.

    Selamat datang kembali, ev! Selamat datang di kampus gersang, kampus dengan banyak orang-orang menyebalkan. Tutup saja telingamu untuk kata-kata yang menusuk-nusuk waktu bergadangmu. Selamat datang, ev!  Selamat datang di hari penuh harapan. Di kampus yang menyenangkan. Bersama Tuhan, selamat meraih impian!! ^^.

     
    • tukangbakmi 8:30 pm on August 28, 2010 Permalink | Reply

      Kalo diinget2..mungkin salah satu alasan gw masuk dunia tulis menulis karena waktu SMA gw sering dihukum bikin karangan pake bahasa inggris? kenapa dihukum? kaga bikin PR….^^
      Tapi karangan itu terus dibacain guru gw dan dapet respon yang cukup lumayan di kelas ( paling ngga ga ada yang lempar tomat atau bakar ban…)
      Atau mungkin karena sejak SD kalo bikin karangan pasti panjang lebar dan dapet nilai bagus ( gw curiga guru gw ga pernah baca karangan gw,cuman liat panjangnya doang langsung kasih nilai bagus )yang di kemudian hari gw sesali karena sekarang kalo nulis terpaksa harus disingkat abis2an berhubung kalo nulis di blog itu (apalagi tulisan rohani), jarang ada yang mau baca cerita yang lebih dari 2 paragraf…

      Sastra Indonesia yang gw baca cuman Pramoedya, itu pun karena pas waktu gw kuliah tu buku masih dilarang terbit jadi gw penasaran pengen baca. Dan kebetulan di perpus kampus ada bukunya dalam bahasa Inggris yang diterbitin di Australia, Bumi Manusia,Anak Semua Bangsa,Rumah Kaca.

      Sebenernya gw mau komen apa yah?Panjang lebar nulis pula…
      Sebenernya karena ga ada kerjaan aja sih..sekarang jam 3 pagi, ga bisa tidur tapi jam 5 harus siap2 ke gereja..jadilah minum kopi sambil brosing dan baca artikel si epi ( ..yang lebih dari 2 paragraf !!)

      Masih 1.5 jam lagi sampe jam 5….mungkin gw akan memberanikan diri membaca cerita si Tomboi…atau mungkin lanjutin nonton House season 6…

    • riuw 6:06 am on August 29, 2010 Permalink | Reply

      welcome to campus again darling..
      Bersenang2lah di kampus, nikmati proses’a Tuhan sblm kamu menyandang gelar sarjana n menjadi ibu guru yg cantik&gaul.. Krn suatu saat sewaktu dirimu sdh jd alumni UNJ, engkau akn mw mengangis liat kampus yg sdh mengajarkan kamu trutama pelajaran soal “ap arti’a hidup ini” 🙂

      once again selamat yah saayaaanng..

    • lunniey 5:51 am on August 30, 2010 Permalink | Reply

      ya ampun komin, ntu mah bukan komen .. tapi bikin postingan sendiri xD
      Kaya gua nih kalo bikin komen…
      Waktu sekolah dulu kayanya gua gak pernah dapet pengalaman yang baik dgn pelajaran b.ind maupun guru2nya…
      Dimulai pas SD, jaman dulu kalo ujian b.ind pasti selalu ada bagian mengarangnya. Dan gua Benciiii banget kalo suru ngarang >,< tiap kali disuru ngarang, 75% waktu yang diberikan gua gunakan utk mikir mo ngarang cerita apa dan 25% selanjutnya gua gunakan utk terburu2 ngarang dengan tema yang selalu sama — Berlibur Ke Rumah Nenek (atau kadang utk variasi diganti ke rumah paman -,-")
      Buat gua menulis adalah pelajaran yang menyiksa, selain karena gua gak punya kreativitasa dalam mengarang, gua juga emang gak suka nulis (secara harfiah – menggoreskan tinta ke kertas menggunakan tangan)

      Pss SMP, sedikit lebih lega, karena pas ujian kayanya udah gak ada lembar mengarangnya, paling lembar essay duank.. Tapi pas SMP gua pernah dijewer sama guru b.ind sampe kuping berdarah (jewernya pake kuku boo!!) cuma gara2 gua dikira ngobrol pas lagi pelajaran membaca, temen gua waktu itu suru baca wacana, nah gua ribut sama temen sebangku gua, padahal ntu bukan ngubrul, orang gua lagi nanya "itu bacanya udah sampe mana sih?" temen gua juga gak tau, eh nama gua disebut buat lanjutin baca.. lah bengong aja gua… dijewer deh -,-" semena2 bgt kan tu guru?????

      Pas SMA mungkin ini kejadian yang paling menohok, pas kelas 2 gua dpt guru b.ind yang naujubile ngajarnya gak pernah sekalipun nyambung.. bayangin aja,, bukannya jelasin perbedaan antara paragraf deskripsi sama paragraf narasi, dia sibuk ceritain suaminya yang jadi atase di luar negeri ato gak cerita kalo ngerebus mie instan, aer rebusannya jangan dimakan, apa hubungannya???? Tapi bukan itu masalahnya, yang paling bikin gua nangis darah adalah pas ulangan seenaknya dia ngasi nilai pake sistem "Suka2" kalo dia suka sm anaknya dikasih 8 apa 9 (dia sama sekali gak ngoreksi tu ujian) sementara gua, yang dah panjang lebar nulis 2 halaman folio dikasih 6!!! gimana gua gak protess!!

      wlpun akhirnya sih, kejadiannya berakhir bahagia krn guru itu terbukti tdk kredibel dalam mengajar, jadi dikuarin deh 😀

      Eniwei ep.. menurut gua, kenapa gua sama sekali gak suka pelajaran b.ind pas sekulah, itu karena gua selalu ketemu sama guru2 yang gak terlalu mencintai pekerjaannya. Tapi mungkin kejadiannya bakal beda kalo orang kaya lo jadi guru b.ind.. Lo pasti bakal bisa menularkan rasa cinta lo dalam bidang menulis ke anak2 murid lo. Pokoknya terharu banget dah gua, krn ternyata Indonesia punya calon pendidik berkualitas macem lo :')
      Semangat Eepp!!! Rakyat Indonesia membutuhkanmuuu T.T

    • tukangbakmi 10:28 am on August 30, 2010 Permalink | Reply

      Ya ampun lun…komen kok cuman seujung kuku kaya gitu? Itu mah harusnya di tweet aja, niat ga sih komen ? Komen tuh kaya gini harusnya….

      Sebenernya apa yang gw pelajari dari jaman SD ampe jaman kuliah di mata pelajaran bahasa Indonesia yah? kayanya yang gw inget cuman S-P-O ama majas, terus sejarah pengarang ini/itu masuk jaman dan aliran mana . Guru2 yang ngajar pun ga ada yang berkesan dan rata2 ya cuman ngajarin teori aja…kaga pernah mereka ngajar langsung soal cerita sastra Indonesia misalnya. Lah..cerita Siti Nurbaya ama Datuk maringgih aja gw tau dari pelem seri di tipi ( Nopia kolopaking kan yang maen? )
      Sastra Indonesia yang gw tau jaman itu cuman Lupus-nya Hilman..gw masih baca tuh seri ampe jaman Drakuli temennya Lupus yang tinggal di kuburan itu.

      Gw baru mulai tertarik ama yang namanya sastra ( sebelonnya cuman hobi baca komik doang )justru pas masa kuliah, dan sayangnya bukan sastra Indonesia tapi sastra Inggris. Gara2nya ? pacar gw waktu itu sastra Inggris dan gw banyak maen di perpus sastra…lebih sering gw maen di perpus sastra daripada di perpus gw sendiri,perpus Teknik. Selain emang perpus sastra lebih terang dan cerah,perpus Teknik isinya cowo semua…..jarang ada cowo teknik yang maen ke daerah perpus sastra ( prestasi membanggakan tuh gw maen di perpus sastra ^^ )…balik lagi ke soal sastra….karena emang awalnya hobi baca, sambil ngisi waktu ya gw baca buku. Dan karena perpus emang dipake buat belajar dan bikin tugas,gw sering ikut dengerin omongan anak sastra dan tertarik ama yang didiskusiin. Walopun terkadang mereka bahas tekniknya,tapi seringnya yang mereka bahas isi ceritanya ato sejarahnya.

      Eniwei..gw ga suka ama pelajaran Bahasa Indonesia soalnya emang ga ngajarin apa2 kecuali teori yang notabene kaga kepake..lah,kita kan semua udah bisa bahasa Indonesia…mau apotik ato apotek..tomato tomahto..sapa yang peduli? napa gak diajarin soal cerita sastranya sih ? ( gw curiga guru gw juga kaga pernah baca buku sastra, paling koran doang ). Pada akhirnya cuman ngapalin lagi ngapalin lagi..dan tebak kancing baut nentuin apotik ato apotek.

      Ayo pi, kalo jadi guru ajarin tuh yang lebih dalem, jangan cuman teori SPO doang…
      Jadi inget , soal guru yang ngasih nilai seenaknya…dulu gw punya guru PPKN yang ,gosipnya, kalo ngasih nilai jawaban PPKN itu diukur pake penggaris. kalo baris jawabannya cukup panjang, dianggap bener. kalo pendek cuman sebaris dianggap salah. Tentu saja nilai PPKN gw selalu bagus karena emang kalo ngarang gw bisa panjang banget. Sebenernya pernah tergoda buat buktiin gosip ini. caranya? di tengah2 gw taro aja cerita putih salju dan 7 kurcaci, kalo dia baca pasti dicoret, tapi kalo diukur kan pasti dibenerin…sayangnya gw kurang punya nyali untuk itu.
      Dan ironisnya sebagai guru PPKN, pas abis ujian suka banyak anak2 yang bawa kue ato hadiah ke rumahnya. Karena mereka mencintai gurunya ? kalo itu mah kasih buah apel aja 1 biji…..tentu saja bukan itu alasannya…
      ga tau juga apa emang anak2 yang bawa upeti nilainya bagus apa kaga, tapi soal bawa hadiah sih banyak temen gw yang nyobain…
      jangan jadi guru kaya gini ya pi……

      Dan masih banyak lagi selusin guru yang aneh2…salah satunya guru cowo yang dicurigai homo dan suka manggil anak2 yang nilainya jelek ke rumahnya. Eman itu cuman gosip jelek doang soalnya gurunya galak…tapi selama 20 generasi tuh gosip ga pernah ilang…turun temurun dari kakak kelas ke adek kelas…..
      Makanya ati2 ya pi…kalo nyari daun muda jangan ketauan…ntar digusipin turun temurun loh….
      ( btw, tapi ada beberapa temen gw yang sukses jadi guru setaun 2 taun, dapet pacar anak sma terus keluar ga ngajar lagi…tapi ini kisah suksesnya loh..kalo kisah gagalnya ya gusip 20 generasi itu )

