Ketika Tomboy…

part III f Ketika Tomboy…

Ketika Tomboy pulang ke rumah Bapa…
Dua tahun…


“Aaaaaargggghh!!! Gue kesiangaaan!!!” Aku melompat dari tempat tidur dan menyambar handuk dari punggung kursi. Aku mandi secepat kilat dan mengunyah roti isi selai coklat sambil mengikat tali sepatu. Kunyalakan mesin motor dan bergegas berangkat ke kampus menemui Dosen pembimbing untuk mendiskusikan skripsiku. Headset terpasang dengan lagu praise and worship. Dalam hati aku berjanji akan mengganti saat teduh yang terlewat karena bangun kesiangan dengan doa malam yang lebih panjang dan mesra dari biasanya.


Lumayan, bimbingan kali ini berjalan cukup baik. Walaupun ada revisi di sana sini, aku sudah bisa membayangkan diriku dengan toga di atas podium. Sangat menyenangkan!! Aku yakin, Desember ini aku akan menjadi Sarjana Ekonomi. Bangganya!
Kubelokkan motorku ke komplek pemakaman. Aku menyusuri Blok E dan melewati berbagai bunga warna-warni. Pemakaman kini seperti taman bunga, kupikir bagus juga untuk syuting. Seikat mawar merah kutaruh di atas nisan yang berukir tinta berwarna emas. Matahari tepat di atas kepalaku, keringat berkerumun di leher seperti semut yang berkumpul di atas meja yang tertumpah gula. Kutaburkan potongan daun pandan di atas batu berbentuk salib. Air mineral yang ada di tas, kutuang di atas nisan sambil membelai nama yang berwarna emas, ‘Ribka Syalomita’.


Ya, benar. Tomboy sudah pulang ke rumah Bapa. Dan ya, benar. Aku hancur. Saat itu, adalah waktu dengan rekor air mata terbanyak yang tumpah dari mataku. Dua hari dari tiga hari sebelum kepulangan Tomboy ke rumah Bapa, ia tidak mau tidur. Tomboy benar-benar tidak tidur selama dua hari. Dokter bilang hal itu sering terjadi pada pasien yang mengalami detik-detik terakhir di bumi. Mungkin saja Tomboy takut. Ketika ia menutup mata, ia takut tidak dapat membuka matanya lagi. Entah, aku tidak pernah menanyakannya pada Tomboy dan tidak pernah mau menanyakannya. Hingga malam terakhir ia tidur, ternyata ia dapat membuka matanya lagi. Kulihat senyum kecil di bibirnya. Sepertinya ia siap. Siap untuk pulang…


Tomboy telah tiada pada minggu keempat Desember, beberapa hari setelah Natal. Cuaca saat itu sedang sangat dingin. Kami bahkan tidak dapat melalui tahun yang baru bersama. Hanya tinggal sedikit lagi tahun yang baru akan datang, namun Tomboy rupanya memang sudah harus pulang. Beberapa hari setelah itu, Mama berkali-kali pingsan. Aku sendiri mengurung diri di kamar, meninju-ninju bantal sambil menjerit tertahan, “kenapa?!! Kenapa, Tuhan?!!” Tuhan tidak langsung menjawab pertanyaanku dengan suara yang menggema di dinding kamar, suara yang membuat rumahku goyang dan api muncul berkobar di depan mataku. Tapi ia menjawabku secara perlahan-lahan. Lewat waktu, sahabat, Pendeta, keluarga, lewat lagu-lagu pujian, lewat Alkitab, Firman-Nya yang agung. Aku tahu, ia memiliki segalanya. Namun aku pura-pura tidak tahu, bahwa Ia juga memiliki hidup keluargaku. Aku sangat kecewa. Apa salah Tomboy? Apa salahku? Bukankah sangat mudah bagi-Nya untuk menyembuhkan sakit seseorang? Orang yang sakit kusta, yang lumpuh, yang kemasukan setan, yang buta, bahkan yang mati dapat dibangkitkan-Nya. Apakah itu cuma sekedar dongeng dari sebuah buku berjudul Alkitab? Mengapa harus Tomboy? Mengapa bukannya seseorang yang sangat jahat, yang bebal, yang bahkan tidak pernah menyebut nama-Nya?


Segunung pertanyaan berdesing dalam kepalaku. Aku menolak untuk dihibur, aku menolak semua kata-kata manis. Aku bahkan tidak mau mendengar kata-kata terakhir yang ditinggalkan Tomboy padaku dalam sebuah surat berwarna biru muda. Tidak pula dengan perbincangan (yang lebih tepat disebut pertengkaran) antara aku dengan Michael, dua bulan setelah Tomboy berpulang.


