Ketika Tomboy…

Part II of Ketika Tomboy…

Ketika Tomboy sakit…

“Tomboy sakit kanker.” Mama menangis histeris saat mengatakan tiga kata itu di depan kamar Tomboy di RSCM. Aku bengong, tidak bisa menyerap dengan sempurna tiga kata singkat itu. Sampai kurasakan lututku lemas dan tidak dapat menahan bobotku hingga aku terjongkok. Dan kurasakan air mata hangat mengalir membasahi kerah kemejaku.

Memang sudah sebulan ini Tomboy terlihat pucat. Ia tidak nafsu makan dan terlihat sakit. Kami pikir Tomboy hanya pilek, ia memang mudah terserang pilek. Dua minggu yang lalu Tomboy mimisan, kami pikir ini hal biasa karena toh ia sering juga mimisan. Beberapa hari setelahnya, Tomboy mimisan lagi dan lagi, darah mengucur bagai air kran wastafel. Muncul bintik-bintik merah pada tangannya dan ia demam tinggi. Kami membawanya ke dokter keluarga, namun tiba-tiba saja Tomboy dirujuk ke RSCM dan menjalani serangakaian tes darah dan sebagainya sampai berita ini sampai ke telinga kami.

Mama, Papa, dan aku duduk di ruangan dr.Martin, mendengar sang dokter memaparkan hasil tes. Tomboy mengidap kanker darah yang juga dikenal sebagai leukimia. Kanker ini menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang. Normalnya, tubuh manusia akan memberikan tanda secara teratur tentang waktunya sel darah direproduksi kembali. Pada leukimia, sel darah putih tidak merespon tanda itu, sehingga produksi sel darah putih tidak terkontrol atau abnormal. Dokter masih menjelaskan panjang lebar tentang leukimia, baik dugaan penyebab penyakit seperti radiasi, herediter, beberapa nama virus yang sulit kutangkap, juga langkah pengobatan dengan chemotherapy, transplantasi sumsum tulang, tranfusi darah dan sebagainya. Aku berusaha mendengarkan setiap kata dari dokter, namun yang jelas ku dengar hanyalah isak tangis Mama dan desahan napas Papa. Kepalaku tertunduk, lututku gemetar. Kurasakan keringat membanjiri tengkukku di ruangan ber-AC ini. Aku coba untuk tetap mendengar dokter, dan aku menyesal telah berusaha sekuat tenaga mendengar bahwa kemungkinan Tomboy mengidap leukemia akut yang ditandai dengan perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk. Aku merasa pusing. Kursiku seperti bergoyang dan aku ingin muntah. Kudekap dadaku erat, berusaha menenangkan jantung yang seperti ingin melompat keluar dari tubuhku. Pandanganku kabur, dan air mataku mengalir lagi.

Aku duduk menghadap Tomboy. Kulihat garis nyata berupa tulang yang menonjol pada pipi dan rahangnya. Lalu matanya terbuka.

“Udah bangun, Boy? Ih, elap tuh iler lu”. Kataku sembari mengernyitkan hidung. Tomboy mengusap ujung bibirnya sambil nyegir lebar.

“Gue udah tau bang. Gue paksa Papa cerita”. Kami terdiam, cukup lama hingga suara, “tik… Tik… Tik…” dari jam dinding terdengar begitu nyaring.

“Bang.”

“Ya?” Aku menjawab pelan.

Lama kami kembali terdiam sampai Tomboy berkata, “gue takut… gue takut bang.” Suara Tomboy begitu pelan hingga terdengar seperti desahan. Kulihat airmatanya turun membasahi punggung tangannya. Aku mendekat dan kuangkat kedua tanganku untuk memeluknya, suatu hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Kurasakan tubuhnya bergetar, airmatanya membasahi pundakku. Tubuhnya begitu kecil, aku seperti memeluk rangka manusia. Kubelai rambutnya, dan kuhirup aroma shampoo lidah buaya favoritnya.