      Komen apa lagi yah…..masih kurang panjang nih…….
      Ah, biar panjang gw nitip artikel aja sekalian…..
      Satu langkah maju, tiga langkah mundur..
      Jantung yang berdegup kencang, tangan yang berkeringat dingin…
      Padahal pintu itu jaraknya hanya beberapa meter, pintu yang sering didatangi dan dilaluinya setiap hari, jarak yang seharusnya tidak membuat tubuhnya lelah dan kakinya berat.
      Tapi hari ini, beberapa langkah itu terasa sangat berat dan….ya, sedikit menakutkan.
      Bagaimanapun , dibalik pintu itu berdiam seorang raja, rajanya!!
      Dan hari ini dia tidak datang untuk memujinya atau membawakan persembahan ataupun menceritakan berita baik…tapi hari ini dia datang untuk mengacungkan jari tangannya dan menunjuk sang raja…
      Untuk menghakimi kesalahan raja..rajanya sendiri!!
      Bagaimana kalau raja marah dan membunuh dirinya? Ini bukan pertama kalinya dia mendengar dan melihat raja membunuh seseorang.
      Bagaimana jika raja memutuskan kalau dia pembohong kurang ajar dan memenjarakannya?
      Bahkan sekalipun dia menceritakan kesalahan raja yang didengarnya kemarin malam, siapa yang akan percaya? Raja yang membawa masa keemasan bagi bangsanya atau dia, pelayan raja? Siapa yang akan dipercaya rakyat? Tanpa perlu dipikir pun dia tau jawabnya, karena kalau dia sendiri dihadapkan pada pilihan yang sama,dia akan memilih untuk lebih percaya kepada perkataan raja daripada perkataannya sendiri.
      Dan itulah yang membuat kakinya berat, bukan karena ketakutan, tapi kesedihan dan…kekecewaan.
      Raja yang dihormatinya…raja yang dikaguminya..
      Bertahun-tahun dia mendengar cerita kepahlawanan raja, bahkan menyaksikan beberapa di antaranya. Dia mengetahui setiap titik naik turun dalam kehidupan sang raja..
      Kesedihan,keberanian,perang,konflik,dan bahkan cerita cinta sang raja.
      Seperti semua rakyat bangsanya, dia sepakat tidak ada raja lain yang lebih pantas untuk menjadi raja selain raja di balik pintu yang akan didatanginya.
      Dan karena itu, berita yang diterimanya tadi malam terasa sangat menyakitkan, pengkhianatan yang luar biasa. Bagaimana mungkin sang raja,rajanya!! ,sanggup melakukan hal itu?
      Bagaimana mungkin seorang pemimpin luar biasa sanggup melakukan hal seperti itu? Perbuatan berdosa yang hanya dilakukan orang yang tak ber-Tuhan?
      Masih pantaskah rajanya menjadi seorang pemimpin?
      Dan kekecewaan memberatkan kakinya…tapi tugas menggerakkan kakinya..dan dia melangkah maju dan membuka pintu….
      “Engkaulah orang itu”………….Daud terkejut
      “Aku sudah berdosa kepada Tuhan”……….Nathan terkejut!!
      Beban berat terangkat dari pundaknya…dan bola besi yang memberatkan hatinya terlepas…
      Rajanya tidak mengkhianati dirinya…
      Nathan menyadari kalau rajanya hanyalah seorang manusia biasa yang bisa berbuat salah, Berapapun banyaknya lagu kepahlawanan yang ditulis rakyatnya untuk Daud, Daud tetaplah manusia biasa.
      Kenyataan yang terpampang di depan matanya..Daud yang mengakui dosanya dan menangis meminta ampun menyadarkan Nathan akan kemanusiaan Daud.
      Tapi, berapa kalipun Nathan melihat kemegahan Daud saat kembali dari perang, dia tidak pernah melihat kemegahan seorang raja melebihi kemegahan yang dilihatnya saat ini…kemegahan seorang raja yang berlutut dan menangis mengakui kesalahannya.
      Berbuat salah adalah hal manusiawi..tapi mengakui kesalahan,meminta ampun dan bertobat adalah kualitas surgawi yang hanya dimiliki orang – orang yang bertemu muka dengan muka dengan Tuhan.
      Dan Nathan melayani Daud seumur hidupnya
      Dan Daud mempercayai Nathan sampai hari tuanya.
      ( diambil dari 2 Samuel 12 )
      Cerita di atas tentu saja hanya rekaan dan dramatisasi dari kejadian sebenarnya. Kita tak akan pernah tahu bagaimana perasaan nabi Nathan saat mendatangi Daud. Yang kita tahu hanya Nathan cukup bijaksana dan peka untuk tidak mempermalukan Daud dengan menuduhnya langsung tapi memakai cerita pendahuluan.
      Alkitab tidak banyak membahas bagaimana hubungan Nathan dengan Daud, apakah mereka bersahabat atau tidak.
      Yang kita tahu, Nathan cukup mengenal Daud dan kehidupannya karena Nathan adalah orang yang menulis riwayat hidup Daud,dan juga anaknya Salomo, di Alkitab. ( 1Taw 29:29 , 2 Taw 9:29 )
      Dan kita tahu bahwa Daud terus mempercayai Nathan bahkan sampai hari tuanya. Ketika Nathan datang membawa kabar mengenai pengkhianatan anak Daud sendiri, Adonia, Daud mempercayai dan tidak meragukan perkataan Nathan. Sekalipun yang dibicarakan Nathan adalah anaknya sendiri ( 1 Raja-raja 1:23-27).
      Seandainya Daud punya Facebook, Nathan pasti termasuk salah seorang BFF – nya.
      Kenapa ? Karena “ seorang kawan memukul dengan maksud baik ….“ ( Amsal 27 : 6 )
      Jadi…jangan ragu untuk “pukul memukul“… ^^

    • riuw 5:22 am on August 31, 2010 Permalink | Reply

      wkwkwkwkk.. Pucing gw baca coment lu pd udh kyk lembaran buku aje..

      Eniwei gw lg baca buku chicken soup 4 the soul “meraih sebuah impian” dan itu smua kisah2 para penulis.. Bagus loh. Walopun gw blm slesei baca, secara general gud lah 😀

    • evnov 10:48 am on August 31, 2010 Permalink | Reply

      makasih yaa semuanyaaaa 😀

      hari kedua masuk kuliah, gw pikir masih ngobrol-ngobrol santai sama dosen, ternyata langsung disuguhin daftar tugas satu semester -_-” tapi jadi terhibur klo inget beasiswa yang gw ajuin semester kemarin udah cair 😀 yg gw kira 1,5 buat dua smster, ternyata yg kluar 3,1 (buat makan baso 1 taun)

      alasan menggiurkan jadi guru di otak gw: karna gaji (bisa juga pemasukan) guru itu gede :D. klo jadi PNS, gaji kan bisa diatas 5 juta, belum tunjangan segunung lainnya! kalo anak2 libur (misalnya ulang taun sekolah, anak kepala sekolah sunatan) gw bisa ikutan libur 😛 kerjanya paling cuma setengah hari… klo gw sakit perut, bisa nelepon ke ketua kelas (ngasih tugas)… udah gitu, klo potokopian ulangan misalnya cuma Rp 500, gw bisa minta Rp 5.000
      gw yakin bgt, gw bakal jadi guru yg sangat berjasa bagi nusa bangsa tercintah iniii!! *hormat kepada Sang Saka Merah Putih*

      jadi inget sama bapak yg make baju pegawai negeri (yang ngakunya guru fisika) di SMP gw dulu.. bapak itu kerjanya msuk kelas, marah-marah, ngerokok, ngitung nomor togel (gw kan duduknya pas bgt depan meja guru, jadi tau doi ngapain aja), minta uang potopian yg berlipat kali ganda dari harga seharusnya! pernah juga tuh, gara-gara gak gambar pembiasan cermin, temen gw (cewe) dipukul punggungnya pake penggaris kayu gede yang buat papan tulis! suara pukulannya kedengeran seantero kelas >,,<

      salah satu guru yg paling berjasa besar waktu gw SD, adl guru waktu kls 5… batak, gendut, mukanya tegas, suka mukulin tangan anak-anak yg kaga ngerjain PR pake gagang kemoceng! tmn gw (cowo) udah nangis duluan sebelum tangannya merah karna disabet kemoceng (kasian sih, tapi lucu juga ngeliatnya, chehehe).
      tapi gw suka sama beliau.
      bukan karena kemoceng! salah satunya karna klo dia ngajar, gw ngerti en nyambungbgt! hal yang lain, karna: waktu gw nganterin tmn gw ke wc (entah knp, jaman SD klo ke wc para wanita maunya dianterin tmn) itu guru tiba2 di belakang gw… dia nyamperin gw… waktu itu gerimis, dia jongkok di depan gw dan terjadilah percakapan ini:
      Ibu guru: lagi ngapain, vi?
      gw: nemenin nona X, bu.
      Ibu guru: dingin gak?
      gw: (diem aje)
      Ibu guru: (meluk gw) msh dingin?
      gw: (sumringah) enggak bu.
      guru gw ini emg gak bisa punya anak… dia sering blg, spy gw tinggal sama dia (sebagai anaknya), dan tentu saja dia kenal ortu gw (inget, orang batak kenalannya banyak)… salah satu alasan knp dia mau spy gw nginep di rumahnya, karna gw ngegemesin bgt, lucu, dan sangat memesona *nambahin sendiri*. senyumnya dan pelukannya, adl kasih yg gak pernah gw lupa… walaupun dia gak bisa punya anak kandung, sebenernya dia punya ratusan, mungkin ribuan anak selama dia ngajar… dia tau gmn mendidik skaligus mengasihi…

      soal jodoh, gw gak bisa berbuat apapun kalo seorang pria muda berseragam putih abu2, menyatakan cintanya kepada guru bahasa Indonesia yg terkenal berkharisma di sekolah itu….. bweeeeee 😛

      udah kuliah, gw baru liat pendidik2 bahasa dan sastra yg profesional! gw pgn kaya Bu Ita (dosen drama) yg asyik, gak nyeremin, punya metode2 belajar yang gak bikin ngantuk, fleksibel, gak pelit nilai :P. juga kaya Bu Fat yang retorikanya maknyus, tugasnya naujubile ngerepotin, tpi sangat bermanfaat! pinter teori sastra kaya Pak Icad yg juga sangat dikagumi oleh para mahasiswi :D.
      bakal jadi pendidik macam apa gw nanti? entahlah :D. yg pasti, gw adalah Bu Evi *tsaaaah* bukan Bu Ita, Bu Fat, apalagi Pak Icad! chahaha

      masih kependekan yak? yaudah, gw cerita tentang naruto aja.
      waktu masih sekolah, naruto paling benci sama jurus seribu bayangan, dia tuh dudul bgt klo disuruh pake jurus itu.
      tapi pada pertempuran2 selanjutnya, jurus itulah yg paling sering dipakainya dan paling dikuasainya, walaupun sebelumnya, dia gak suka… (dan, gw bosen bgt ngeliat naruto pake jurus sribu bayangan muluuuu -,-”)
      kok bisa? ya dia belajar doooong 😀

      masih kependekan… daripada nitip artikel yg sengaja dipendekin sedemikian rupa spy orang2 baca, mendingan gw nitip puisi aja 😛

      Di Balik Pintu

      coba lihat!
      ada apa di balik pintu?
      mungkin hal yang sangat menyenangkan
      atau juga yang menakutkan
      dalam tiap bagian, pastikan kamu melaluinya tanpa penyesalan

      jangan paksa membuka pintu yang bukan milikmu
      bukankah setiap manusia memiliki pintu masing-masing?
      dan jangan memaksa untuk mengintip pintu yang bukan pintumu
      karena dengan demikian kamu menjadi si sok tahu, dan percayalah, kamu akan iri dengan apa yang kamu intip

      buka matamu lebar
      bersiap untuk kejutan!!
      siapkan tangan untuk tanggung jawab baru yang akan dipercayakan padamu
      siapkan kaki untuk rute yang akan kamu jalani
      siapkan air mata yang akan tumpah pada bantalmu
      siapkan senyum untuk bunga-bunga merah jambu yang akan merekah pada harimu
      siapkan saja!
      karena kamu tak pernah tahu apa yang akan terjadi

      jangan ingat apa yang sudah diambil darimu
      namun tetap syukuri apa yang tersisa bagimu
      dan nantikan yang akan disiapkan untukmu
      karena bila kamu terus mengingat yang sudah tak ada, yang sudah diambil, maka perjalanan hidupmu adalah perjalanan yang menakutkan, karena pada akhirnya semua yang ada padamu akan tiada
      tapi akan menjadi berbeda bila kamu tetap bersyukur dengan apa yang masih tersisa dan yang akan disiapkan bagimu
      pada ujung hari, kamu akan tersenyum walau telah kehilangan banyak hal
      karena kamu akhirnya akan menemui Dia yang mempunyai segalanya dalam hidupmu
      dan walaupun semua sudah tiada, ingatlah, kamu masih memiliki Yesus!

      ada apa di balik pintu?
      menyenangkan atau menakutkan
      adalah hal yang harus kamu lalui
      percaya saja!
      pintu yang disiapkan-Nya adalah masa depan yang membawamu pada kemenangan

    • tukangbakmi 10:53 am on August 31, 2010 Permalink | Reply

      Eheheheheheh….lunniey yang nantangin duluan bu guru..jewer aja kupingnya pake kuku,bu !!
      (ga panjang2 ahh..mau mandi dan buka puasa soalnya….)

    • riuw 11:52 pm on August 31, 2010 Permalink | Reply

      ebuseeett, hahahahahahaaahhahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaahhaahahahahahahahahahahahahahhahahahahahahahahahahahahahaha,

      capek ah klo comment’a ktawa doang.. Huuufff bs masuk rekor muri comen wordprees terpanjang.

    • tukangbakmi 7:03 am on September 1, 2010 Permalink | Reply

      @riuw : tuh, semua udah komen panjang2..lu aja yang belon ri…gimana ?

    • riuw 2:52 pm on September 1, 2010 Permalink | Reply

      panjaaaannngg..

      Tuh ko min, udah komen panjang2 gw dg berkata “panjang” 😀

    • richilia 11:54 am on September 8, 2010 Permalink | Reply

      Semangat sayang ^^ kamu pasti bisa jadi guru yang sangat hebat. Amin.

