Especially Made 4 Richis!^^

Hollaaaa ^^ tepat di akhir bulan Maret ini saya kembali akan menuliskan sesuatu di sini. Apakah itu? Kali ini lain daripada yang lain.. Sesuatu yang berbeda.. Sesuatu yang sangat signifikan.. Sesuatu yang luar biasa! ++cukup hiperbulanya -,-“ Yak! saya akan menuliskan tugas langsung dari Ketua FEC kita – Sdri. Richillia yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan FEC ^^

Ehehehehe… Tugas ini sangat menyenangkan loouuh! Karena membawa berkat juga kepada saya yang dipercayakan untuk melakukannya! Terima kasih ya Richillia Richesse Crackers! ^^

Jadi berhubung beberapa waktu yang lalu henpunnya ketua FEC kita hilang *turut berduka* akhirnya Richis tidak bisa mendengarkan acara radio favoritnya setiap hari Selasa malam jam 9.00 – Suara Kebenaran, khotbah yang dibawakan oleh Pdt. Erastus Sabdono. Karena itulah Richis minta tolong gua buat dengerin ‘n bagiin apa yang didapet setelah mendengarkan acara tersebut. Nah karena itulah, daripada cuma bagiin ke Richis aja, mending gua tulis di sini juga. Sapa tau ada yang mo baca juga =D

Oke deeeh kayanya prolognya kepanjangan *aslinya rangkuman gua takutnya kedikitan jadi biar keliatan banyak gua panjang2in aja paragraf2 pembukaannya T.T Ehhehehe ayo kita mulai! Ohya buat Richis, serius deh khotbahnya minggu ini lumayan berat xD jadi mu’uph yah kalo rangkumannya mungkin gak jelas. Saya mencoba sebisa saya \(*,*)/

Baik yang Seperti Apa?

Kita sering mendengar ungkapan yang kira-kira seperti ini “Orang Kristen diselamatkan bukan karena perbuatan baik, tapi justru karena sudah diselamatkan orang Kristen melakukan perbuatan baik.” Tapi yang jadi pertanyaannya adalah, perbuatan baik yang seperti apa?

Apa yang membedakan orang Kristen dengan orang-orang di luar Kristen? Dapatkah orang-orang di luar Kristen melakukan perbuatan baik? Mampukah mereka melakukan perbuatan yang luar biasa baik tanpa mengenal Allah yang benar? Ya! Jawabannya bisa! Bisa banget malah..

Roma 2:14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri.
2:15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.

Nah terus apa donk yang membedakan perbuatan baik kita dengan perbuatan baik orang-orang yang tidak mengenal Allah yang benar? Jawabannya adalah kebaikan yang mereka lakukan adalah kebaikan yang mungkin saja tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sementara kita, standarnya bukan hanya melakukan ‘perbuatan baik’ saja tapi perbuatan baik yang sesuai dengan kehendak Allah.

Seperti yang Yesus katakan dalam Matius 19:16-17

Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.”

Menuruti segala perintah Allah adalah standar yang perbuatan baik kita. Sewaktu manusia belum jatuh dalam dosa, manusia tidak memerlukan perintah atau hukum-hukum, karena roh manusia dengan Roh Allah berhubungan langsung, sehingga manusia dapat mengerti kehendak Allah tanpa adanya peraturan/hukum. Namun setelah manusia jatuh ke dalam dosa kita tidak dapat lagi memahami kehendak Allah, yang akhirnya membuat Tuhan terpaksa membuat peraturan-peraturan. Namun karena Yesus telah datang ke dunia dan mengadakan pendamaian, maka kita pun menerima Roh Kudus yang dapat membuat kita memahami kehendak Allah.

Jadi kita bukan lagi dipanggil untuk hanya melakukan perbuatan baik biasa tapi kita dipanggil untuk mengerti kehendak Allah. Seseorang bisa saja ke gereja setiap minggu melakukan pelayanan, mempersembahkan perpuluhan dan mengerjakan hal2 baik lainnya tapi belum tentu orang tersebut mengerti kehendak Allah. Yesus mengatakan “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” itulah standar kita sebagai orang Kristen – Dipanggil untuk menjadi Sempurna.

Advertisements