“Apa kabar, Ndrew?” Michael memulai pembicaraan. Kami duduk berdampingan di teras rumahku. Jarak kami hanya dipisahkan oleh meja teras.
“Biasa aja.” Aku menjawab singkat.
“Sibuk apa sekarang?” Michael mulai bertanya lagi.
“Gini-gini aja”. Aku menjawab sekenanya. Tidak berniat sama sekali untuk bertanya macam-macam pada Michael. Aku cuma ingin ia cepat-cepat pergi.
“Om sama Tante, apa kabar?” Tanyanya lagi.
“Baik. Semua sehat, cukup makan, ga kurang gizi. So, ada perlu apa?” Aku benar-benar ingin menyelesaikan pembicaraan ini.
Michael diam sejenak, lalu berkata, “lu kemana aja, Ndrew? Kok ga komsel lagi?”
“Ga kemana-mana.”
“Terus, kenapa ga komsel?”
“Ga kenapa-kenapa.”
“Ndrew…”
“Gue ga kenapa-kenapa! Jangan sok peduli!” Tanpa sadar, aku mulai membentak.
“Bukan sok. Gue bener-bener peduli. Anak-anak komsel peduli sama lu.”
Aku hanya tersenyum sinis.
“Ribka udah tenang bersama Bapa. Ikhlaskanlah…” Michael melanjutkan kata-katanya dengan tenang. Benar-benar terdengar tulus.
“Ga bisa. Selamanya gue ga ikhlas!” Aku kembali membentak.
“Ndrew… Ribka udah…”
Aku memotong cepat kata-katanya. Sambil berdiri aku berkata dengan marah, “lu semua ga ngerti. Ga ada yang ngerti! Bahkan Penguasa Alam Semesta pun enggak!!”
Michael juga berdiri dan mukanya sedikit memerah. Ia berkata lagi, “lu bilang gitu karna lu nutup hati lu. Yesus tuh sayang dengan…”
“Aaah!!” Aku kembali memotong kata-katanya. “Lu tau? Cuma Tomboy satu-satunya yang bikin gue betah di rumah. Cuma dia yang bikin gue seneng. Dan cuma dia satu-satunya ade gue!! Kenapa Tuhan masih ngambil yang jadi satu-satunya buat gue?”
“Lu udah buta! Lu diperdaya, tau?!” Aku melanjutkan, “Kalo Yesus sayang sama gue, keluarga gue, sama Tomboy, kenapa Dia harus ambil Tomboy?”
“Mungkin gue buta.” Michael berkata dengan emosi yang tertahan. Ia melanjutkan, “Tapi bahkan gue yang buta masih bisa melihat kebaikan Yesus yang luar biasa buat keluarga lu.”
Aku diam. Napasku tak beraturan. Aku seperti pelari yang kelelahan setelah berlari begitu jauh. Aku tidak dapat mengatakan perasaanku dengan siapa pun. Yang selalu kulakukan hanya berteriak kecewa di dalam hati, dengan pintu kamar yang terkunci.
“Kalo Ribka ada di sini, dia pasti nangis ngeliat lu. Thx God, Ribka udah tenang bersama Bapa. Gue ga bisa ngeliat dia dengan hati yang hancur, karna lu, abangnya yang tersayang, melupakan Tuhan yang membuat Ribka berubah sampai napas terakhirnya. Tuhan yang membuat Ribka menemukan arti hidup yang sebenarnya.” Michael segera pergi dan menyalakan mesin motornya. Hatiku kembali nyeri.


Aku tetap bertahan dengan kekecewaan dan amarahku. Namun aku tidak tahan untuk terus cemberut dan mengutuk setiap hal yang ada di sekelilingku. Aku mulai tersenyum, tertawa, walaupun sebelumnya aku tidak pernah berpikir dapat tertawa lagi. Bumi tetap berputar pada porosnya, matahari masih terbit di timur dan tenggelam di seberangnya. Masih ada semilir angin, masih ada gerimis yang memberi teduh di sore hari. Tak dapat dipungkiri, semua hal indah masih terus ada walau aku harus mengalami kehilangan yang sangat perih. Hari-hari berlalu dan Tuhan bukan hanya menunjukkan kasih-Nya dengan cara yang luar biasa, tapi juga melalui hal yang sederhana. Ia bukan hanya memberikan orang-orang terbaik dalam hidupku, namun Ia juga membentukku menjadi pribadi yang baik bagi orang-orang di sekitarku. Sahabat-sahabatku di komsel selalu menghiburku dan keluargaku. Kata-kata Michael yang saat itu terasa pahit, kini menjadi kata-kata yang sangat membangun. Aku mulai merasakan kembali cinta mula-mula pada Yesus.


Memang, saat itu aku tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan. Namun, saat ini aku mengalami langsung kemuliaan-Nya yang Ia nyatakan dalam keluargaku. Ingat komitmenku untuk melayani-Nya bila Tomboy sembuh? Aku pernah membuang komitmen itu jauh dari hidupku. Karena toh, aku kan berjanji dengan syarat Tomboy harus sembuh. Seperti biasa, Tuhan tidak pernah tingal diam. Ia tidak ingin kehilanganku, lagi! Ia menangkapku!


Tahun pertama setelah Tomboy tiada, menjadi hari-hari yang berat dalam hidupku. Aku tetap dibimbing oleh kakak rohani dan mengikuti ibadah dengan hati yang baru. Dua bulan ini aku mulai melayani sebagai pemain musik di komsel dan Ibadah pemuda. Aku akan menjadi sarjana, dan sudah satu bulan ini aku dan Via sedang mendoakan hubungan kami untuk menjadi sepasang kekasih. Tomboy memang sudah tiada, namun ia tetap hidup di hatiku. Aku tidak lagi mengenangnya dengan sedih dan kecewa, namun aku mengenangnya dengan senyum dan ucapan syukur. Aku bersungguh-sungguh.