    • angel 3:59 pm on June 15, 2012 Permalink | Reply

      Jiah buset dah…
      Artikel’a udah bagus2 comennt’a pada mnyimpang smua, =))º°˚˚˚°ºнaĦaнaº°˚˚˚°º=))
      Ckck, ƍαќ bener nih :p
      @ tukang bakmi, kl baca tulisan mu, bgs bgt. Natural n bisa bawa perasaan orang2 yg baca’a.
      @luniccy. Cocok jd guru B.ind. Kata2 yg dpakai ƍαќ berantakan n smau2ya (kyk tukang bakmi,hehe) ttp mmperhatikan penulisan, tanda baca, n tutur kata yang baku… Anda berniat υηƭυƙ jadi guru B.ind? (*) =D ωªªκªªkaa =D (*)
      @ evnov, hmm, gaya2 tulisannya mirip2 tukang bakmi nih.. Yg ƍαќ lengkap n msh kurang, kl cm nulis dikit2 doanx.. Ehm, ehm, nge fans yah.. Hhaahaahaa 😀
      Tp over all, pembicaraannya seru kq. Mmperlihatkan hub yg akrab n solid.. Keep moving!
      (Nb: btw kq akhir2 ni sepi yah? )

  • evnov 11:06 am on August 26, 2010 Permalink | Reply  

    Ketika Tomboy… 

    part III f Ketika Tomboy…

    Ketika Tomboy pulang ke rumah Bapa…
    Dua tahun…


    “Aaaaaargggghh!!! Gue kesiangaaan!!!” Aku melompat dari tempat tidur dan menyambar handuk dari punggung kursi. Aku mandi secepat kilat dan mengunyah roti isi selai coklat sambil mengikat tali sepatu. Kunyalakan mesin motor dan bergegas berangkat ke kampus menemui Dosen pembimbing untuk mendiskusikan skripsiku. Headset terpasang dengan lagu praise and worship. Dalam hati aku berjanji akan mengganti saat teduh yang terlewat karena bangun kesiangan dengan doa malam yang lebih panjang dan mesra dari biasanya.


    Lumayan, bimbingan kali ini berjalan cukup baik. Walaupun ada revisi di sana sini, aku sudah bisa membayangkan diriku dengan toga di atas podium. Sangat menyenangkan!! Aku yakin, Desember ini aku akan menjadi Sarjana Ekonomi. Bangganya!
    Kubelokkan motorku ke komplek pemakaman. Aku menyusuri Blok E dan melewati berbagai bunga warna-warni. Pemakaman kini seperti taman bunga, kupikir bagus juga untuk syuting. Seikat mawar merah kutaruh di atas nisan yang berukir tinta berwarna emas. Matahari tepat di atas kepalaku, keringat berkerumun di leher seperti semut yang berkumpul di atas meja yang tertumpah gula. Kutaburkan potongan daun pandan di atas batu berbentuk salib. Air mineral yang ada di tas, kutuang di atas nisan sambil membelai nama yang berwarna emas, ‘Ribka Syalomita’.


    Ya, benar. Tomboy sudah pulang ke rumah Bapa. Dan ya, benar. Aku hancur. Saat itu, adalah waktu dengan rekor air mata terbanyak yang tumpah dari mataku. Dua hari dari tiga hari sebelum kepulangan Tomboy ke rumah Bapa, ia tidak mau tidur. Tomboy benar-benar tidak tidur selama dua hari. Dokter bilang hal itu sering terjadi pada pasien yang mengalami detik-detik terakhir di bumi. Mungkin saja Tomboy takut. Ketika ia menutup mata, ia takut tidak dapat membuka matanya lagi. Entah, aku tidak pernah menanyakannya pada Tomboy dan tidak pernah mau menanyakannya. Hingga malam terakhir ia tidur, ternyata ia dapat membuka matanya lagi. Kulihat senyum kecil di bibirnya. Sepertinya ia siap. Siap untuk pulang…


    Tomboy telah tiada pada minggu keempat Desember, beberapa hari setelah Natal. Cuaca saat itu sedang sangat dingin. Kami bahkan tidak dapat melalui tahun yang baru bersama. Hanya tinggal sedikit lagi tahun yang baru akan datang, namun Tomboy rupanya memang sudah harus pulang. Beberapa hari setelah itu, Mama berkali-kali pingsan. Aku sendiri mengurung diri di kamar, meninju-ninju bantal sambil menjerit tertahan, “kenapa?!! Kenapa, Tuhan?!!” Tuhan tidak langsung menjawab pertanyaanku dengan suara yang menggema di dinding kamar, suara yang membuat rumahku goyang dan api muncul berkobar di depan mataku. Tapi ia menjawabku secara perlahan-lahan. Lewat waktu, sahabat, Pendeta, keluarga, lewat lagu-lagu pujian, lewat Alkitab, Firman-Nya yang agung. Aku tahu, ia memiliki segalanya. Namun aku pura-pura tidak tahu, bahwa Ia juga memiliki hidup keluargaku. Aku sangat kecewa. Apa salah Tomboy? Apa salahku? Bukankah sangat mudah bagi-Nya untuk menyembuhkan sakit seseorang? Orang yang sakit kusta, yang lumpuh, yang kemasukan setan, yang buta, bahkan yang mati dapat dibangkitkan-Nya. Apakah itu cuma sekedar dongeng dari sebuah buku berjudul Alkitab? Mengapa harus Tomboy? Mengapa bukannya seseorang yang sangat jahat, yang bebal, yang bahkan tidak pernah menyebut nama-Nya?


    Segunung pertanyaan berdesing dalam kepalaku. Aku menolak untuk dihibur, aku menolak semua kata-kata manis. Aku bahkan tidak mau mendengar kata-kata terakhir yang ditinggalkan Tomboy padaku dalam sebuah surat berwarna biru muda. Tidak pula dengan perbincangan (yang lebih tepat disebut pertengkaran) antara aku dengan Michael, dua bulan setelah Tomboy berpulang.


    “Apa kabar, Ndrew?” Michael memulai pembicaraan. Kami duduk berdampingan di teras rumahku. Jarak kami hanya dipisahkan oleh meja teras.
    “Biasa aja.” Aku menjawab singkat.
    “Sibuk apa sekarang?” Michael mulai bertanya lagi.
    “Gini-gini aja”. Aku menjawab sekenanya. Tidak berniat sama sekali untuk bertanya macam-macam pada Michael. Aku cuma ingin ia cepat-cepat pergi.
    “Om sama Tante, apa kabar?” Tanyanya lagi.
    “Baik. Semua sehat, cukup makan, ga kurang gizi. So, ada perlu apa?” Aku benar-benar ingin menyelesaikan pembicaraan ini.
    Michael diam sejenak, lalu berkata, “lu kemana aja, Ndrew? Kok ga komsel lagi?”
    “Ga kemana-mana.”
    “Terus, kenapa ga komsel?”
    “Ga kenapa-kenapa.”
    “Ndrew…”
    “Gue ga kenapa-kenapa! Jangan sok peduli!” Tanpa sadar, aku mulai membentak.
    “Bukan sok. Gue bener-bener peduli. Anak-anak komsel peduli sama lu.”
    Aku hanya tersenyum sinis.
    “Ribka udah tenang bersama Bapa. Ikhlaskanlah…” Michael melanjutkan kata-katanya dengan tenang. Benar-benar terdengar tulus.
    “Ga bisa. Selamanya gue ga ikhlas!” Aku kembali membentak.
    “Ndrew… Ribka udah…”
    Aku memotong cepat kata-katanya. Sambil berdiri aku berkata dengan marah, “lu semua ga ngerti. Ga ada yang ngerti! Bahkan Penguasa Alam Semesta pun enggak!!”
    Michael juga berdiri dan mukanya sedikit memerah. Ia berkata lagi, “lu bilang gitu karna lu nutup hati lu. Yesus tuh sayang dengan…”
    “Aaah!!” Aku kembali memotong kata-katanya. “Lu tau? Cuma Tomboy satu-satunya yang bikin gue betah di rumah. Cuma dia yang bikin gue seneng. Dan cuma dia satu-satunya ade gue!! Kenapa Tuhan masih ngambil yang jadi satu-satunya buat gue?”
    “Lu udah buta! Lu diperdaya, tau?!” Aku melanjutkan, “Kalo Yesus sayang sama gue, keluarga gue, sama Tomboy, kenapa Dia harus ambil Tomboy?”
    “Mungkin gue buta.” Michael berkata dengan emosi yang tertahan. Ia melanjutkan, “Tapi bahkan gue yang buta masih bisa melihat kebaikan Yesus yang luar biasa buat keluarga lu.”
    Aku diam. Napasku tak beraturan. Aku seperti pelari yang kelelahan setelah berlari begitu jauh. Aku tidak dapat mengatakan perasaanku dengan siapa pun. Yang selalu kulakukan hanya berteriak kecewa di dalam hati, dengan pintu kamar yang terkunci.
    “Kalo Ribka ada di sini, dia pasti nangis ngeliat lu. Thx God, Ribka udah tenang bersama Bapa. Gue ga bisa ngeliat dia dengan hati yang hancur, karna lu, abangnya yang tersayang, melupakan Tuhan yang membuat Ribka berubah sampai napas terakhirnya. Tuhan yang membuat Ribka menemukan arti hidup yang sebenarnya.” Michael segera pergi dan menyalakan mesin motornya. Hatiku kembali nyeri.


    Aku tetap bertahan dengan kekecewaan dan amarahku. Namun aku tidak tahan untuk terus cemberut dan mengutuk setiap hal yang ada di sekelilingku. Aku mulai tersenyum, tertawa, walaupun sebelumnya aku tidak pernah berpikir dapat tertawa lagi. Bumi tetap berputar pada porosnya, matahari masih terbit di timur dan tenggelam di seberangnya. Masih ada semilir angin, masih ada gerimis yang memberi teduh di sore hari. Tak dapat dipungkiri, semua hal indah masih terus ada walau aku harus mengalami kehilangan yang sangat perih. Hari-hari berlalu dan Tuhan bukan hanya menunjukkan kasih-Nya dengan cara yang luar biasa, tapi juga melalui hal yang sederhana. Ia bukan hanya memberikan orang-orang terbaik dalam hidupku, namun Ia juga membentukku menjadi pribadi yang baik bagi orang-orang di sekitarku. Sahabat-sahabatku di komsel selalu menghiburku dan keluargaku. Kata-kata Michael yang saat itu terasa pahit, kini menjadi kata-kata yang sangat membangun. Aku mulai merasakan kembali cinta mula-mula pada Yesus.


    Memang, saat itu aku tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan. Namun, saat ini aku mengalami langsung kemuliaan-Nya yang Ia nyatakan dalam keluargaku. Ingat komitmenku untuk melayani-Nya bila Tomboy sembuh? Aku pernah membuang komitmen itu jauh dari hidupku. Karena toh, aku kan berjanji dengan syarat Tomboy harus sembuh. Seperti biasa, Tuhan tidak pernah tingal diam. Ia tidak ingin kehilanganku, lagi! Ia menangkapku!


    Tahun pertama setelah Tomboy tiada, menjadi hari-hari yang berat dalam hidupku. Aku tetap dibimbing oleh kakak rohani dan mengikuti ibadah dengan hati yang baru. Dua bulan ini aku mulai melayani sebagai pemain musik di komsel dan Ibadah pemuda. Aku akan menjadi sarjana, dan sudah satu bulan ini aku dan Via sedang mendoakan hubungan kami untuk menjadi sepasang kekasih. Tomboy memang sudah tiada, namun ia tetap hidup di hatiku. Aku tidak lagi mengenangnya dengan sedih dan kecewa, namun aku mengenangnya dengan senyum dan ucapan syukur. Aku bersungguh-sungguh.


    Tidak perlu lagi aku bertanya-tanya, “kenapa?” Yang harus kutanyakan adalah, “untuk apa?” Ya, untuk apa Tuhan merancangkan ini dalam hidupku? Firman-Nya yang selalu kupercaya, bahwa semuanya untuk mendatangkan kebaikan. Bila aku punya waktu untuk mempertanyakan kebesaran dan rancangan Tuhan sang pemilik alam semesta dengan pertanyaan yang memusingkan, mengapa aku tidak punya waktu untuk mengenal Dia lebih dekat? Untuk melayani Dia lebih sungguh lagi? Karena hidup Tomboy, hidupku dan keluargaku adalah milik-Nya, mengapa harus marah bila Ia ingin Tomboy lebih dulu pulang kepada-Nya?


    Aku tidak akan lupa. Ketika Tomboy berubah, adalah awal yang juga menjadi perubahanku. Tomboy mengenalkanku pada kebaikan Yesus, ia mengajakku ke komsel dan aku sangat bersyukur karenanya. Perubahannya adalah salah satu keajaiban dunia yang kuteguhkan dalam hatiku, dan perubahanku adalah keajaiban pula yang terjadi karena keajaiban sebelumnya. Yesus yang membuat keajaiban itu, tak berhenti membuat keajaiban lainnya saat itu datang… Ya, ketika Tomboy sakit. Berjuta rasa menusuk-nusuk hari-hari kami. Dengan doa yang tak putusnya, dan harapan yang tiada lelahnya kami naikkan. Yesus tetap menjaga kami. Dan tiba juga, ketika Tomboy berpulang ke rumah Bapa. Ah, inilah masa yang paling menyedihkan. Namun di sinilah aku benar-benar melihat kebaikan Tuhan. Sepertinya Ia mengambil yang menjadi satu-satunya dalam hidupku, tanpa sebelumnya kusadari, yang benar-benar menjadi satu-satunya dalam hidupku hanyalah Yesus. Ketika Tomboy menjadi adikku, hidupku sangat menyenangkan. Sekarang pun aku tetap merasa senang, karena untuk selamanya, Tomboy tetap adikku.
    “Tunggu. Tunggu bentar, Boy. Disini gue lagi berdoa dan berusaha keras supaya keluarga kita bener-bener mengenal Yesus. Seperti Yesus yang ngubahin lu, Yesus yang ngubahin gue, Yesus juga yang pasti ngubahin keluarga kita.”