“Gue takuut… Gue… Gue… Takut bang…” Isakan tomboy semakin keras, aku memeluknya kian erat. Tak ada kata yang keluar dari mulut kami, hanya air mata yang menganak sungai.

***

Aku duduk di tempat tidur Tomboy. Kuambil bantal guling butut yang sudah dipakainya sejak kelas dua SD. Kuraih foto berbingkai hitam di atas rak, foto setelah kami bermain basket di Senayan. Aaah… Rumah sepi sekali tanpa Tomboy. Sudah sebulan sejak ia masuk rumah sakit. Tomboy yang cerewet, yang berlari kian kemari di dalam dan luar rumah persis seperti kancil di cerita anak-anak, Tomboy yang bersabuk hitam, kini tertidur di kamar rumah sakit dengan pakaian tidur bergaris biru. Kupeluk bantal guling Tomboy, dan kuucapkan doa yang selalu kuutarakan, pagi, siang, sore, malam, di mobil, di kamar, di kampus, bahkan di meja makan.

“Tuhan, aku janji enggak bakal berantem sama Tomboy lagi, aku bakal selesein kuliahku yang udah kegantung dua tahun, aku udah mutusin Chika dan Meyla dan janji gak bakal selingkuh lagi, aku udah bakar semua majalah dan dvd porno yang aku punya. Aku juga bakal melayani-Mu, jadi pemain musik di gereja, di komsel, aku bakal sering amal ke panti asuhan. So, please God, please, tolong sembuhin Tomboy. Kau harapanku satu-satunya. Thx God, dalam nama Yesus, amin.”

***

“Hai Ribka. Gimana, udah baikan?” Michael muncul di pintu.

“Ha… Hai bang!! Wah, tum.. Tumben dateng sendiri. Masuk, bang.” Tomboy segera duduk tegak di atas tempat tidurnya. Tangannya menyisir poninya yang berantakan. Matanya mendelik padaku dengan tatapan “kok-gak-bilang-bang-Michael-mau-dateng!!” Aku tersenyum geli.

Aku pamit keluar untuk menebus obat. Tomboy menyatukan kedua telapak tangannya sebagai simbol terima kasih karena aku membiarkan mereka mengobrol di kamar tanpaku. Sekilas aku melihat mata Tomboy berkaca-kaca saat Michael menaruh seikat bunga mawar merah di dalam vas berisi air. Bunga mawar merah yang kuberikan pada Michael, yang susah payah kurayu agar mau menjenguk Tomboy tanpa teman-teman komsel. Aku tahu ini salah. Tapi apapun akan kulakukan untuk membuat Tomboy senang. Apapun itu…

Tiga minggu setelah Tomboy pulang dari Singapura, kesehatan Tomboy tak juga membaik. Ia kerap kali muntah darah. Chemotherapy yang dijalaninya serasa tak membantu. Setiap kali ia muntah darah, jantungku selalu ingin melompat keluar. Kerongkonganku serasa basah oleh darah. Suatu kali saat Mama mengambil kelopak mawar di rambut Tomboy, kelopak itu terambil bersama segenggam penuh rambut Tomboy. Itulah sebabnya Tomboy memakai topi.

Di waktu yang lain, gantungan handphone-ku menggelinding ke bawah tempat tidurnya. Dan disana aku menemukan beberapa butir obat.

“Apaan nih?” Kataku sambil menunjukkan beberapa obat di genggamanku ke depan hidung Tomboy. Ia hanya tertunduk.

“Jawab.” Kataku dengan nada menahan marah. Tomboy tetap diam. Ia juga mulai ketakutan.

“JAWAAAAB!!! Aku membentak sambil melempar obat dalam genggamanku ke lantai. Tomboy mulai terisak dan meringkuk di atas tempat tidurnya. Aku membanting tempat minum plastik dengan erangan yang tertahan dalam kerongkongan, hingga aku terdengar seperti anjing yang ekornya terjepit, erangan marah sekaligus menyakitkan.

“Gampang banget lu ya buang-buang obat!! Lu ga tau nih obat mahal?!! Bukan-bukan ini yang mau aku katakan.

“Susah-susah Papa masukin lu ke rumah sakit, ga tau terima kasih!!” Tidak. Bukan. Tidak kata-kata ini yang ingin aku katakan. Sementara itu Tomboy terisak semakin keras.

“Gue… Gu…Gue…” Aku berkata sambil menarik napas tertahan.

“GUE GA PENGEN LU MATIII!!!!” Ya, inilah yang ingin sekali aku katakan.

Aku segera keluar kamar dan jongkok di depan pintu kamarnya. Dapat kudengar jelas tangisan Tomboy. Tangis yang tidak ingin aku dengar, yang membelah hatiku menjadi sayatan-sayatan kecil. Aku tak peduli dengan orang yang lalu-lalang. Aku sama sekali tak peduli bahkan ketika air mataku jatuh, lagi dan lagi.

Aku bisa terima, saat belalang tempurku harus dijual dan kini aku memakai motor. Aku juga terima, ketika Papa cerita tentang biaya yang sangat besar untuk pengobatan Tomboy. Aku tahan dengan Mama yang selalu menangis di depan mataku. Namun yang tidak bisa kuterima adalah Tomboy yang terbaring sakit. Yang seringkali kudapati menangis diam-diam di atas tempat tidurnya. Tomboy yang minum berpuluh-puluh tablet obat setiap hari. Semuanya terasa sangat menggangu sekaligus menyakitkan. Semuanya tidak masuk akal, ini terasa tidak benar.

Di kamarku, aku duduk dengan Alkitab yang tertutup di pangkuanku. Tak ada ayat yang terbaca malam ini. Aku memejamkan mataku dan mulai mengadu, “Tuhan, aku ga pernah semerana ini. Saat aku bangun, aku takut hari ini akan berjalan tanpa Tomboy. Aku takut nerima telepon dari Mama dan Papa untuk kabar yang selamanya ga ingin aku denger. Tidurku ga nyenyak, makan apapun ga terasa enak. Rasanya aku bakal mati duluan dibanding Tomboy karena ketakutanku. Aku rela, rela Tuhan… Menukar hidupku untuk hidup Tomboy. Kau satu-satunya harapan kami. Tolong, jangan Tuhan, jangan biarkan Tomboy menutup mata sebelum mataku tertutup. Kumohon… Kumohon…”

***

Kami duduk menempel di atas tempat tidur dengan kitab Mazmur yang terbuka di pangkuanku. Seperti yang seringkali kami lakukan, bersamaan kami membaca Mazmur favorit kami,

Mazmur 46:2-4

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.

“Bang, kalo udah sembuh, gue mau ke Yerusalem.” Tomboy memulai pembicaraan. Cengirannya lebar dan jahil. Aku mengacak rambutnya perlahan.

“Iya, nanti kita juga poto-poto ke Betlehem, terus kita juga main air di sungai Yordan, ngerujak di Kanaan. Makanya lu cepetan sembuh.”

Tomboy mengangguk pelan. Kurasakan semangat yang meluap dari hatinya menular ke hatiku. Kurasa, Tomboy akan segera sembuh. Terngiang kembali Mazmur favorit kami, “Allah itu tempat perlindungan dan kekuatan, penolong dalam kesesakan. Sebab itu kita tidak akan takut…” Ya, kita tidak perlu takut.

***

Tangan kami saling menggenggam. Papa memimpin doa pagi kami, yang dimulai dengan lagu, ‘selamat pagi, Bapa’ dan tetap dengan pokok doa, yakni kesembuhan Tomboy. Doa pagi bersama rutin kami lakukan semenjak Tomboy masuk RS. Semenjak itu pula, Banyak sekali yang ikut mendoakan keluarga kami dan Tomboy. Para Pendeta dari gereja Papa maupun dari gereja aku dan Tomboy (Papa dan kami sudah berbeda gereja), juga pemuda-remaja sering datang untuk mendoakan, menyemangati, dan menghibur kami. Bagus juga aku dan Papa berbeda gereja, makin banyak yang datang berdoa, makin baik kan? Sudah begini banyak yang berdoa, enggak mungkin Tuhan tak mendengar. Ia pasti mengabulkan doa kami, Tomboy akan sembuh.

Aku dan Tomboy duduk di dekat jendela kamarnya di lantai atas. Aku menatapnya dengan senyum simpul. Dagunya tegas dan lancip, matanya bulat dengan bola mata hitam yang polos dan selalu ingin tahu. Kantong hitam besar dan tebal menggantung di bawah kelopak matanya. Tulang pipinya semakin menonjol, membentuk garis yang semakin hari semakin nyata. Kepalanya tak berambut. Kulit yang mati mengering di bibir kecilnya. Lalu Tomboy menangkap tatapanku dan mulai mengajukan pertanyaan.

“Kenapa ngeliatin gue? Gue cantik banget ya? Hahaha…” Katanya lemah dengan tawa yang pelan.

Aku menjulurkan lidah dan mengeluarkan suara seperti orang muntah. Tomboy kembali tertawa.

“Iya, lu cantik.” Kataku bersungguh-sungguh. Tomboy membelalak tak percaya. Aku melanjutkan, “kalo diliat dari Monas pake sedotan Aqua.” Tomboy cemberut.

“Woooo… Ngambek nii yee.”  Aku berusaha menggodanya. Bibir Tomboy bertambah manyun.

Aku menyentuh dagu tomboy. Kubelai lembut pipinya dengan punggung tanganku. Kucubit pelan hidung mancungnya. Matanya menatap mataku. Aku tersenyum tulus.

“Lu adalah wanita tercantik di seluruh dunia, yang pernah gue liat sumur idup gue.” Kata-kata itu meluncur mulus dari bibirku. Tomboy kembali membelalak tak percaya. Ia menunggu, kalau-kalau itu hanya gurauanku. Tapi aku tidak berkata apa-apa lagi. Tomboy menunduk.

“Lebih cantik dari Via?” Tanyanya.

“Iya lah. Lebih cantik juga dari Angelina Jolie, Dewi Persik, Mpok Nori, dari semua-semuanya deh.” Aku berkata dengan sangat yakin. Tomboy tertawa senang. Aku tidak bergurau. Tomboy adalah wanita tercantik di seluruh dunia, yang pernah kulihat seumur hidupku. Bahkan dengan tulang yang menonjol, kantung mata hitam yang menggantung, kepala tanpa rambut, kulit mati di bibirnya, dan penyakit yang menggerogoti tubuh dan hatinya, ia tetap wanita yang tercantik di seluruh dunia, dalam hidup dan hatiku.

Selanjutnya kami sibuk melipat-lipat kertas berwarna biru muda, warna yang kini menjadi kesukaan Tomboy semenjak Michael datang membawakan topi biru muda. Angin sepoi-sepoi menyapu wajah kami dengan lembut. Setelah kami selesai membuat pesawat kertas, kami menerbangkannya ke luar jendela. Pesawat kertas itu jatuh menukik ke kepala dokter yang botak. Dokter itu berputar-putar mencari penerbang pesawat sambil memaki-maki. Kami bersembunyi di bawah jendela sambil tertawa histeris. Di dalam pesawat kertas, kami menulis doa dan harapan terbesar kami, “Tomboy and Oncom goes to Jerusalem.”

***

Gerimis turun membasahi rumput hijau yang segar, yang terpotong dengan sangat rapi. Wangi bunga mawar dan potongan daun pandan bercampur dengan aroma tanah basah yang menyeruak ke tiap hidung para pengunjung makam. Matahari sore tidak nampak karena awan yang muram. Para wanita dan pria berbaju hitam menangis terisak. Peti diturunkan, mawar ditabur, daun pandan di tebar, air mata mengalir. Lagu puji-pujian di naikkan dengan sedih. Aku duduk di bawah pohon beringin, jauh dari kerumunan. Melipat kertas biru muda menjadi pesawat kertas…

Advertisements