Tidak perlu lagi aku bertanya-tanya, “kenapa?” Yang harus kutanyakan adalah, “untuk apa?” Ya, untuk apa Tuhan merancangkan ini dalam hidupku? Firman-Nya yang selalu kupercaya, bahwa semuanya untuk mendatangkan kebaikan. Bila aku punya waktu untuk mempertanyakan kebesaran dan rancangan Tuhan sang pemilik alam semesta dengan pertanyaan yang memusingkan, mengapa aku tidak punya waktu untuk mengenal Dia lebih dekat? Untuk melayani Dia lebih sungguh lagi? Karena hidup Tomboy, hidupku dan keluargaku adalah milik-Nya, mengapa harus marah bila Ia ingin Tomboy lebih dulu pulang kepada-Nya?


Aku tidak akan lupa. Ketika Tomboy berubah, adalah awal yang juga menjadi perubahanku. Tomboy mengenalkanku pada kebaikan Yesus, ia mengajakku ke komsel dan aku sangat bersyukur karenanya. Perubahannya adalah salah satu keajaiban dunia yang kuteguhkan dalam hatiku, dan perubahanku adalah keajaiban pula yang terjadi karena keajaiban sebelumnya. Yesus yang membuat keajaiban itu, tak berhenti membuat keajaiban lainnya saat itu datang… Ya, ketika Tomboy sakit. Berjuta rasa menusuk-nusuk hari-hari kami. Dengan doa yang tak putusnya, dan harapan yang tiada lelahnya kami naikkan. Yesus tetap menjaga kami. Dan tiba juga, ketika Tomboy berpulang ke rumah Bapa. Ah, inilah masa yang paling menyedihkan. Namun di sinilah aku benar-benar melihat kebaikan Tuhan. Sepertinya Ia mengambil yang menjadi satu-satunya dalam hidupku, tanpa sebelumnya kusadari, yang benar-benar menjadi satu-satunya dalam hidupku hanyalah Yesus. Ketika Tomboy menjadi adikku, hidupku sangat menyenangkan. Sekarang pun aku tetap merasa senang, karena untuk selamanya, Tomboy tetap adikku.
“Tunggu. Tunggu bentar, Boy. Disini gue lagi berdoa dan berusaha keras supaya keluarga kita bener-bener mengenal Yesus. Seperti Yesus yang ngubahin lu, Yesus yang ngubahin gue, Yesus juga yang pasti ngubahin keluarga kita.”


Dua kata terakhir yang aku bisikkan pada telinga Tomboy saat ia akan pulang ke rumah Bapa. Aku yakin Tomboy dengar, karena ia tersenyum setelah dua kata ini kuucapkan, “makasih, adikku.”


Epilog:

Dear: Abang Andrew Syalomino. Si Oncom sejati.

Apa skarang udah tahun baru? Maaf, kalo gue ga bisa bertahan sampe kembang api tahun baru. Kalo gue bisa bertahan, maaf juga karna lu gak bisa ngeliat kembang api karna nemenin gue.
Bang, jangan marah kalo seandainya gue pulang duluan ke rumah Bapa. Jangan iri yaa!! Haha… Bila saatnya gue pergi, gue gak pergi dengan nyesel karna gue akhirnya bisa bener-bener bersyukur karna punya keluarga seperti kalian, karna gue punya punya elu, bang.
Apa lu masih bertanya-tanya kenapa gue yang jago silat ini bisa pake rok? Bukan, ini bukan karna Bang Michael. Ini karna Yesus. Sebelumya, gue belajar silat, gue panjat tebing, loncat-loncat maen basket, itu semua karena gue gak betah di rumah. Gue pengen bebas, gue pengen dihargai. Mama sama Papa berantem terus, gue gak pernah dipuji sebagai anak yang nyenengin mereka. Mau tau bang? Gue gak pernah suka silat, gue gak suka panas-panasan manjat tebing, gue gak suka rantai-rantai di pinggang celana gue, gue gak suka semua itu! Tapi gue harus jadi seseorang yang gak gue suka supaya gue dihargai orang lain, supaya gue merasa diterima. Tapi sejak gue kenal Yesus, gue gak perlu lagi jadi orang lain. Gue bisa pakai baju yang gue suka, gue bisa menikmati hari-hari gue dalam persekutuan. Kenyataannya, Yesus cinta sama gue, dan itu lebih dari cukup. Cuma Yesus satu-satunya yang bisa bikin gue jadi perempuan yang seutuhnya ^^
Doakan keluarga kita ya bang, supaya bisa bener-bener menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Lu harus janji, lu harus jadi sarjana. Banyak doa, tobat kau, sebentar lagi akhir zaman. Titip salam buat Bang Michael, si ganteng itu. Hehe… Thx for all, bang ^^.

Always love you, abangku.

Tomboy

Advertisements