    Dua kata terakhir yang aku bisikkan pada telinga Tomboy saat ia akan pulang ke rumah Bapa. Aku yakin Tomboy dengar, karena ia tersenyum setelah dua kata ini kuucapkan, “makasih, adikku.”


    Epilog:

    Dear: Abang Andrew Syalomino. Si Oncom sejati.

    Apa skarang udah tahun baru? Maaf, kalo gue ga bisa bertahan sampe kembang api tahun baru. Kalo gue bisa bertahan, maaf juga karna lu gak bisa ngeliat kembang api karna nemenin gue.
    Bang, jangan marah kalo seandainya gue pulang duluan ke rumah Bapa. Jangan iri yaa!! Haha… Bila saatnya gue pergi, gue gak pergi dengan nyesel karna gue akhirnya bisa bener-bener bersyukur karna punya keluarga seperti kalian, karna gue punya punya elu, bang.
    Apa lu masih bertanya-tanya kenapa gue yang jago silat ini bisa pake rok? Bukan, ini bukan karna Bang Michael. Ini karna Yesus. Sebelumya, gue belajar silat, gue panjat tebing, loncat-loncat maen basket, itu semua karena gue gak betah di rumah. Gue pengen bebas, gue pengen dihargai. Mama sama Papa berantem terus, gue gak pernah dipuji sebagai anak yang nyenengin mereka. Mau tau bang? Gue gak pernah suka silat, gue gak suka panas-panasan manjat tebing, gue gak suka rantai-rantai di pinggang celana gue, gue gak suka semua itu! Tapi gue harus jadi seseorang yang gak gue suka supaya gue dihargai orang lain, supaya gue merasa diterima. Tapi sejak gue kenal Yesus, gue gak perlu lagi jadi orang lain. Gue bisa pakai baju yang gue suka, gue bisa menikmati hari-hari gue dalam persekutuan. Kenyataannya, Yesus cinta sama gue, dan itu lebih dari cukup. Cuma Yesus satu-satunya yang bisa bikin gue jadi perempuan yang seutuhnya ^^
    Doakan keluarga kita ya bang, supaya bisa bener-bener menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Lu harus janji, lu harus jadi sarjana. Banyak doa, tobat kau, sebentar lagi akhir zaman. Titip salam buat Bang Michael, si ganteng itu. Hehe… Thx for all, bang ^^.

    Always love you, abangku.

    Tomboy

     
    • riuw 5:52 am on August 29, 2010 Permalink | Reply

      waah ad lg trnyata lanjutan’a ..
      Its cool ev.. ;p

    • lunniey 6:09 am on August 30, 2010 Permalink | Reply

      Hiks2 T.T tetep sedih lanjutannya… Tapi mungkin lebih tepatnya terharuuuu :’)
      Cerbung yang sangat menyentuh hati ^^

    • evnov 10:44 am on August 31, 2010 Permalink | Reply

      heheheu, thx yaa tmn2 😀

      sebenernya mah ini msh byk kurangnya, abisnya setting’a kurang kreatif (cuma seputar kamar RS, komsel, rumah, sekolah)waktunya juga krg jelas.. harusnya bisa detail ttg biaya RS, mobil merk apa yg dipake, dsb 😛 tokohnya juga krg konflik, heheu

      tapi, cukup puas untuk cerbung pertama ^^
      terima kasih wahai pembaca setia, huahahahahaha!!!

    • ksw 6:38 am on September 26, 2010 Permalink | Reply

      waahhhh… great banget deh nii cerbung.. menyetuh kalbu dan tulang-tulang belakang gw,,hahhhahaha…. idenya mengalir luar biasa, dan pesannya topp banget dah… bahkan membuat saya yang seorang pria tulen ini terharu (tapi ga sampai menitikan aer mata lho), hahahhahha…. ternyata sang penulis berhasil mengatasi patriarki, “yang menindas feminis”…

      great banget deh,pokoknya… ttp berkarya, menginspirasi dan slalu terbuka akn msukan n kritikan…

      dan yang trakhir pesan yang slalu akan saya gaungkan : ” being simple to see how powerfull God” hehehhhe…

  • evnov 8:32 am on July 30, 2010 Permalink | Reply  

    Ketika Tomboy… 

    Part II of Ketika Tomboy…

    Ketika Tomboy sakit…

    “Tomboy sakit kanker.” Mama menangis histeris saat mengatakan tiga kata itu di depan kamar Tomboy di RSCM. Aku bengong, tidak bisa menyerap dengan sempurna tiga kata singkat itu. Sampai kurasakan lututku lemas dan tidak dapat menahan bobotku hingga aku terjongkok. Dan kurasakan air mata hangat mengalir membasahi kerah kemejaku.

    Memang sudah sebulan ini Tomboy terlihat pucat. Ia tidak nafsu makan dan terlihat sakit. Kami pikir Tomboy hanya pilek, ia memang mudah terserang pilek. Dua minggu yang lalu Tomboy mimisan, kami pikir ini hal biasa karena toh ia sering juga mimisan. Beberapa hari setelahnya, Tomboy mimisan lagi dan lagi, darah mengucur bagai air kran wastafel. Muncul bintik-bintik merah pada tangannya dan ia demam tinggi. Kami membawanya ke dokter keluarga, namun tiba-tiba saja Tomboy dirujuk ke RSCM dan menjalani serangakaian tes darah dan sebagainya sampai berita ini sampai ke telinga kami.

    Mama, Papa, dan aku duduk di ruangan dr.Martin, mendengar sang dokter memaparkan hasil tes. Tomboy mengidap kanker darah yang juga dikenal sebagai leukimia. Kanker ini menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang. Normalnya, tubuh manusia akan memberikan tanda secara teratur tentang waktunya sel darah direproduksi kembali. Pada leukimia, sel darah putih tidak merespon tanda itu, sehingga produksi sel darah putih tidak terkontrol atau abnormal. Dokter masih menjelaskan panjang lebar tentang leukimia, baik dugaan penyebab penyakit seperti radiasi, herediter, beberapa nama virus yang sulit kutangkap, juga langkah pengobatan dengan chemotherapy, transplantasi sumsum tulang, tranfusi darah dan sebagainya. Aku berusaha mendengarkan setiap kata dari dokter, namun yang jelas ku dengar hanyalah isak tangis Mama dan desahan napas Papa. Kepalaku tertunduk, lututku gemetar. Kurasakan keringat membanjiri tengkukku di ruangan ber-AC ini. Aku coba untuk tetap mendengar dokter, dan aku menyesal telah berusaha sekuat tenaga mendengar bahwa kemungkinan Tomboy mengidap leukemia akut yang ditandai dengan perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk. Aku merasa pusing. Kursiku seperti bergoyang dan aku ingin muntah. Kudekap dadaku erat, berusaha menenangkan jantung yang seperti ingin melompat keluar dari tubuhku. Pandanganku kabur, dan air mataku mengalir lagi.

    Aku duduk menghadap Tomboy. Kulihat garis nyata berupa tulang yang menonjol pada pipi dan rahangnya. Lalu matanya terbuka.

    “Udah bangun, Boy? Ih, elap tuh iler lu”. Kataku sembari mengernyitkan hidung. Tomboy mengusap ujung bibirnya sambil nyegir lebar.

    “Gue udah tau bang. Gue paksa Papa cerita”. Kami terdiam, cukup lama hingga suara, “tik… Tik… Tik…” dari jam dinding terdengar begitu nyaring.

    “Bang.”

    “Ya?” Aku menjawab pelan.

    Lama kami kembali terdiam sampai Tomboy berkata, “gue takut… gue takut bang.” Suara Tomboy begitu pelan hingga terdengar seperti desahan. Kulihat airmatanya turun membasahi punggung tangannya. Aku mendekat dan kuangkat kedua tanganku untuk memeluknya, suatu hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Kurasakan tubuhnya bergetar, airmatanya membasahi pundakku. Tubuhnya begitu kecil, aku seperti memeluk rangka manusia. Kubelai rambutnya, dan kuhirup aroma shampoo lidah buaya favoritnya.

    “Gue takuut… Gue… Gue… Takut bang…” Isakan tomboy semakin keras, aku memeluknya kian erat. Tak ada kata yang keluar dari mulut kami, hanya air mata yang menganak sungai.

    ***

    Aku duduk di tempat tidur Tomboy. Kuambil bantal guling butut yang sudah dipakainya sejak kelas dua SD. Kuraih foto berbingkai hitam di atas rak, foto setelah kami bermain basket di Senayan. Aaah… Rumah sepi sekali tanpa Tomboy. Sudah sebulan sejak ia masuk rumah sakit. Tomboy yang cerewet, yang berlari kian kemari di dalam dan luar rumah persis seperti kancil di cerita anak-anak, Tomboy yang bersabuk hitam, kini tertidur di kamar rumah sakit dengan pakaian tidur bergaris biru. Kupeluk bantal guling Tomboy, dan kuucapkan doa yang selalu kuutarakan, pagi, siang, sore, malam, di mobil, di kamar, di kampus, bahkan di meja makan.

    “Tuhan, aku janji enggak bakal berantem sama Tomboy lagi, aku bakal selesein kuliahku yang udah kegantung dua tahun, aku udah mutusin Chika dan Meyla dan janji gak bakal selingkuh lagi, aku udah bakar semua majalah dan dvd porno yang aku punya. Aku juga bakal melayani-Mu, jadi pemain musik di gereja, di komsel, aku bakal sering amal ke panti asuhan. So, please God, please, tolong sembuhin Tomboy. Kau harapanku satu-satunya. Thx God, dalam nama Yesus, amin.”

    ***

    “Hai Ribka. Gimana, udah baikan?” Michael muncul di pintu.

    “Ha… Hai bang!! Wah, tum.. Tumben dateng sendiri. Masuk, bang.” Tomboy segera duduk tegak di atas tempat tidurnya. Tangannya menyisir poninya yang berantakan. Matanya mendelik padaku dengan tatapan “kok-gak-bilang-bang-Michael-mau-dateng!!” Aku tersenyum geli.

    Aku pamit keluar untuk menebus obat. Tomboy menyatukan kedua telapak tangannya sebagai simbol terima kasih karena aku membiarkan mereka mengobrol di kamar tanpaku. Sekilas aku melihat mata Tomboy berkaca-kaca saat Michael menaruh seikat bunga mawar merah di dalam vas berisi air. Bunga mawar merah yang kuberikan pada Michael, yang susah payah kurayu agar mau menjenguk Tomboy tanpa teman-teman komsel. Aku tahu ini salah. Tapi apapun akan kulakukan untuk membuat Tomboy senang. Apapun itu…

    Tiga minggu setelah Tomboy pulang dari Singapura, kesehatan Tomboy tak juga membaik. Ia kerap kali muntah darah. Chemotherapy yang dijalaninya serasa tak membantu. Setiap kali ia muntah darah, jantungku selalu ingin melompat keluar. Kerongkonganku serasa basah oleh darah. Suatu kali saat Mama mengambil kelopak mawar di rambut Tomboy, kelopak itu terambil bersama segenggam penuh rambut Tomboy. Itulah sebabnya Tomboy memakai topi.

    Di waktu yang lain, gantungan handphone-ku menggelinding ke bawah tempat tidurnya. Dan disana aku menemukan beberapa butir obat.

    “Apaan nih?” Kataku sambil menunjukkan beberapa obat di genggamanku ke depan hidung Tomboy. Ia hanya tertunduk.

    “Jawab.” Kataku dengan nada menahan marah. Tomboy tetap diam. Ia juga mulai ketakutan.

    “JAWAAAAB!!! Aku membentak sambil melempar obat dalam genggamanku ke lantai. Tomboy mulai terisak dan meringkuk di atas tempat tidurnya. Aku membanting tempat minum plastik dengan erangan yang tertahan dalam kerongkongan, hingga aku terdengar seperti anjing yang ekornya terjepit, erangan marah sekaligus menyakitkan.

    “Gampang banget lu ya buang-buang obat!! Lu ga tau nih obat mahal?!! Bukan-bukan ini yang mau aku katakan.

