Intimidasi dengan kebaikan

Tuhan berkata jika kita ingin memberikan persembahan lipatlah dan jangan diketahui tangan kirimu.

” Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Matius 6:3)

Itulah prinsip pemberian yang baik. Bukan diketahui banyak orang bahwa kita telah memberi. Jika semua orang tau, apakah upahnya? Tuhan berkata kita sudah menerima upahnya.

” … Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” (Matius 6:5)

Yakni pujian, penghargaan, pandangan yang positif, rasa hormat dari orang lain dsb.

Hanya orang yang berjiwa besar yang melakukan sesuatu tanpa mengharapkan rasa terima kasih.

Lalu apakah untungnya jika kita berhasil memberi dengan tersembunyi? Pertama, orang yang kita tolong akan merasa dihargai, karena apa yang kita lakukan untuknya benar-benar sesuatu yang spesial yang hanya kita dan dia yang tau. Kedua, kita adalah orang yang dapat dipercaya karena kita dapat menyalurkan pemberian dengan tepat. Ketiga, kita dapat mengatasi kesombongan yang akan muncul karena terbukti bukan pujian atau penghargaan yang kita cari. Keempat, kita akan menerima balasan dari Tuhan.

“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Matius 6:4).

Karena apa yang kita tabur itulah yang kita tuai.

Lalu bolehkan kita mengungkit-ungkit mengenai kebaikan yang pernah kita lakukan? Pikirkanlah, apakah itu berguna? Jika itu tidak berguna untuk apa dilakukan? Mungkin ada beberapa alasan klise untuk menutupi apa yang ada di dalam hati. Biasanya adalah :
1. Just mengingatkan bahwa kita baik, kita perhatian dan bla..bla..bla.. Jujur deh, sebenarnya motivasi kita berkata begitu hanya untuk mengingatkan or menyadarkan bahwa dia berhasil dan sukses karena kita, bukan?
2. Just supaya dia ngak jadi orang yang seperti “kacang lupa kulitnya”. Jujur deh, sebernarnya kita mau berkata bahwa dia harus tau diri, bukan?
3. Just supaya dia menghargai apa yang sudah kita lakukan. Jujur deh, supaya menghargai or supaya kita yang dihargai? Supaya orang yang telah menerima kebaikan kita itu hormat kepada kita, bukan?
4. Just supaya dia ngak jadi orang yang membalas “air susu dengan air tuba”. Jujur deh, sebenarnya kita mengharapkan balasan yakni kebaikan dari dia kan?

Hayooo… selidiki apa yang ada di dalam hati kita sebenarnya. Bisa jadi apa yang kita katakan manis pada bibir, ngak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati kita. Kembali lagi, jadi apa gunanya kalau kita mengungkit-ungkit mengenai kebaikan yang kita lakukan? ngak ada sama sekali, bukan? malahan kita hanya akan menyakiti hati orang yang telah menerima kebaikan kita.

Ketulusan dapat terlihat pada saat kita memberikan kebaikan kepada orang lain tanpa mengingatnya kembali dan tanpa mengharapkan suatu ketika orang yang menerima kebaikan kita itu melakukan hal yang sama kepada kita.

Ingatlah pada saat kita marah, sedih dan kecewa terhadap seseorang jangan gunakan kebaikan yang pernah kita lakukan sebagai senjata untuk mengintimidasi seseorang itu. Jangan gunakan prinsip bisnis yang berkata “banyak memberi, harus banyak menerima, banyak memberi, punya hak untuk menuntut banyak hal” tetapi peganglah janji Tuhan yang berkata “banyak memberi, akan diberkati”.

Berkat itu datang dari Tuhan, bukan dari seseorang yang menerima kebaikan kita.

Belajarlah mengikuti teladan Tuhan Yesus, pada saat Dia menerima perlakuan yang buruk dari muridnya. Adakah Dia mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah Ia lakukan? Sama sekali tidak. Pada saat Yudas menghianati Yesus. Yesus hanya menegurnya.

“Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?” (Lukas 22:48).

Dan pada saat Petrus kembali dalam kehidupannya yang lama setelah ia menyangkal Yesus. Yesus hanya berkata :

“Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yohanes 21:15-17)

Ingat sobat untuk menyadarkan seseorang yang kita kasihi yang mengecewakan kita, cukup dilakukan dengan kasih. Jangan intimidasi dia dengan segala kebaikan yang pernah kita lakukan untuknya. Tuhan Yesus aja ngak pernah seperti itu, lalu siapakah kita punya hak demikian? Ingatlah bahwa segala sesuatu berasal dari Dia.

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia : Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36).

So.. jangan ada orang yang memegahkan diri.

Jikalau berkat itu mengalir dari kita, itu bukan karena kehebatan kita dan kesuksesan kita. Tetapi itu semua karena Tuhan mempercayakannya kepada kita dan Ia ingin memakai kita untuk menjadi saluran berkat bagi orang-orang disekeliling kita.

Advertisements