Ketika Tomboy…

Kata pengantar: Ini cerbung (cerita bersambung) pertama saya *terharu*. Sebelum saya ajukan ke penerbit dengan harga 50 juta, saya publish dulu di mari 😀

Ketika Tomboy berubah…

“Gue sumpahin lu jadi botaaaaaaak!!!”

Biasanya teriakan itulah yang menggema tiap hari di rumah berlantai dua ini, teriakan si Ribka Syalomita yang adalah adik perempuanku satu-satunya. Perempuan? Di KTP sih tertulis begitu, tapi aslinya… Pria banget!! Ksatria, perkasa! Makanya aku enggak pernah manggil dia Ribka, mulut jadi asin kalau manggil dia pakai nama perempuan. Jadi aku panggil dia Ribko Santoso, tapi karena kepanjangan, aku panggil dia Tomboy.

Selain rambutnya yang bondol kaya Afgan, Tomboy juga jago silat. Pemegang sabuk hitam sejak pertengahan kelas dua SMA. Jalannya petantang-petenteng, mirip preman di sinetron. Rok yang tomboy punya cuma rok sekolah, sisanya celana. Mau ke gereja juga pakai celana, untungnya masih celana bahan. Dengan tinggi 157 cm dan berat 45 kg, Tomboy termasuk mungil. Waktu masih kecil, kulit Tomboy bersih bersinar, sekarang sudah menghitam karena suka panjat tebing. Matanya besar dan bola matanya hitam, memang cocok buat Tomboy yang selalu penasaran sama urusan orang lain. Kulit mukanya bersih licin, selicin singa laut.

Tapi tiga bulan ini lebih sering harga minyak goreng naik turun dibanding munculnya teriakan si Tomboy. Aku memang enggak terlalu ‘ngeh’ dengan hal apa saja yang terjadi di rumah. Suatu kali aku lagi cuci motor dan minta mbak Nur nyalain kran air. Aku kaget setengah napas karena yang muncul bukan mbak Nur, tapi lelaki berjambul dengan kumis ala “Si Doel Anak Sekolahan”. Hampir saja kepalanya benjol karena emberku, untunglah Mama cepat muncul dan mengabarkan bahwa pria berkumis itu adalah pembantu baru kami, sejak tiga hari lalu!! Dueeeeenk!!

Mungkin aku cuek, tapi perubahan Tomboy adalah hal yang sangat menarik perhatian. Istilahnya, seperti seorang nenek pakai baju jogging warna pink, celana ketat warna hijau, sekaligus pakai high heels di depan pintu mall. Mencolok banget gitu loh!

Misalnya kemarin pagi. Aku serasa mendapat serangan jantung. “Beneran nih lagunya Hillsong?” Pikirku waktu mendengar ‘King of Majesty’ dari kamar si Tomboy. Walau aku buta dengan lagu-lagu rohani, tapi kalau Hillsong ya tahu sedikitlah.

“Lu demam yak?” Punggung tanganku menutupi dahi Tomboy, mengecek apakah dia sedang pilek atau terkena demam kemarau.

“Ih oncom, apaan sih lu ah!” Tomboy menepis tanganku.

“Lagu dari mana tuh?”

“Dari Sarah. Enak kan? Gue suka banget deh sama lagu-lagunya Hillsong. Lagu-lagunya TW juga enak. Terus…”

“Lu sakit, Boy?” Potongku cepat.

Tomboy pun berlalu sambil nyengir lebar.

Kejanggalan kembali terjadi sore ini. Yang ini benar-benar bikin serangan jantung. Tomboy masuk ke kamarku untuk mengambil haedset yang kupinjam. Begini urutan kejadiannya: Kejanggalan pertama, “tok…Tok… Tok”, Tomboy mengetuk pintu kamarku, padahal biasanya, “kreeet… Gubrak”, masuk tiba-tiba persis anggota SWAT di film action. Kejanggalan kedua, “bang, headset gue mana?” Dan aku mendarat mulus dari tempat tidurku menuju lantai yang dingin.

“Lu manggil sapa, Boy?” Kataku sambil menengok kanan kiri. Siapa tahu ada orang lain di kamarku.

“Hahaha… Ya elu lah. Headset gue mana?”

“Di… Di… Di atas meja”, aku gagap.

“Oke bang”. Dan Tomboy pun kembali nyengir seraya menutup pintu pelan.

“Abaaaaaang?!!” Aku histeris di dalam kamar. Oncom adalah penggilannya kepadaku, karena aku suka pepes oncom. Dan Tomboy tahu dengan pasti aku kesal dengan julukan itu. Ya iyalah, masa muka ganteng nan cool ini dipanggil oncom?! Tapi, abang? Nooo!! Delapan belas tahun Tomboy menjadi adikku (yang aku akui di depan semua orang bahwa Tomboy adalah anak tetanggaku), baru kali ini manggil aku abang, pake senyum pula! Alamak!

Umurku memang 22 tahun, tapi menghabiskan hari-hari bersama Tomboy tak pernah ada bosannya. Berantem sih iya, justru itu yang bikin rumah jadi enggak membosankan. Selain berantem aku sering menonton film, main ke dufan, panjat tebing, camping di gunung, dan main monopoli sama Tomboy. Tapi sekarang sudah enggak pernah! Rasa penasaran ini tak terbendung lagi. Aku pun menjadi detektif dan mulai menelusuri misteri ini…

Tuut… Tuut…

“Halo?”

“Wooi, Na. Si Tomboy kemana? Kok belum pulang?” Seruku pada Rina, teman dekat tomboy.

“Ga tau, kak, bubar kelas kita langsung pisah. Lu telepon ajalah”

“Ogah! Kok lu ga pernah bareng Tomboy lagi?

“Lu tanya aja sendiri sama dia. Mulai sombong tuh anak punya temen-temen baru”. Rina menjawab ketus.

“Oh, okelah. Tengkiu yak”.

Telepon putus. Aneh… Rina aja enggak tahu dimana Tomboy berada. Nelepon Tomboy? Sorry layaw! Nanti kedokku sebagai detektif terbongkar, enggak seruuu! Tapi minimal sudah ada dua fakta: satu, Tomboy punya teman-teman baru. Dan dua, suara si Rina di telepon cempreng banget.

Aku pun melanjutkan penyelidikan. Aku ambil handphone dan mulai memijit nomor telepon Via, cewe berambut panjang yang sering bolak-balik ke kamar Tomboy belakangan ini.

Tuut… Tuut…

“Halo?”

“Ni gue, Andrew. Ada tomboy ga?”

“Oh, ada kak. Ni kita abis ibadah Jumat di sekolah. Mau ngomong langsung sama Ribka?”

“Ibadah?!” Melon yang sedang kukunyah hampir nyangkut di tenggorokan. “Ga usah, jangan bilang gue nelepon yak. Betewe, gue mo nanya Vi…”. Perbincangan pun berlanjut hingga setengah jam berikutnya…

Tahulah aku bahwa Tomboy mulai ikutan ibadah jumat di SMA-nya sejak enam bulan lalu, tepatnya waktu ia naik kelas tiga. Dan sejak ia ikut retreat tiga bulan lalu, itulah awal mula aku merasakan keanehan pada Tomboy. Tiga bulan ini tiap malam minggu Tomboy selalu ngeloyor pergi, dan baru aku tahu dari Via, bahwa ia pergi ke komsel barunya, komsel dari gereja Via. Minggu kemarin ketika kami sekeluarga mau berangkat ke gereja, Tomboy pakai rok warna hitam dengan kemeja hitam. Mata kami sekeluarga hampir melompat persis kodok di kali. Walaupun gaya pakaiannya kaya mau melayat ke rumah duka, tapi rok?! Tomboy pakai rok walaupun masih bergaya gothic. Enggak ada lagi levi’s butut robek-robek atau kaus oblong kalau Tomboy keluar rumah. Ia tetap memakai jeans dan kaus, tapi yang enggak ada robeknya. Enggak ada lagi gelang dan kalung berantai berduri yang memang norak, tapi keren menurut Tomboy. Itu semua dimuseumkan. Waw!

***

“Cabut yu”, ajakku pada Tomboy yang sedang duduk di kursi goyang sambil membaca buku bersampul biru muda.

“Kemana?” jawab tomboy tanpa mengalihkan matanya dari huruf-huruf di buku itu.

“Ke mana kek! Ke Ancol, ke Monas, ke warung makan padang, terserah lu lah”

“Nanti ya bang, abis gue baca buku ini”, Tomboy menjawab santai.

“Ah elah, baca apaan sih lu? ‘Tuhan Datang Mendekat’, Max Lucado. Ajigileee, tobat lu ye? Bacaannya berat cuy”. Kataku sambil menjitak kepala Tomboy.

“Ah, sakit oncom.” Jawab Tomboy dengan ketus.

“Beh, kalo dijitak lu manggil gw oncom lagi. Sini gue jitakin supaya lu waras lagi.” Kataku sambil menjitaki kepala Tomboy.

“Aaaah! Iya iya, kita jalan. Tapi lu ikut gue dulu ya.”

“Kemana?” Tanyaku heran.

“Ke komsel.”

“Ogah!” Dan kami pun tiba di komsel gereja Via dua jam berikutnya.

Kesan pertama di komsel ini: menyenangkan. Cuma ada lima belas orang, sembilan cewe dan enam cowo. Semuanya ramah. Musiknya cuma gitar, tapi justru terasa khidmat. Dari kecil aku dan Tomboy udah biasa ke gereja. Sama Mama, Papa juga. Papa bilang enggak enak kalau enggak gereja, soalnya salah satu petinggi gereja ini adalah bos Papa sejak zaman dahulu kala.  Di gereja tempat kami ibadah orangnya sibuk semua. Ada pejabat, artis, sampai reporter berita kriminal. Karena mereka orang sibuk, kami jaraaaaaaang banget ngobrol sama orang-orang gereja kami. Selesai ibadah ya pulang, masa mau nyapuin lantai gereja? Lagian makin lama si Via kelihatan tambah manis, lumayan datang komsel buat PDKT. Hehehe…

Setelah komsel, aku dan Tomboy mampir dulu ke cafe favorit kami. Kami berdua memesan spaghetti dan orange juice. Aku sudah melahap seperempat spaghetti ketika kulihat tomboy berdoa.

“Amin”. Tomboy menyelesaikan doanya, aku masih terpana.

“Boy, lu ngapain barusan?”

“Nyuci beras. Ya berdoa lah. Sebelum makan tuh berdoa dulu.” Tomboy menyeruput orange juice dan mulai menyantap spaghetti-nya.

“Yaelah, biasanya juga langsung makan aja. Lagian kan ini di tempat umum Boy. Malu ah kalo pake berdoa.”

“Lah, kan kita udah bayar pajak. Orang yang ga bayar pajak, baru tuh malu.” Tomboy melawak. Sama sekali enggak lucu.

“Berdoa tuh di rumah sama di gereja aja, Boy. Lagian kan kita cuma makan mie. Kalo makan nasi baru berdoa.” Kataku dengan gaya ‘gue-paling-tau.’

“Lah, apa bedanya nasi sama mie?”

“Kalo nasi kecil-kecil warna putih, kalo mie keriting warna kuning.” Jawabku mantap.

“Hahahaha! Eh bang, Yesus aja berdoa dulu sebelum makan roti sama murid-murid-Nya, lah kita makan mie masa ga doa? Dosa tau bang.”

“Sok tau lu!” Dan aku pun menghabiskan makan malam itu dengan rasa berdosa.

***

Sore ini aku duduk santai di teras setelah memandikan ‘si belalang tempur’, mobil kesayanganku. Kugigit choco chips dan menyeruput melon juice. Angin semilir membuat mataku terpejam membayangkan sosok manis Via. Belum utuh Via muncul dalam khayalanku, ‘cluk’, ada sesuatu yang menyentuh hidungku. Aku bangun dengan kaget, dan melihat pesawat terbang kertas di pangkuanku. Kubuka lipatannya dan membaca sebaris pantun disana,

buah mangga enak rasanya

apalagi ditambah gula

jangan suka berkhayal tak guna

hanya akan menambah dosa

Sial! Aku bersiap bangkit dari kursi dan menjitak kepala Tomboy yang sedang duduk cekikikan di atas kap “si belalang tempur” yang sedang kujemur. Namun gerakanku terhenti ketika kulihat beberapa lembar HVS dan sebuah pulpen di atas meja di sampingku. Oooh, mau main lempar-lemparan pesawat terbang? Boleh! Ku ambil selembar HVS dengan garang dan mulai menulis. Selesai, lalu kuterbangkan pesawat kertas itu sengaja ke pohon mangga. Tomboy buru-buru turun dan segera memanjat pohon mangga. Aku tertawa terbahak-bahak. Kubuat pantun dengan tulisan seperti ini,

anak kancil masih kecil

si tomboy centil, suka ngupil

Dan sore itu kami habiskan dengan pesawat kertas yang berterbangan di angkasa.

***

Badanku nyeri, pegaaaaaal!! Sehabis nge-band memang paling enak duduk di kasur sambil menikmati segelas orange juice dan sekaleng choco chips, yuuuuummy… Baru saja mbak Nur meletakkan orange juice di meja kamarku, teriakan Mama kembali bergema di rumah berlantai dua ini.

“Ya udah lah terserah. Papa kan emang gak pernah mau tau urusan keluarga!”

“Loh kok jadi Papa yang salah? Kenapa bukannya Mama aja yang pergi? Itu kan pestanya saudara Mama. Ngapain jadi Papa ikut-ikutan?” Suara Papa tak kalah menggema dari suara Mama.

“Tuh kan, tuh kan, mulai lagi!  Di pesta itu kan temanya jungle. Harus pake baju macam loreng-loreng macan. Mama gak mau pake baju loreng-loreng!!! Papa aja yang pergi!!!”

Sementara suara Mama semakin tinggi, Tomboy masuk dan merampas sekaleng  choco chips dari tanganku. Tomboy makan tiga choco chips sekali lahap. Ia duduk di sampingku sambil terus mengunyah.

“Papa juga gak mau pake baju loreng-loreng.” Suara Papa tak kalah tinggi.

“Papa egois.” Mama teriak.

“TERSERAH!!” Papa teriak lebih kencang.

“AAAAAARRRRGGGGHHHH!!!!” Waw, ternyata teriakan Mama lebih kencang lagi. Ya ampun, baju loreng-loreng saja jadi masalah. Konyol! Tapi pertengkaran seperti ini sudah sering terjadi, tak terhitung. Tentang bulu kucing di sepatu Mama, dasi gambar bunga melati punya Papa, ayam tetangga yang masuk ke garasi, hal-hal semacam itu bisa bikin rumah ini ramai. Di kamar, di teras, di tempat kerja, di mall, di mana-mana mereka gemar sekali berselisih paham.  Aku dan Tomboy terus saja mengunyah choco chips. Hal seperti ini menjadi biasa bagi kami. Ya, sepertinya kami terbiasa. Namun sebenarnya hati kami tidak pernah terbiasa…

***

Aku pernah menanyakan pada Tomboy tentang panggilan barunya kepadaku. Ia menjawab sambil nyengir, “si Via aja manggil kakak sepupunya pake abang, masa gue panggil elu oncom. Hehe.” Aku juga bertanya tentang Rina, Mela, Jhony, dan teman-teman gank-nya yang sudah enggak pernah lagi datang ke rumah.

“Gue diajauhin mereka, bang.” Tomboy menjawab santai.

“Hah? Kenapa? Lu ga mandi lagi? Sabun di rumah lu gigitin lagi? Ampuun dah Boy.”

“Bukaaan!” Tomboy menjawab sewot. Aku sudah mengambil bantal kursi untuk menutupi kepalaku, bersiap menangkis tonjokan Tomboy. Tapi enggak ada tonjokan, heran juga. Aku pun melanjutkan bertanya.

“Terus?”

“Gara-gara tiap Jumat, Sabtu, gue ga jalan lagi sama mereka. Kan gue kebaktian. Lagian ya bang, gue cape maen sama mereka. Ke mall muluuu. Ngomonginnya cowooo mulu, bosen!”

“Boy, kalo boleh tanya, kalo boleh nih ya, lu dikasih makan apa sih di retreat sekolah?”

“Kenapa bang? Penasaran yak?” Tomboy nyengir jahil.

“Dih. Pede lu!”

“Hahahahaha.” Tomboy tertawa keras sebelum akhirnya melanjutkan, “di retreat itu gue dapet banyak hal, bang. Mengenal Yesus dari cara yang berbeda. Selama ini gue kira Yesus itu sosok yang kaku, yang tinggalnya di langit sana. Hehehe. Gue juga belajar tentang pengampunan, dan ternyata kebaktian sama temen-temen enak loh. Nyanyi-nyanyi, cerita-cerita, dan lu tau ga bang…”

Perbincangan kami eggak berhenti hanya hari itu. Entah mengapa, aku penasaran sekali dengan perubahan Tomboy. Cara bicara, berjalan, makan, bahkan rambutnya dibiarkan tumbuh melewati telinganya, membuatku terus bertanya tentang perubahannya. Kami masih sering ke bioskop menonton film action, panjat tebing, bahkan camping. Tapi kusadari, waktu kami mulai sering kami habiskan dengan bercerita tentang Yesus, kadang bersama teman-teman komsel, kadang hanya kami berdua. Kami duduk di teras, aku bermain gitar dan kami berdua bernyanyi lagu yang kami tahu dari komsel, juga dari CD lagu-lagu rohani yang kami putar di rumah dan di dalam mobil. Kadang aku dan Tomboy duduk di kamarku dan kami saling bercerita, tentang apa saja, sekolah, kucing tetangga, bahkan tentang cita-cita dan keluarga. Sesuatu yang tidak pernah kami perbincangkan di tengah keributan kami di hari-hari yang lalu. Aku kaget sampai lagi-lagi jatuh dari tempat tidur, ketika Tomboy bercerita bahwa ia suka dengan Michael, salah satu anak komsel. Tomboy suka cowo? Dueeeeenk!!

Suatu kali aku pernah berselisih paham dengan Roy, anak komsel juga. Aku sangat kesal karena Roy menyebut aku dan Tomboy sebagai anak ayam. Memang kami baru mengenal Yesus dengan cara yang berbeda, dengan nuansa yang berbeda. Sebutan anak ayam jelas-jelas menjadikan kami sebagai “pengikut” Kristus yang sangat tidak berharga. Aku memutuskan untuk tidak lagi datang ke komsel. Sudah untung muka Roy tidak kujadikan abstrak! Tapi Tomboy datang ke kamarku, aku tahu bahwa ia akan membujukku tapi ini tidak akan berhasil. Voila, ternyata dugaanku salah. Tomboy bilang ia juga enggak suka Roy, apalagi bila Roy datang dengan jambul 5 cm yang super norak. Tapi Yesus akan tetap hadir di komsel dengan atau tanpa Roy, jadi kenapa aku dan Tomboy tidak datang komsel karena Roy? Bukankah itu berarti aku dan Tomboy lebih peduli dengan Roy dibanding Yesus? Setelah Tomboy keluar dari kamarku, aku mematikan lampu dan berdoa “Tuhan Yesus, aku merasa ini ga adil buatku dan Tomboy. Tapi aku tau, Kau bukan Tuhan yang kurang kerjaan dan merancangkan hal yang gak penting buat kami. Ini penting, dan saat ini aku mau membuka hatiku untuk maapin Roy. Maapin aku juga ya Tuhan. Dalam nama Yesus, amin.”

Semua berjalan menyenangkan, semua hari terasa baru dan kami merasa bersemangat. Sampai tiba hari aku menerima kabar itu, kabar yang mengguncang duniaku seakan bumi tiba-tiba kehilangan gaya gravitasi dan meluncur drastis dari porosnya. Hari yang tidak akan kulupa, hari ketika Tomboy…

Advertisements