    “Susah-susah Papa masukin lu ke rumah sakit, ga tau terima kasih!!” Tidak. Bukan. Tidak kata-kata ini yang ingin aku katakan. Sementara itu Tomboy terisak semakin keras.

    “Gue… Gu…Gue…” Aku berkata sambil menarik napas tertahan.

    “GUE GA PENGEN LU MATIII!!!!” Ya, inilah yang ingin sekali aku katakan.

    Aku segera keluar kamar dan jongkok di depan pintu kamarnya. Dapat kudengar jelas tangisan Tomboy. Tangis yang tidak ingin aku dengar, yang membelah hatiku menjadi sayatan-sayatan kecil. Aku tak peduli dengan orang yang lalu-lalang. Aku sama sekali tak peduli bahkan ketika air mataku jatuh, lagi dan lagi.

    Aku bisa terima, saat belalang tempurku harus dijual dan kini aku memakai motor. Aku juga terima, ketika Papa cerita tentang biaya yang sangat besar untuk pengobatan Tomboy. Aku tahan dengan Mama yang selalu menangis di depan mataku. Namun yang tidak bisa kuterima adalah Tomboy yang terbaring sakit. Yang seringkali kudapati menangis diam-diam di atas tempat tidurnya. Tomboy yang minum berpuluh-puluh tablet obat setiap hari. Semuanya terasa sangat menggangu sekaligus menyakitkan. Semuanya tidak masuk akal, ini terasa tidak benar.

    Di kamarku, aku duduk dengan Alkitab yang tertutup di pangkuanku. Tak ada ayat yang terbaca malam ini. Aku memejamkan mataku dan mulai mengadu, “Tuhan, aku ga pernah semerana ini. Saat aku bangun, aku takut hari ini akan berjalan tanpa Tomboy. Aku takut nerima telepon dari Mama dan Papa untuk kabar yang selamanya ga ingin aku denger. Tidurku ga nyenyak, makan apapun ga terasa enak. Rasanya aku bakal mati duluan dibanding Tomboy karena ketakutanku. Aku rela, rela Tuhan… Menukar hidupku untuk hidup Tomboy. Kau satu-satunya harapan kami. Tolong, jangan Tuhan, jangan biarkan Tomboy menutup mata sebelum mataku tertutup. Kumohon… Kumohon…”

    ***

    Kami duduk menempel di atas tempat tidur dengan kitab Mazmur yang terbuka di pangkuanku. Seperti yang seringkali kami lakukan, bersamaan kami membaca Mazmur favorit kami,

    Mazmur 46:2-4

    Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.

    “Bang, kalo udah sembuh, gue mau ke Yerusalem.” Tomboy memulai pembicaraan. Cengirannya lebar dan jahil. Aku mengacak rambutnya perlahan.

    “Iya, nanti kita juga poto-poto ke Betlehem, terus kita juga main air di sungai Yordan, ngerujak di Kanaan. Makanya lu cepetan sembuh.”

    Tomboy mengangguk pelan. Kurasakan semangat yang meluap dari hatinya menular ke hatiku. Kurasa, Tomboy akan segera sembuh. Terngiang kembali Mazmur favorit kami, “Allah itu tempat perlindungan dan kekuatan, penolong dalam kesesakan. Sebab itu kita tidak akan takut…” Ya, kita tidak perlu takut.

    ***

    Tangan kami saling menggenggam. Papa memimpin doa pagi kami, yang dimulai dengan lagu, ‘selamat pagi, Bapa’ dan tetap dengan pokok doa, yakni kesembuhan Tomboy. Doa pagi bersama rutin kami lakukan semenjak Tomboy masuk RS. Semenjak itu pula, Banyak sekali yang ikut mendoakan keluarga kami dan Tomboy. Para Pendeta dari gereja Papa maupun dari gereja aku dan Tomboy (Papa dan kami sudah berbeda gereja), juga pemuda-remaja sering datang untuk mendoakan, menyemangati, dan menghibur kami. Bagus juga aku dan Papa berbeda gereja, makin banyak yang datang berdoa, makin baik kan? Sudah begini banyak yang berdoa, enggak mungkin Tuhan tak mendengar. Ia pasti mengabulkan doa kami, Tomboy akan sembuh.

    Aku dan Tomboy duduk di dekat jendela kamarnya di lantai atas. Aku menatapnya dengan senyum simpul. Dagunya tegas dan lancip, matanya bulat dengan bola mata hitam yang polos dan selalu ingin tahu. Kantong hitam besar dan tebal menggantung di bawah kelopak matanya. Tulang pipinya semakin menonjol, membentuk garis yang semakin hari semakin nyata. Kepalanya tak berambut. Kulit yang mati mengering di bibir kecilnya. Lalu Tomboy menangkap tatapanku dan mulai mengajukan pertanyaan.

    “Kenapa ngeliatin gue? Gue cantik banget ya? Hahaha…” Katanya lemah dengan tawa yang pelan.

    Aku menjulurkan lidah dan mengeluarkan suara seperti orang muntah. Tomboy kembali tertawa.

    “Iya, lu cantik.” Kataku bersungguh-sungguh. Tomboy membelalak tak percaya. Aku melanjutkan, “kalo diliat dari Monas pake sedotan Aqua.” Tomboy cemberut.

    “Woooo… Ngambek nii yee.”  Aku berusaha menggodanya. Bibir Tomboy bertambah manyun.

    Aku menyentuh dagu tomboy. Kubelai lembut pipinya dengan punggung tanganku. Kucubit pelan hidung mancungnya. Matanya menatap mataku. Aku tersenyum tulus.

    “Lu adalah wanita tercantik di seluruh dunia, yang pernah gue liat sumur idup gue.” Kata-kata itu meluncur mulus dari bibirku. Tomboy kembali membelalak tak percaya. Ia menunggu, kalau-kalau itu hanya gurauanku. Tapi aku tidak berkata apa-apa lagi. Tomboy menunduk.

    “Lebih cantik dari Via?” Tanyanya.

    “Iya lah. Lebih cantik juga dari Angelina Jolie, Dewi Persik, Mpok Nori, dari semua-semuanya deh.” Aku berkata dengan sangat yakin. Tomboy tertawa senang. Aku tidak bergurau. Tomboy adalah wanita tercantik di seluruh dunia, yang pernah kulihat seumur hidupku. Bahkan dengan tulang yang menonjol, kantung mata hitam yang menggantung, kepala tanpa rambut, kulit mati di bibirnya, dan penyakit yang menggerogoti tubuh dan hatinya, ia tetap wanita yang tercantik di seluruh dunia, dalam hidup dan hatiku.

    Selanjutnya kami sibuk melipat-lipat kertas berwarna biru muda, warna yang kini menjadi kesukaan Tomboy semenjak Michael datang membawakan topi biru muda. Angin sepoi-sepoi menyapu wajah kami dengan lembut. Setelah kami selesai membuat pesawat kertas, kami menerbangkannya ke luar jendela. Pesawat kertas itu jatuh menukik ke kepala dokter yang botak. Dokter itu berputar-putar mencari penerbang pesawat sambil memaki-maki. Kami bersembunyi di bawah jendela sambil tertawa histeris. Di dalam pesawat kertas, kami menulis doa dan harapan terbesar kami, “Tomboy and Oncom goes to Jerusalem.”

    ***

    Gerimis turun membasahi rumput hijau yang segar, yang terpotong dengan sangat rapi. Wangi bunga mawar dan potongan daun pandan bercampur dengan aroma tanah basah yang menyeruak ke tiap hidung para pengunjung makam. Matahari sore tidak nampak karena awan yang muram. Para wanita dan pria berbaju hitam menangis terisak. Peti diturunkan, mawar ditabur, daun pandan di tebar, air mata mengalir. Lagu puji-pujian di naikkan dengan sedih. Aku duduk di bawah pohon beringin, jauh dari kerumunan. Melipat kertas biru muda menjadi pesawat kertas…

     
    • lunniey 10:34 am on August 9, 2010 Permalink | Reply

      T.T huhuhu kok sedih jadinya ceritanya.. nih masih bersambung kaga @.@ masih panjang pan???

    • riuw 4:48 am on August 10, 2010 Permalink | Reply

      iyah, sediihh.. :’)

      msh brsambung yah??

    • evnov 4:36 am on August 12, 2010 Permalink | Reply

      udah gini aja ceritanya p.p
      chehehehe

    • lunniey 5:23 am on August 25, 2010 Permalink | Reply

      Aaaaaaaah sambungannya !!! T.T hiks2 masa ini 18 lembar sih??? gak nyampe ah kayanya >,<
      hayuu bikin lagi season berikutnya!!

    • evnov 10:44 am on August 26, 2010 Permalink | Reply

      dari awal juga udah jadi ini cerita, tinggal posting 😀

      chahahaha

  • evnov 7:18 am on July 19, 2010 Permalink | Reply  

    Ketika Tomboy… 

    Kata pengantar: Ini cerbung (cerita bersambung) pertama saya *terharu*. Sebelum saya ajukan ke penerbit dengan harga 50 juta, saya publish dulu di mari 😀

    Ketika Tomboy berubah…

    “Gue sumpahin lu jadi botaaaaaaak!!!”

    Biasanya teriakan itulah yang menggema tiap hari di rumah berlantai dua ini, teriakan si Ribka Syalomita yang adalah adik perempuanku satu-satunya. Perempuan? Di KTP sih tertulis begitu, tapi aslinya… Pria banget!! Ksatria, perkasa! Makanya aku enggak pernah manggil dia Ribka, mulut jadi asin kalau manggil dia pakai nama perempuan. Jadi aku panggil dia Ribko Santoso, tapi karena kepanjangan, aku panggil dia Tomboy.

    Selain rambutnya yang bondol kaya Afgan, Tomboy juga jago silat. Pemegang sabuk hitam sejak pertengahan kelas dua SMA. Jalannya petantang-petenteng, mirip preman di sinetron. Rok yang tomboy punya cuma rok sekolah, sisanya celana. Mau ke gereja juga pakai celana, untungnya masih celana bahan. Dengan tinggi 157 cm dan berat 45 kg, Tomboy termasuk mungil. Waktu masih kecil, kulit Tomboy bersih bersinar, sekarang sudah menghitam karena suka panjat tebing. Matanya besar dan bola matanya hitam, memang cocok buat Tomboy yang selalu penasaran sama urusan orang lain. Kulit mukanya bersih licin, selicin singa laut.

    Tapi tiga bulan ini lebih sering harga minyak goreng naik turun dibanding munculnya teriakan si Tomboy. Aku memang enggak terlalu ‘ngeh’ dengan hal apa saja yang terjadi di rumah. Suatu kali aku lagi cuci motor dan minta mbak Nur nyalain kran air. Aku kaget setengah napas karena yang muncul bukan mbak Nur, tapi lelaki berjambul dengan kumis ala “Si Doel Anak Sekolahan”. Hampir saja kepalanya benjol karena emberku, untunglah Mama cepat muncul dan mengabarkan bahwa pria berkumis itu adalah pembantu baru kami, sejak tiga hari lalu!! Dueeeeenk!!

    Mungkin aku cuek, tapi perubahan Tomboy adalah hal yang sangat menarik perhatian. Istilahnya, seperti seorang nenek pakai baju jogging warna pink, celana ketat warna hijau, sekaligus pakai high heels di depan pintu mall. Mencolok banget gitu loh!

    Misalnya kemarin pagi. Aku serasa mendapat serangan jantung. “Beneran nih lagunya Hillsong?” Pikirku waktu mendengar ‘King of Majesty’ dari kamar si Tomboy. Walau aku buta dengan lagu-lagu rohani, tapi kalau Hillsong ya tahu sedikitlah.

    “Lu demam yak?” Punggung tanganku menutupi dahi Tomboy, mengecek apakah dia sedang pilek atau terkena demam kemarau.

    “Ih oncom, apaan sih lu ah!” Tomboy menepis tanganku.

    “Lagu dari mana tuh?”

    “Dari Sarah. Enak kan? Gue suka banget deh sama lagu-lagunya Hillsong. Lagu-lagunya TW juga enak. Terus…”

    “Lu sakit, Boy?” Potongku cepat.

    Tomboy pun berlalu sambil nyengir lebar.

    Kejanggalan kembali terjadi sore ini. Yang ini benar-benar bikin serangan jantung. Tomboy masuk ke kamarku untuk mengambil haedset yang kupinjam. Begini urutan kejadiannya: Kejanggalan pertama, “tok…Tok… Tok”, Tomboy mengetuk pintu kamarku, padahal biasanya, “kreeet… Gubrak”, masuk tiba-tiba persis anggota SWAT di film action. Kejanggalan kedua, “bang, headset gue mana?” Dan aku mendarat mulus dari tempat tidurku menuju lantai yang dingin.

    “Lu manggil sapa, Boy?” Kataku sambil menengok kanan kiri. Siapa tahu ada orang lain di kamarku.

