Cinta Empat Musim

jiwaku merantau pada padang tandus di bawah matahari terik
menapaki debu di tanah berbatu dan tanah yang pecah karena panas
tersembunyi pada dahan kering  yang pun tidak memberi sedikit teduh
menjauhi Air Hidup dari dahaga yang tiada taranya

harapku seperti dedaunan jati yang berjatuhan pada musim gugur
menutupi butiran tanah coklat dengan tangkai yang layu dan semburat hitam yang menggantikan masa segarnya daun
mengikuti angin yang membawa jauh dari Pohon Hidup

hatiku adalah salju di gunung tinggi yang membentuk es dalam kabut
membeku dalam hari-hari yang tiada berasa dan kaku
membongkah dan menjulang pada puncak gunung dan melihat segala dalam ketinggian
mengacuhkan Sinar yang mengatasi kebekuan
tetap meninggi dalam kesunyian

saat Sinar dari atas gunung tinggi membangunkan aku dari beku berkepanjangan
aku masih tidak berani menatap-Nya yang begitu kemilau
saat suara dari Pohon Hidup menggema untuk membuatku bertahan
aku tetap meminta angin membawaku ke tempat yang tidak pernah kubayangkan
saat aku haus dan mencari-cari kepuasan dari sumur yang terdalam
aku menolak Air Hidup yang berjanji memuaskanku untuk selamanya

tapi, Dia tidak pernah menyerah
lihat! Dia membuat musim semi!
Ia membuat aliran air yang tiada habisnya dan jiwaku meneguk kesegaran baru
harapku merekah seperti bunga merah muda juga lebih indah dan melekat kuat pada Pohon Hidup
hatiku sudah turun dari gunung tinggi
Ia menghangatkanku dari kebekuan yang sunyi

mungkin,
akan ada lagi hari dengan matahari menyengat pada jiwaku
juga daun jati yang berguguran tentang masa depanku
dan salju yang turun menyelimuti hatiku
tapi,
akan selalu ada musim semi dengan hari-hari yang baru
musim yang mengganti duka menjadi suka
dan di segala hari, Ia selalu ada
aku sudah merasakannya
Dia sudah membuktikannya

Advertisements