    “Hahaha… Ya elu lah. Headset gue mana?”

    “Di… Di… Di atas meja”, aku gagap.

    “Oke bang”. Dan Tomboy pun kembali nyengir seraya menutup pintu pelan.

    “Abaaaaaang?!!” Aku histeris di dalam kamar. Oncom adalah penggilannya kepadaku, karena aku suka pepes oncom. Dan Tomboy tahu dengan pasti aku kesal dengan julukan itu. Ya iyalah, masa muka ganteng nan cool ini dipanggil oncom?! Tapi, abang? Nooo!! Delapan belas tahun Tomboy menjadi adikku (yang aku akui di depan semua orang bahwa Tomboy adalah anak tetanggaku), baru kali ini manggil aku abang, pake senyum pula! Alamak!

    Umurku memang 22 tahun, tapi menghabiskan hari-hari bersama Tomboy tak pernah ada bosannya. Berantem sih iya, justru itu yang bikin rumah jadi enggak membosankan. Selain berantem aku sering menonton film, main ke dufan, panjat tebing, camping di gunung, dan main monopoli sama Tomboy. Tapi sekarang sudah enggak pernah! Rasa penasaran ini tak terbendung lagi. Aku pun menjadi detektif dan mulai menelusuri misteri ini…

    Tuut… Tuut…

    “Halo?”

    “Wooi, Na. Si Tomboy kemana? Kok belum pulang?” Seruku pada Rina, teman dekat tomboy.

    “Ga tau, kak, bubar kelas kita langsung pisah. Lu telepon ajalah”

    “Ogah! Kok lu ga pernah bareng Tomboy lagi?

    “Lu tanya aja sendiri sama dia. Mulai sombong tuh anak punya temen-temen baru”. Rina menjawab ketus.

    “Oh, okelah. Tengkiu yak”.

    Telepon putus. Aneh… Rina aja enggak tahu dimana Tomboy berada. Nelepon Tomboy? Sorry layaw! Nanti kedokku sebagai detektif terbongkar, enggak seruuu! Tapi minimal sudah ada dua fakta: satu, Tomboy punya teman-teman baru. Dan dua, suara si Rina di telepon cempreng banget.

    Aku pun melanjutkan penyelidikan. Aku ambil handphone dan mulai memijit nomor telepon Via, cewe berambut panjang yang sering bolak-balik ke kamar Tomboy belakangan ini.

    Tuut… Tuut…

    “Halo?”

    “Ni gue, Andrew. Ada tomboy ga?”

    “Oh, ada kak. Ni kita abis ibadah Jumat di sekolah. Mau ngomong langsung sama Ribka?”

    “Ibadah?!” Melon yang sedang kukunyah hampir nyangkut di tenggorokan. “Ga usah, jangan bilang gue nelepon yak. Betewe, gue mo nanya Vi…”. Perbincangan pun berlanjut hingga setengah jam berikutnya…

    Tahulah aku bahwa Tomboy mulai ikutan ibadah jumat di SMA-nya sejak enam bulan lalu, tepatnya waktu ia naik kelas tiga. Dan sejak ia ikut retreat tiga bulan lalu, itulah awal mula aku merasakan keanehan pada Tomboy. Tiga bulan ini tiap malam minggu Tomboy selalu ngeloyor pergi, dan baru aku tahu dari Via, bahwa ia pergi ke komsel barunya, komsel dari gereja Via. Minggu kemarin ketika kami sekeluarga mau berangkat ke gereja, Tomboy pakai rok warna hitam dengan kemeja hitam. Mata kami sekeluarga hampir melompat persis kodok di kali. Walaupun gaya pakaiannya kaya mau melayat ke rumah duka, tapi rok?! Tomboy pakai rok walaupun masih bergaya gothic. Enggak ada lagi levi’s butut robek-robek atau kaus oblong kalau Tomboy keluar rumah. Ia tetap memakai jeans dan kaus, tapi yang enggak ada robeknya. Enggak ada lagi gelang dan kalung berantai berduri yang memang norak, tapi keren menurut Tomboy. Itu semua dimuseumkan. Waw!

    ***

    “Cabut yu”, ajakku pada Tomboy yang sedang duduk di kursi goyang sambil membaca buku bersampul biru muda.

    “Kemana?” jawab tomboy tanpa mengalihkan matanya dari huruf-huruf di buku itu.

    “Ke mana kek! Ke Ancol, ke Monas, ke warung makan padang, terserah lu lah”

    “Nanti ya bang, abis gue baca buku ini”, Tomboy menjawab santai.

    “Ah elah, baca apaan sih lu? ‘Tuhan Datang Mendekat’, Max Lucado. Ajigileee, tobat lu ye? Bacaannya berat cuy”. Kataku sambil menjitak kepala Tomboy.

    “Ah, sakit oncom.” Jawab Tomboy dengan ketus.

    “Beh, kalo dijitak lu manggil gw oncom lagi. Sini gue jitakin supaya lu waras lagi.” Kataku sambil menjitaki kepala Tomboy.

    “Aaaah! Iya iya, kita jalan. Tapi lu ikut gue dulu ya.”

    “Kemana?” Tanyaku heran.

    “Ke komsel.”

    “Ogah!” Dan kami pun tiba di komsel gereja Via dua jam berikutnya.

    Kesan pertama di komsel ini: menyenangkan. Cuma ada lima belas orang, sembilan cewe dan enam cowo. Semuanya ramah. Musiknya cuma gitar, tapi justru terasa khidmat. Dari kecil aku dan Tomboy udah biasa ke gereja. Sama Mama, Papa juga. Papa bilang enggak enak kalau enggak gereja, soalnya salah satu petinggi gereja ini adalah bos Papa sejak zaman dahulu kala.  Di gereja tempat kami ibadah orangnya sibuk semua. Ada pejabat, artis, sampai reporter berita kriminal. Karena mereka orang sibuk, kami jaraaaaaaang banget ngobrol sama orang-orang gereja kami. Selesai ibadah ya pulang, masa mau nyapuin lantai gereja? Lagian makin lama si Via kelihatan tambah manis, lumayan datang komsel buat PDKT. Hehehe…

    Setelah komsel, aku dan Tomboy mampir dulu ke cafe favorit kami. Kami berdua memesan spaghetti dan orange juice. Aku sudah melahap seperempat spaghetti ketika kulihat tomboy berdoa.

    “Amin”. Tomboy menyelesaikan doanya, aku masih terpana.

    “Boy, lu ngapain barusan?”

    “Nyuci beras. Ya berdoa lah. Sebelum makan tuh berdoa dulu.” Tomboy menyeruput orange juice dan mulai menyantap spaghetti-nya.

    “Yaelah, biasanya juga langsung makan aja. Lagian kan ini di tempat umum Boy. Malu ah kalo pake berdoa.”

    “Lah, kan kita udah bayar pajak. Orang yang ga bayar pajak, baru tuh malu.” Tomboy melawak. Sama sekali enggak lucu.

    “Berdoa tuh di rumah sama di gereja aja, Boy. Lagian kan kita cuma makan mie. Kalo makan nasi baru berdoa.” Kataku dengan gaya ‘gue-paling-tau.’

    “Lah, apa bedanya nasi sama mie?”

    “Kalo nasi kecil-kecil warna putih, kalo mie keriting warna kuning.” Jawabku mantap.

    “Hahahaha! Eh bang, Yesus aja berdoa dulu sebelum makan roti sama murid-murid-Nya, lah kita makan mie masa ga doa? Dosa tau bang.”

    “Sok tau lu!” Dan aku pun menghabiskan makan malam itu dengan rasa berdosa.

    ***

    Sore ini aku duduk santai di teras setelah memandikan ‘si belalang tempur’, mobil kesayanganku. Kugigit choco chips dan menyeruput melon juice. Angin semilir membuat mataku terpejam membayangkan sosok manis Via. Belum utuh Via muncul dalam khayalanku, ‘cluk’, ada sesuatu yang menyentuh hidungku. Aku bangun dengan kaget, dan melihat pesawat terbang kertas di pangkuanku. Kubuka lipatannya dan membaca sebaris pantun disana,

    buah mangga enak rasanya

    apalagi ditambah gula

    jangan suka berkhayal tak guna

    hanya akan menambah dosa

    Sial! Aku bersiap bangkit dari kursi dan menjitak kepala Tomboy yang sedang duduk cekikikan di atas kap “si belalang tempur” yang sedang kujemur. Namun gerakanku terhenti ketika kulihat beberapa lembar HVS dan sebuah pulpen di atas meja di sampingku. Oooh, mau main lempar-lemparan pesawat terbang? Boleh! Ku ambil selembar HVS dengan garang dan mulai menulis. Selesai, lalu kuterbangkan pesawat kertas itu sengaja ke pohon mangga. Tomboy buru-buru turun dan segera memanjat pohon mangga. Aku tertawa terbahak-bahak. Kubuat pantun dengan tulisan seperti ini,

    anak kancil masih kecil

    si tomboy centil, suka ngupil

    Dan sore itu kami habiskan dengan pesawat kertas yang berterbangan di angkasa.

    ***

    Badanku nyeri, pegaaaaaal!! Sehabis nge-band memang paling enak duduk di kasur sambil menikmati segelas orange juice dan sekaleng choco chips, yuuuuummy… Baru saja mbak Nur meletakkan orange juice di meja kamarku, teriakan Mama kembali bergema di rumah berlantai dua ini.

    “Ya udah lah terserah. Papa kan emang gak pernah mau tau urusan keluarga!”

    “Loh kok jadi Papa yang salah? Kenapa bukannya Mama aja yang pergi? Itu kan pestanya saudara Mama. Ngapain jadi Papa ikut-ikutan?” Suara Papa tak kalah menggema dari suara Mama.

    “Tuh kan, tuh kan, mulai lagi!  Di pesta itu kan temanya jungle. Harus pake baju macam loreng-loreng macan. Mama gak mau pake baju loreng-loreng!!! Papa aja yang pergi!!!”

    Sementara suara Mama semakin tinggi, Tomboy masuk dan merampas sekaleng  choco chips dari tanganku. Tomboy makan tiga choco chips sekali lahap. Ia duduk di sampingku sambil terus mengunyah.

    “Papa juga gak mau pake baju loreng-loreng.” Suara Papa tak kalah tinggi.

    “Papa egois.” Mama teriak.

    “TERSERAH!!” Papa teriak lebih kencang.

    “AAAAAARRRRGGGGHHHH!!!!” Waw, ternyata teriakan Mama lebih kencang lagi. Ya ampun, baju loreng-loreng saja jadi masalah. Konyol! Tapi pertengkaran seperti ini sudah sering terjadi, tak terhitung. Tentang bulu kucing di sepatu Mama, dasi gambar bunga melati punya Papa, ayam tetangga yang masuk ke garasi, hal-hal semacam itu bisa bikin rumah ini ramai. Di kamar, di teras, di tempat kerja, di mall, di mana-mana mereka gemar sekali berselisih paham.  Aku dan Tomboy terus saja mengunyah choco chips. Hal seperti ini menjadi biasa bagi kami. Ya, sepertinya kami terbiasa. Namun sebenarnya hati kami tidak pernah terbiasa…

    ***

    Aku pernah menanyakan pada Tomboy tentang panggilan barunya kepadaku. Ia menjawab sambil nyengir, “si Via aja manggil kakak sepupunya pake abang, masa gue panggil elu oncom. Hehe.” Aku juga bertanya tentang Rina, Mela, Jhony, dan teman-teman gank-nya yang sudah enggak pernah lagi datang ke rumah.

    “Gue diajauhin mereka, bang.” Tomboy menjawab santai.

    “Hah? Kenapa? Lu ga mandi lagi? Sabun di rumah lu gigitin lagi? Ampuun dah Boy.”

    “Bukaaan!” Tomboy menjawab sewot. Aku sudah mengambil bantal kursi untuk menutupi kepalaku, bersiap menangkis tonjokan Tomboy. Tapi enggak ada tonjokan, heran juga. Aku pun melanjutkan bertanya.

    “Terus?”

    “Gara-gara tiap Jumat, Sabtu, gue ga jalan lagi sama mereka. Kan gue kebaktian. Lagian ya bang, gue cape maen sama mereka. Ke mall muluuu. Ngomonginnya cowooo mulu, bosen!”

    “Boy, kalo boleh tanya, kalo boleh nih ya, lu dikasih makan apa sih di retreat sekolah?”

    “Kenapa bang? Penasaran yak?” Tomboy nyengir jahil.

    “Dih. Pede lu!”

    “Hahahahaha.” Tomboy tertawa keras sebelum akhirnya melanjutkan, “di retreat itu gue dapet banyak hal, bang. Mengenal Yesus dari cara yang berbeda. Selama ini gue kira Yesus itu sosok yang kaku, yang tinggalnya di langit sana. Hehehe. Gue juga belajar tentang pengampunan, dan ternyata kebaktian sama temen-temen enak loh. Nyanyi-nyanyi, cerita-cerita, dan lu tau ga bang…”

    Perbincangan kami eggak berhenti hanya hari itu. Entah mengapa, aku penasaran sekali dengan perubahan Tomboy. Cara bicara, berjalan, makan, bahkan rambutnya dibiarkan tumbuh melewati telinganya, membuatku terus bertanya tentang perubahannya. Kami masih sering ke bioskop menonton film action, panjat tebing, bahkan camping. Tapi kusadari, waktu kami mulai sering kami habiskan dengan bercerita tentang Yesus, kadang bersama teman-teman komsel, kadang hanya kami berdua. Kami duduk di teras, aku bermain gitar dan kami berdua bernyanyi lagu yang kami tahu dari komsel, juga dari CD lagu-lagu rohani yang kami putar di rumah dan di dalam mobil. Kadang aku dan Tomboy duduk di kamarku dan kami saling bercerita, tentang apa saja, sekolah, kucing tetangga, bahkan tentang cita-cita dan keluarga. Sesuatu yang tidak pernah kami perbincangkan di tengah keributan kami di hari-hari yang lalu. Aku kaget sampai lagi-lagi jatuh dari tempat tidur, ketika Tomboy bercerita bahwa ia suka dengan Michael, salah satu anak komsel. Tomboy suka cowo? Dueeeeenk!!

    Suatu kali aku pernah berselisih paham dengan Roy, anak komsel juga. Aku sangat kesal karena Roy menyebut aku dan Tomboy sebagai anak ayam. Memang kami baru mengenal Yesus dengan cara yang berbeda, dengan nuansa yang berbeda. Sebutan anak ayam jelas-jelas menjadikan kami sebagai “pengikut” Kristus yang sangat tidak berharga. Aku memutuskan untuk tidak lagi datang ke komsel. Sudah untung muka Roy tidak kujadikan abstrak! Tapi Tomboy datang ke kamarku, aku tahu bahwa ia akan membujukku tapi ini tidak akan berhasil. Voila, ternyata dugaanku salah. Tomboy bilang ia juga enggak suka Roy, apalagi bila Roy datang dengan jambul 5 cm yang super norak. Tapi Yesus akan tetap hadir di komsel dengan atau tanpa Roy, jadi kenapa aku dan Tomboy tidak datang komsel karena Roy? Bukankah itu berarti aku dan Tomboy lebih peduli dengan Roy dibanding Yesus? Setelah Tomboy keluar dari kamarku, aku mematikan lampu dan berdoa “Tuhan Yesus, aku merasa ini ga adil buatku dan Tomboy. Tapi aku tau, Kau bukan Tuhan yang kurang kerjaan dan merancangkan hal yang gak penting buat kami. Ini penting, dan saat ini aku mau membuka hatiku untuk maapin Roy. Maapin aku juga ya Tuhan. Dalam nama Yesus, amin.”

    Semua berjalan menyenangkan, semua hari terasa baru dan kami merasa bersemangat. Sampai tiba hari aku menerima kabar itu, kabar yang mengguncang duniaku seakan bumi tiba-tiba kehilangan gaya gravitasi dan meluncur drastis dari porosnya. Hari yang tidak akan kulupa, hari ketika Tomboy…

     
    • Henri H. 8:29 am on July 19, 2010 Permalink | Reply

      lanjut gan…menanti episod berikut..

    • riuw 6:56 am on July 20, 2010 Permalink | Reply

      .

    • riuw 7:07 am on July 20, 2010 Permalink | Reply

      cihuuii lucu.. Next.. Dtgu ev.. 😉

    • riuw 7:09 am on July 20, 2010 Permalink | Reply

      koq gw komen2 ga masuk2 c?? (–“)
      lucu, dtgu yah ev 🙂

    • lunniey 8:33 am on July 29, 2010 Permalink | Reply

      ini yang 18 halaman yak ep!! gak nyangka ternyata sebagian diambil dari kisah asli hidup lo yak.. lu pan dulu tomboy gitu pan.. rambut kaya cowo, jalannya petantang-petenteng xD chihihihihihi….
      seru juga cerbungnya^^ lanjut layy !

    • evnov 8:18 am on July 30, 2010 Permalink | Reply

      @all: thx yoo 😀

      @ka’lun: jadinya 22 halaman xD
      pengalaman idup lu juga gw masupin qo, tukang vcd di glodok!! 😛
      eh cuy, gmn proyek nulis kita? ga lanjut, coy? wakakakak!

  • evnov 9:58 am on June 20, 2010 Permalink | Reply  

    Cinta Empat Musim 

    jiwaku merantau pada padang tandus di bawah matahari terik
    menapaki debu di tanah berbatu dan tanah yang pecah karena panas
    tersembunyi pada dahan kering  yang pun tidak memberi sedikit teduh
    menjauhi Air Hidup dari dahaga yang tiada taranya

    harapku seperti dedaunan jati yang berjatuhan pada musim gugur
    menutupi butiran tanah coklat dengan tangkai yang layu dan semburat hitam yang menggantikan masa segarnya daun
    mengikuti angin yang membawa jauh dari Pohon Hidup

    hatiku adalah salju di gunung tinggi yang membentuk es dalam kabut
    membeku dalam hari-hari yang tiada berasa dan kaku
    membongkah dan menjulang pada puncak gunung dan melihat segala dalam ketinggian
    mengacuhkan Sinar yang mengatasi kebekuan
    tetap meninggi dalam kesunyian

    saat Sinar dari atas gunung tinggi membangunkan aku dari beku berkepanjangan
    aku masih tidak berani menatap-Nya yang begitu kemilau
    saat suara dari Pohon Hidup menggema untuk membuatku bertahan
    aku tetap meminta angin membawaku ke tempat yang tidak pernah kubayangkan
    saat aku haus dan mencari-cari kepuasan dari sumur yang terdalam
    aku menolak Air Hidup yang berjanji memuaskanku untuk selamanya

    tapi, Dia tidak pernah menyerah
    lihat! Dia membuat musim semi!
    Ia membuat aliran air yang tiada habisnya dan jiwaku meneguk kesegaran baru
    harapku merekah seperti bunga merah muda juga lebih indah dan melekat kuat pada Pohon Hidup
    hatiku sudah turun dari gunung tinggi
    Ia menghangatkanku dari kebekuan yang sunyi

    mungkin,
    akan ada lagi hari dengan matahari menyengat pada jiwaku
    juga daun jati yang berguguran tentang masa depanku
    dan salju yang turun menyelimuti hatiku
    tapi,
    akan selalu ada musim semi dengan hari-hari yang baru
    musim yang mengganti duka menjadi suka
    dan di segala hari, Ia selalu ada
    aku sudah merasakannya
    Dia sudah membuktikannya

     
    • richilia 11:37 am on June 23, 2010 Permalink | Reply

      akan selalu ada musim semi dengan hari-hari yang baru
      musim yang mengganti duka menjadi suka
      dan di segala hari, Ia selalu ada
      aku sudah merasakannya
      Dia sudah membuktikannya

      Like this ^^

    • richilia 11:44 am on June 23, 2010 Permalink | Reply

      aduh double comment nih, gimana ngapusnya,hehehe..

    • lunniey 6:23 am on June 26, 2010 Permalink | Reply

      @Richis dah gua apusin ce^^

      @Ep… uhuhuhuhuuuw… Tata kata yang begitu indah! Disusun dengan alegori yang begitu menggugah!! Love ur poem soo muchh muccchh!!!

    • riuw 12:26 am on July 1, 2010 Permalink | Reply

      ada pelangi sehabis hujan, kira2 sperti itu rasa’a musim semi 😀
      sperti janji Tuhan utk putra putriNya^,^//

      bagus skali tulisannya dedek evi^^ makin smangat blajar di kampus, utk kemuliaan namaNya

  • evnov 9:57 am on May 18, 2010 Permalink | Reply  

    Dasar Manjaaaa!! 

    Ini tahun ke-sembilan belas saya hidup. Sesuai ingatan, sebandel-bandelnya, saya gak pernah dipukul ortu (sekali dipukul mama, itu juga lebay ah kalau nyebut “naro tangan di paha saya” sebagai pukulan :P) Sekarang, entah kenapa rasanya hal itu malah menyedihkan. Melihat kelakuan saya, rasa-rasanya saya emang perlu dipukul. Saya sadar, saya tumbuh sebagai anak yang kurang berdisiplin… dan manja.

    Alkitab bilang, orang tua perlu untuk “menghajar” anak mereka. Bagi saya, masa kecil adalah masa yang sangat menyenangkan tanpa hajaran orang tua. Bukan berarti saya mendukung aksi diskriminasi dan kekerasan, saya hanya berpikir, “coba dulu mama atau bapa mukul waktu gue begini, mungkin gue ga bakal…”. Saya pikir, hukuman itu perlu untuk mendisiplinkan anak. Bukan yang selalu “fisik”, tapi tetap berjudul hukuman dalam batas “waras”. Tapi kalau sekarang ortu menghukum saya, mungkin saya akan marah besar. Dan kemanjaan itu akan tetap berlangsung, namun…


    Tuhan mendidik saya lewat ekonomi yang berubah, drastis!

    Sebagai anak terakhir dari lima bersaudara, saya selalu “melimpah ruah”. Itu dulu, sekarang semuanya tinggal kenangan *hiks*. Saya gak tahu apa gunanya emas mengelilingi jari, pergelangan tangan, dan leher saya. Lah, dulu kan saya masih polos *haha*. Dan emas-emas itu berubah menjadi kayu bakar buat masak. Ya, ya, ya, krisis ekonomi keluarga bermula waktu saya kelas 5 SD. Sejak kelas 6 SD rumah harus dijual dan saya tinggal di rumah kakek yang ukurannya jauh lebih mini dari rumah yang dulu *hoho* Dulu mah, pembantu aja punya kamar, waktu berlalu, abang saya sampe harus tidur di ruang tamu karena kamarnya cuma ada dua (buat enam orang kan kagak cukup :D) Bahkan abang tiri saya harus ke Jawa, salah satu sebabnya ya karena gak ada tempat untuk membaringkan raga.


    Sekarang, ekonomi keluarga saya jauh lebih baik dari jaman sebelumnya 😀 Rumah juga udah dibangun lewat tabungan abang dan kakak saya ^^ Sebagai seorang gadis muda belia, jujur saja banyak hal (baca: banyak barang) yang saya butuhkan (dan inginkan :P) Namun, saya harus berlapang dada melepas sepatu dan baju yang sangat menggiurkan T_T. Well, Tuhan tak berhenti sampai sisi ekonomi, karena…


    Tuhan mendidik saya lewat pelayanan, yang butuh kesabaran ekstra!

    Pelayanan adalah medan yang sangat mendidik saya. Melayani dalam sekolah minggu mengajarkan saya banyak hal. Saya pernah nanya sama Ibu Gembala, “boleh gak kita nyubit anak sekolah minggu?” *huahahaha* Nyatanya, gak semua anak kecil itu lucu, imut, menggemaskan! Apalagi gereja tempat saya melayani gak ada ruangan terpisah untuk tiap kelas. Jadi guru-guru ngajarnya sambil teriak-teriak (kelas saya, Isakhar, cuma berjarak dua meter dari kelas Benyamin :P) Pernah waktu saya bersama tim ngajar kelas kecil yang terdiri dari anak batita sampai TK, anaknya kabur semua. SEMUA! Jadinya kami ngejar anak-anak yang tertawa senang karena mereka kira lagi main kejar-kejaran. Ampuuuuun…


    Bukan cuma sekolah minggu, pelayanan sebagai singers dan worship leader juga sangat membentuk karakter saya, terutama pelayanan dadakan karena pelayan yang bertugas gak bisa datang. Hal ini juga berlaku bahkan sebagai pembuat jadwal! Jam sepuluh malam baru ngasih kabar bahwa worship leader untuk sekolah minggu esok hari gak bisa melayani. Lah, udah jam sepuluh malam saya mau cari penggantinya kemanee? Yang bikin tambah panas hati, saya tahu kabar ini dari orang lain, dan worship leader ini bahkan gak ngasih alasan! Sebagai pembuat jadwal, jadilah saya yang gantiin. Hadooooh… Belum, Tuhan belum berhenti karena juga…


    Tuhan mendidik saya melalui persahabatan, yang tidak selalu menyenangkan!

    Masa mekar sekaligus masa labil saya rasakan bahkan sampai sekarang 😛 Sujud syukur pada masa ini, saya memilki sahabat-sahabat yang menguatkan dalam Tuhan. Waktu pikiran saya mulai “menggila” karena ujian sekolah maupun ujian kehidupan *hehe* mereka memberikan saya kesegaran yang baru lewat keberadan, perkataan, maupun pertolongan mereka. Tapiiii… Bohong ajee kalau saya bilang sahabat selalu ada buat saya 😛 Nyatanya, kita semua manusia yang memiliki keterbatasan, punya kehidupan masing-masing. Inilah yang membuat saya bersyukur memiliki sahabat manusia (bukan ibu peri) karena dengan demikian, saya menempatkan Yesus sebagai sahabat sejati yang selalu ada buat saya . Selain itu…


    Tuhan mendidik saya melalui hati yang patah… Ini menyakitkan!
    Kenapa yaa saya jatuh hati pada para pria yang salah? Hiks T_T Yang beda agama lah, yang berandalan lah, sediiiih… Kagum mah sering, bisa main alat musik, ganteng, pelayanan pula, bergetar hati ini *hehe* Terbenamnya matahari juga kagum itu bisa langsung menguap. Tapi sekalinya suka, aduuuh lama kian hilangnya. Berganti kalender, tetap rasa itu lekat pada hati saya *hahaha*.


    Saya pernah berkomitmen gak mau pacaran untuk satu jangka waktu. Tapi kenapa oh kenapa, malah muncul seorang yang menggetarkan komitmen saya? Kenapaaaa?!! *lebay* Saat itulah saya belajar tentang pasangan hidup, dan puji Tuhan, persekutuan dalam Allah dan persahabatan, tetap menguatkan komitmen saya ^^


    Berhubung belum ada pria yang menarik hati saya seperti pria di masa lalu, saya jaraaaaaaang banget cerita tentang pria ke teman kampus saya. Jadilah teman-teman kampus menggoda saya sebagai penyuka sesama jenis (saya malah bikin godaan itu bertambah panas dengan menyebut beberapa teman perempuan sebagai para selir :P). Tuhan, di jurusan kampusku kan cowonya dikiiit, isinya juga para aktivis yang gemar ngibarin bendera di depan DRR. Sampe kapan mau jombloo?! Ini aje udah digosiin yang macem-macem. Hiks… Dan lagi…


    Tuhan mendidik saya, lewat bus kota!

    Dari SD sampai SMP, saya jalan kaki ke sekolah, secara dekeeet. SMA, ke sekolah paling dua puluh menit naik angkot. Nah masuk kuliah, kampusnya nun jauh di mata! Ada dua jenis bus yang ongkosnya lebih murah, tapi nunggunya bisa tiga puluh menit sampai sejam, sungguh! Salah satu jenisnya, sekarang cuma ada tiga biji (ini pernyataan langsung dari sang supir) Naik bus yang lain, jaraknya bisa lebih jauh dan lebih mahal. Naik bus apapun, tetap aja kalau pagi dan sore penuuuuh banget!! Beberapa kali saya berdiri di tangga bus, tanpa ada orang lain di belakang saya (serasa jadi kenek). Bahkan kaki saya gak bisa berdiri lurus karena bisnya udah penuuuh!!


    Copet lah, orang gila lah, abang-abang bau keti lah,  lengkap di bus kota. Hampir kecelakaan beruntun, hampir jungkir balik di bus karena supirnya ngerem mendadak, bikin saya ngelus dada. Turun dari bus, tak lupa mengucap, “thx God”.


    Dulu saya memang manja, tapi Tuhan sudah memulihkan saya dan kemanjaaan itu menguap tanpa sisa seturut usia saya. Well, saya pengen banget nulis itu sebagai kalimat penutup dalam tulisan ini, tapi nyatanya saya belum juga lepas dari kemanjaan saya… Hiks 😥


    Mama masih menemani saya ngerjain PR bahkan sampai subuh. Kalau gak ditungguin, saya gulung kertas dan milih tidur. Suatu kali setelah ibadah keluarga, sendal saya putus. Saya tetap milih pakai sendal putus dibanding bertelanjang kaki, akhirnya saya pakai sendal Mama, dan Mama bertelanjang kaki sambil nenteng sendal putus. Saya masih sangat sulit menerima kritikan yang (agak) tajam, walaupun masukan itu baik bagi pertumbuhan rohani saya. Saya lebih suka membentak, dan bakalan ngambek untuk jangka waktu yang tidak dapat ditentukan kalau saya dibentak. Saya masih sulit untuk berdisiplin. Dan karena itu, mungkin ada baiknya, dulu… Dulu, saya dipukul saja :’)


    Bagaimana Bila…
    Bila saya gak pernah mengenal Yesus? Ah, mungkin saya tetap menjadi seorang putri manja yang mengangankan mawar di setiap jejak langkah saya, mungkin saya akan menggenggam tangan setiap “pangeran” yang mendekati saya, mungkin saya gak kuliah 😀


    Tapi lihat! Ia memilih saya, dan saya menyukai ini, bahwa Bapa gak pernah membiarkan kemanjaan itu membelenggu saya. Ia membentuk saya menjadi seorang perempuan yang harus berdisiplin. Dan saya bersyukur karena kayu bakar, sahabat yang menyebalkan, anak-anak kecil yang berlarian, pria berandalan, bahkan untuk bus kota. Saya gak tahu medan apalagi yang Tuhan persiapkan buat saya, namun seperti medan yang telah dan sedang saya alami, Tuhan selalu memberikan senyuman pada bibir saya.


    Bapa memroses saya bukan hanya dengan ribuan tetes air mata, tapi juga tawa yang bikin saya berguling-guling. Ia mendidik saya, sekaligus memanjakan saya lewat cara-Nya. Dan saya sangat suka kenyataan bahwa… Bahwa saya anak kesayangan-Nya .

     
    • riuw 12:28 am on May 20, 2010 Permalink | Reply

      yaaahh anak jaman skr emank manja. Maleesss gw –“

    • lunniey 4:56 am on May 25, 2010 Permalink | Reply

      Salut gua ep ^^ lu mau belajar ‘n mau jujur ma kelemahan lo sendiri.. Suka banget tulisan lo yang ini .. inspiring ^^
      huhuhu.. gua juga kalo gak karena banyak peristiwa terjadi di hidup gua pasti gua bakal tumbuh jadi anak yang manja, yang maunya semua permintaan dikabulin >,<
      chihihihi….

    • tukangbakmi 5:50 am on May 25, 2010 Permalink | Reply

      Waktu ngalamin kesusahan mah pengen marah2 ke Tuhan, kalo bisa lemparin meja bantal gelas anak kucing ke surga saking keselnya.
      Tapi kalo udah lewat dan udah tenang baru ngerti kenapa Tuhan ijinin ^^

      Tulisan bagus ep, jujur banget…

      ( Kenapa anak kucingnya ikut dilempar? soalnya maen2 deket bantal meja jadi ikut kelempar…)

    • evnov 5:52 am on May 26, 2010 Permalink | Reply

      ahahaha,

      kelakuan gw batu bgt yak xD

      sebenernya mah gw gengsi nulis begini, ihihihi..

      komin mah, kucing dikarungin, di bngkus daun pisang,sekarang dilempar2 -.-”
      tobat ko, tobat…

    • lunniey 8:24 am on May 29, 2010 Permalink | Reply

      Ich komin sadisss … psikopat :0~~~
      Iya ep emang lu batu.. muka lo ja dah kaya batu apung :0~~~
      heueuuuueuue..

  • evnov 4:58 am on March 13, 2010 Permalink | Reply  

    ci luk ba :D 

    Hai kawan-kawan, lama sekali ga nulis dsini *biasanya di buku tulis

    hari-hari belakangan, saya lelaaaaaah sekali! terutama dengan lingkungan kampus dan keluarga 🙂

    Tapi, saya juga senaaaang sekali, karena eh karena, Tuhan itu selalu memberikan surprise yang manis buat saya 🙂

    bagaimana kisahnya? Tunggu tulisan selanjutnya yaa 😀

    eniwei, kaku amat sii pii nulisnyaaaah!!

    haha 😛

     
    • lunniey 5:01 am on March 13, 2010 Permalink | Reply

      Hiks T.T gua terharu untuk yang ke-2 kalinya… akhirnya kau menulis juga nak xD
      Yup dunia emang seringkali bikin kita lelah^^ makanya perlu ada saat2 istirahat dan menumpahkan segalanya! :p

      btw, beneran yak nulis lanjutannya! awas mpe kaga nulis2 lagi :0~

    • Riuw 5:30 pm on March 18, 2010 Permalink | Reply

      Kayak cinta fitri aja ada season 1, 2 dst…. xD

  • evnov 7:26 am on May 22, 2009 Permalink | Reply  

    satu la9i pelajaran buat 9w :D 

    Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
    namun aku akan bersorak-sorak dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
    Allah Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.
    Habakuk 3: 17-19

    Hidup bersukacita! Itu tema bulan ini di GKAI Cibubur, gereja tempat gw ibadah. Gw dihiburkan banget dengan Firman Tuhan ini sekaligus diingatkan kembali sama komitmen gw untuk melayani.
    Hampir tiap kali gw ngajar, tenggorokan gw sakit banget coz ngajar’a sambil teriak-teriak, maklum, di GKAI belum ada ruang-ruang yang misahin satu kelas dengan kelas lain. Ditambah lagi kalo ngajar dua kelas yang di gabung coz temen gw gak yang taj bisa dateng. Kelas Yusuf (yang gw ajar) dan kelas Asyer (yang temen gw ajar) anak2 cowo’a aktif’a bukan main!! Ada lah yang tidur2an, yang pukul2an, ada juga yang ngomong jorok.
    Jujur, gw cape. Well, gw emang suka sama anak2, dan di kelas Yusuf ada tiga guru. Tapi buat bujuk anak-anak, ngajar mereka, kadang susah banget. Dulu, gw bahkan pernah nyubit saking (bahasa apaan nih? hehe..) sebelnya sama tuh anak. Tapi sejak gw curhat sama Ibu Gembala, thx God, gw tak kayak gitu lagi 😀
    Bosen, males ngajar, itu juga pernah gw alami. Bahkan gak jarang untuk persiapan bahan ajaran, gw siapin sehari sebelumnya, malahan jam sepuluh malem hari sabtu baru gw baca tuh buku. Kadang gw nganggap remeh pelayanan anak-anak. Gw gak selalu mendoakan aak-anak sekolah minggu. Gw ngajarin hal-hal yang baik sama mereka, tapi gw sadar, kadang gw lalai gak sepenuhnya nerapin itu dalam keseharian gw. ”Adik-adik, Firman Tuhan bilang kita harus hormat sama orangtua. Jadi kalo mama nyuruh Joshua ke warung beli garam, Joshua jangan marah-marah sama mama ya. Kalo Yoel di suruh belajar, Yoel harus mau. Ayo siapa yang mau hormat sama mama papa?” He? Gw sendiri masih suka ngelawan nyokap.
    Gw sayang, gw peduli sama adik-adik SM. Beberapa di antara mereka mungkin gak bener-bener ngerasain rasa sayang dari kakak/abang mereka, penghargaan dari orangtua mereka. ”Yoel, abang Agus suka cubit Yoel gak?” Yoel jawab : ”Enggak, suka’a nendang” Gw bengong.
    Tuhan ngasih gw kerinduan en kekuatan untuk pelayanan yang gw lakuin, tapi ternyata gw belum bener2 ngerespon dengan baik panggilan ini. Buktinya, kadang gw masih ogah-ogahan, katakanlah setengah hati. Dan Tuhan tegur gw dengan sangat lembut waktu anak-anak SM nyanyi lagu ini di awal ibadah :
    Yesus sahabatku
    Dia mati bagiku
    besarnya kasih-Nya
    Sahabat, Tuhanku

    Sampai ku besar nanti
    Sampai di Surga nanti
    Tetap ingat selalu
    Yesus, sahabatku dan Tuhanku

    Waktu mereka nyanyi itu, gw lagi rangkul Angel, anak kelas 1 SD yang nyanyi sambil tutup mata dan angkat tangannya.
    Makasih ya Tuhan, Kau tunjukkan kelembutan dan kasih-Mu melalui adik-adikku. Biarlah Kau semakin bertambah, dan aku semakin berkurang.

    Gbu all ^^
    _evi_

     
    • riuw sinaga 3:52 pm on May 22, 2009 Permalink | Reply

      whats?? yoel di tendang? oh God…
      k ia smakin mikir 10 x jd guru SM 😀
      biarla karinduan Tuhan yg jadi atas diri kita masing2 yaa sayong… Gbu

    • lumbalumbainaction 11:21 am on May 26, 2009 Permalink | Reply

      hu’uh..

      kitaa harus tetap semangat ^^

      Gbu 2

    • lunniey 4:39 pm on May 31, 2009 Permalink | Reply

      chihihihi.. sep2 manteps!! tetep bersukacita 😀 hal sepele tapi susahnya minta ampun… gua bangga ma lu Ep ^^

  • evnov 3:23 pm on April 30, 2009 Permalink  

    kesimpulannya adalah… 

    This content is password protected. To view it please enter your password below:

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel
%d bloggers like this: