Updates from July, 2010 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • evnov 8:32 am on July 30, 2010 Permalink | Reply  

    Ketika Tomboy… 

    Part II of Ketika Tomboy…

    Ketika Tomboy sakit…

    “Tomboy sakit kanker.” Mama menangis histeris saat mengatakan tiga kata itu di depan kamar Tomboy di RSCM. Aku bengong, tidak bisa menyerap dengan sempurna tiga kata singkat itu. Sampai kurasakan lututku lemas dan tidak dapat menahan bobotku hingga aku terjongkok. Dan kurasakan air mata hangat mengalir membasahi kerah kemejaku.

    Memang sudah sebulan ini Tomboy terlihat pucat. Ia tidak nafsu makan dan terlihat sakit. Kami pikir Tomboy hanya pilek, ia memang mudah terserang pilek. Dua minggu yang lalu Tomboy mimisan, kami pikir ini hal biasa karena toh ia sering juga mimisan. Beberapa hari setelahnya, Tomboy mimisan lagi dan lagi, darah mengucur bagai air kran wastafel. Muncul bintik-bintik merah pada tangannya dan ia demam tinggi. Kami membawanya ke dokter keluarga, namun tiba-tiba saja Tomboy dirujuk ke RSCM dan menjalani serangakaian tes darah dan sebagainya sampai berita ini sampai ke telinga kami.

    Mama, Papa, dan aku duduk di ruangan dr.Martin, mendengar sang dokter memaparkan hasil tes. Tomboy mengidap kanker darah yang juga dikenal sebagai leukimia. Kanker ini menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang. Normalnya, tubuh manusia akan memberikan tanda secara teratur tentang waktunya sel darah direproduksi kembali. Pada leukimia, sel darah putih tidak merespon tanda itu, sehingga produksi sel darah putih tidak terkontrol atau abnormal. Dokter masih menjelaskan panjang lebar tentang leukimia, baik dugaan penyebab penyakit seperti radiasi, herediter, beberapa nama virus yang sulit kutangkap, juga langkah pengobatan dengan chemotherapy, transplantasi sumsum tulang, tranfusi darah dan sebagainya. Aku berusaha mendengarkan setiap kata dari dokter, namun yang jelas ku dengar hanyalah isak tangis Mama dan desahan napas Papa. Kepalaku tertunduk, lututku gemetar. Kurasakan keringat membanjiri tengkukku di ruangan ber-AC ini. Aku coba untuk tetap mendengar dokter, dan aku menyesal telah berusaha sekuat tenaga mendengar bahwa kemungkinan Tomboy mengidap leukemia akut yang ditandai dengan perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk. Aku merasa pusing. Kursiku seperti bergoyang dan aku ingin muntah. Kudekap dadaku erat, berusaha menenangkan jantung yang seperti ingin melompat keluar dari tubuhku. Pandanganku kabur, dan air mataku mengalir lagi.

    Aku duduk menghadap Tomboy. Kulihat garis nyata berupa tulang yang menonjol pada pipi dan rahangnya. Lalu matanya terbuka.

    “Udah bangun, Boy? Ih, elap tuh iler lu”. Kataku sembari mengernyitkan hidung. Tomboy mengusap ujung bibirnya sambil nyegir lebar.

    “Gue udah tau bang. Gue paksa Papa cerita”. Kami terdiam, cukup lama hingga suara, “tik… Tik… Tik…” dari jam dinding terdengar begitu nyaring.

    “Bang.”

    “Ya?” Aku menjawab pelan.

    Lama kami kembali terdiam sampai Tomboy berkata, “gue takut… gue takut bang.” Suara Tomboy begitu pelan hingga terdengar seperti desahan. Kulihat airmatanya turun membasahi punggung tangannya. Aku mendekat dan kuangkat kedua tanganku untuk memeluknya, suatu hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Kurasakan tubuhnya bergetar, airmatanya membasahi pundakku. Tubuhnya begitu kecil, aku seperti memeluk rangka manusia. Kubelai rambutnya, dan kuhirup aroma shampoo lidah buaya favoritnya.

    “Gue takuut… Gue… Gue… Takut bang…” Isakan tomboy semakin keras, aku memeluknya kian erat. Tak ada kata yang keluar dari mulut kami, hanya air mata yang menganak sungai.

    ***

    Aku duduk di tempat tidur Tomboy. Kuambil bantal guling butut yang sudah dipakainya sejak kelas dua SD. Kuraih foto berbingkai hitam di atas rak, foto setelah kami bermain basket di Senayan. Aaah… Rumah sepi sekali tanpa Tomboy. Sudah sebulan sejak ia masuk rumah sakit. Tomboy yang cerewet, yang berlari kian kemari di dalam dan luar rumah persis seperti kancil di cerita anak-anak, Tomboy yang bersabuk hitam, kini tertidur di kamar rumah sakit dengan pakaian tidur bergaris biru. Kupeluk bantal guling Tomboy, dan kuucapkan doa yang selalu kuutarakan, pagi, siang, sore, malam, di mobil, di kamar, di kampus, bahkan di meja makan.

    “Tuhan, aku janji enggak bakal berantem sama Tomboy lagi, aku bakal selesein kuliahku yang udah kegantung dua tahun, aku udah mutusin Chika dan Meyla dan janji gak bakal selingkuh lagi, aku udah bakar semua majalah dan dvd porno yang aku punya. Aku juga bakal melayani-Mu, jadi pemain musik di gereja, di komsel, aku bakal sering amal ke panti asuhan. So, please God, please, tolong sembuhin Tomboy. Kau harapanku satu-satunya. Thx God, dalam nama Yesus, amin.”

    ***

    “Hai Ribka. Gimana, udah baikan?” Michael muncul di pintu.

    “Ha… Hai bang!! Wah, tum.. Tumben dateng sendiri. Masuk, bang.” Tomboy segera duduk tegak di atas tempat tidurnya. Tangannya menyisir poninya yang berantakan. Matanya mendelik padaku dengan tatapan “kok-gak-bilang-bang-Michael-mau-dateng!!” Aku tersenyum geli.

    Aku pamit keluar untuk menebus obat. Tomboy menyatukan kedua telapak tangannya sebagai simbol terima kasih karena aku membiarkan mereka mengobrol di kamar tanpaku. Sekilas aku melihat mata Tomboy berkaca-kaca saat Michael menaruh seikat bunga mawar merah di dalam vas berisi air. Bunga mawar merah yang kuberikan pada Michael, yang susah payah kurayu agar mau menjenguk Tomboy tanpa teman-teman komsel. Aku tahu ini salah. Tapi apapun akan kulakukan untuk membuat Tomboy senang. Apapun itu…

    Tiga minggu setelah Tomboy pulang dari Singapura, kesehatan Tomboy tak juga membaik. Ia kerap kali muntah darah. Chemotherapy yang dijalaninya serasa tak membantu. Setiap kali ia muntah darah, jantungku selalu ingin melompat keluar. Kerongkonganku serasa basah oleh darah. Suatu kali saat Mama mengambil kelopak mawar di rambut Tomboy, kelopak itu terambil bersama segenggam penuh rambut Tomboy. Itulah sebabnya Tomboy memakai topi.

    Di waktu yang lain, gantungan handphone-ku menggelinding ke bawah tempat tidurnya. Dan disana aku menemukan beberapa butir obat.

    “Apaan nih?” Kataku sambil menunjukkan beberapa obat di genggamanku ke depan hidung Tomboy. Ia hanya tertunduk.

    “Jawab.” Kataku dengan nada menahan marah. Tomboy tetap diam. Ia juga mulai ketakutan.

    “JAWAAAAB!!! Aku membentak sambil melempar obat dalam genggamanku ke lantai. Tomboy mulai terisak dan meringkuk di atas tempat tidurnya. Aku membanting tempat minum plastik dengan erangan yang tertahan dalam kerongkongan, hingga aku terdengar seperti anjing yang ekornya terjepit, erangan marah sekaligus menyakitkan.

    “Gampang banget lu ya buang-buang obat!! Lu ga tau nih obat mahal?!! Bukan-bukan ini yang mau aku katakan.

    “Susah-susah Papa masukin lu ke rumah sakit, ga tau terima kasih!!” Tidak. Bukan. Tidak kata-kata ini yang ingin aku katakan. Sementara itu Tomboy terisak semakin keras.

    “Gue… Gu…Gue…” Aku berkata sambil menarik napas tertahan.

    “GUE GA PENGEN LU MATIII!!!!” Ya, inilah yang ingin sekali aku katakan.

    Aku segera keluar kamar dan jongkok di depan pintu kamarnya. Dapat kudengar jelas tangisan Tomboy. Tangis yang tidak ingin aku dengar, yang membelah hatiku menjadi sayatan-sayatan kecil. Aku tak peduli dengan orang yang lalu-lalang. Aku sama sekali tak peduli bahkan ketika air mataku jatuh, lagi dan lagi.

    Aku bisa terima, saat belalang tempurku harus dijual dan kini aku memakai motor. Aku juga terima, ketika Papa cerita tentang biaya yang sangat besar untuk pengobatan Tomboy. Aku tahan dengan Mama yang selalu menangis di depan mataku. Namun yang tidak bisa kuterima adalah Tomboy yang terbaring sakit. Yang seringkali kudapati menangis diam-diam di atas tempat tidurnya. Tomboy yang minum berpuluh-puluh tablet obat setiap hari. Semuanya terasa sangat menggangu sekaligus menyakitkan. Semuanya tidak masuk akal, ini terasa tidak benar.

    Di kamarku, aku duduk dengan Alkitab yang tertutup di pangkuanku. Tak ada ayat yang terbaca malam ini. Aku memejamkan mataku dan mulai mengadu, “Tuhan, aku ga pernah semerana ini. Saat aku bangun, aku takut hari ini akan berjalan tanpa Tomboy. Aku takut nerima telepon dari Mama dan Papa untuk kabar yang selamanya ga ingin aku denger. Tidurku ga nyenyak, makan apapun ga terasa enak. Rasanya aku bakal mati duluan dibanding Tomboy karena ketakutanku. Aku rela, rela Tuhan… Menukar hidupku untuk hidup Tomboy. Kau satu-satunya harapan kami. Tolong, jangan Tuhan, jangan biarkan Tomboy menutup mata sebelum mataku tertutup. Kumohon… Kumohon…”

    ***

    Kami duduk menempel di atas tempat tidur dengan kitab Mazmur yang terbuka di pangkuanku. Seperti yang seringkali kami lakukan, bersamaan kami membaca Mazmur favorit kami,

    Mazmur 46:2-4

    Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.

    “Bang, kalo udah sembuh, gue mau ke Yerusalem.” Tomboy memulai pembicaraan. Cengirannya lebar dan jahil. Aku mengacak rambutnya perlahan.

    “Iya, nanti kita juga poto-poto ke Betlehem, terus kita juga main air di sungai Yordan, ngerujak di Kanaan. Makanya lu cepetan sembuh.”

    Tomboy mengangguk pelan. Kurasakan semangat yang meluap dari hatinya menular ke hatiku. Kurasa, Tomboy akan segera sembuh. Terngiang kembali Mazmur favorit kami, “Allah itu tempat perlindungan dan kekuatan, penolong dalam kesesakan. Sebab itu kita tidak akan takut…” Ya, kita tidak perlu takut.

    ***

    Tangan kami saling menggenggam. Papa memimpin doa pagi kami, yang dimulai dengan lagu, ‘selamat pagi, Bapa’ dan tetap dengan pokok doa, yakni kesembuhan Tomboy. Doa pagi bersama rutin kami lakukan semenjak Tomboy masuk RS. Semenjak itu pula, Banyak sekali yang ikut mendoakan keluarga kami dan Tomboy. Para Pendeta dari gereja Papa maupun dari gereja aku dan Tomboy (Papa dan kami sudah berbeda gereja), juga pemuda-remaja sering datang untuk mendoakan, menyemangati, dan menghibur kami. Bagus juga aku dan Papa berbeda gereja, makin banyak yang datang berdoa, makin baik kan? Sudah begini banyak yang berdoa, enggak mungkin Tuhan tak mendengar. Ia pasti mengabulkan doa kami, Tomboy akan sembuh.

    Aku dan Tomboy duduk di dekat jendela kamarnya di lantai atas. Aku menatapnya dengan senyum simpul. Dagunya tegas dan lancip, matanya bulat dengan bola mata hitam yang polos dan selalu ingin tahu. Kantong hitam besar dan tebal menggantung di bawah kelopak matanya. Tulang pipinya semakin menonjol, membentuk garis yang semakin hari semakin nyata. Kepalanya tak berambut. Kulit yang mati mengering di bibir kecilnya. Lalu Tomboy menangkap tatapanku dan mulai mengajukan pertanyaan.

    “Kenapa ngeliatin gue? Gue cantik banget ya? Hahaha…” Katanya lemah dengan tawa yang pelan.

    Aku menjulurkan lidah dan mengeluarkan suara seperti orang muntah. Tomboy kembali tertawa.

    “Iya, lu cantik.” Kataku bersungguh-sungguh. Tomboy membelalak tak percaya. Aku melanjutkan, “kalo diliat dari Monas pake sedotan Aqua.” Tomboy cemberut.

    “Woooo… Ngambek nii yee.”  Aku berusaha menggodanya. Bibir Tomboy bertambah manyun.

    Aku menyentuh dagu tomboy. Kubelai lembut pipinya dengan punggung tanganku. Kucubit pelan hidung mancungnya. Matanya menatap mataku. Aku tersenyum tulus.

    “Lu adalah wanita tercantik di seluruh dunia, yang pernah gue liat sumur idup gue.” Kata-kata itu meluncur mulus dari bibirku. Tomboy kembali membelalak tak percaya. Ia menunggu, kalau-kalau itu hanya gurauanku. Tapi aku tidak berkata apa-apa lagi. Tomboy menunduk.

    “Lebih cantik dari Via?” Tanyanya.

    “Iya lah. Lebih cantik juga dari Angelina Jolie, Dewi Persik, Mpok Nori, dari semua-semuanya deh.” Aku berkata dengan sangat yakin. Tomboy tertawa senang. Aku tidak bergurau. Tomboy adalah wanita tercantik di seluruh dunia, yang pernah kulihat seumur hidupku. Bahkan dengan tulang yang menonjol, kantung mata hitam yang menggantung, kepala tanpa rambut, kulit mati di bibirnya, dan penyakit yang menggerogoti tubuh dan hatinya, ia tetap wanita yang tercantik di seluruh dunia, dalam hidup dan hatiku.

    Selanjutnya kami sibuk melipat-lipat kertas berwarna biru muda, warna yang kini menjadi kesukaan Tomboy semenjak Michael datang membawakan topi biru muda. Angin sepoi-sepoi menyapu wajah kami dengan lembut. Setelah kami selesai membuat pesawat kertas, kami menerbangkannya ke luar jendela. Pesawat kertas itu jatuh menukik ke kepala dokter yang botak. Dokter itu berputar-putar mencari penerbang pesawat sambil memaki-maki. Kami bersembunyi di bawah jendela sambil tertawa histeris. Di dalam pesawat kertas, kami menulis doa dan harapan terbesar kami, “Tomboy and Oncom goes to Jerusalem.”

    ***

    Gerimis turun membasahi rumput hijau yang segar, yang terpotong dengan sangat rapi. Wangi bunga mawar dan potongan daun pandan bercampur dengan aroma tanah basah yang menyeruak ke tiap hidung para pengunjung makam. Matahari sore tidak nampak karena awan yang muram. Para wanita dan pria berbaju hitam menangis terisak. Peti diturunkan, mawar ditabur, daun pandan di tebar, air mata mengalir. Lagu puji-pujian di naikkan dengan sedih. Aku duduk di bawah pohon beringin, jauh dari kerumunan. Melipat kertas biru muda menjadi pesawat kertas…

     
    • lunniey 10:34 am on August 9, 2010 Permalink | Reply

      T.T huhuhu kok sedih jadinya ceritanya.. nih masih bersambung kaga @.@ masih panjang pan???

    • riuw 4:48 am on August 10, 2010 Permalink | Reply

      iyah, sediihh.. :’)

      msh brsambung yah??

    • evnov 4:36 am on August 12, 2010 Permalink | Reply

      udah gini aja ceritanya p.p
      chehehehe

    • lunniey 5:23 am on August 25, 2010 Permalink | Reply

      Aaaaaaaah sambungannya !!! T.T hiks2 masa ini 18 lembar sih??? gak nyampe ah kayanya >,<
      hayuu bikin lagi season berikutnya!!

    • evnov 10:44 am on August 26, 2010 Permalink | Reply

      dari awal juga udah jadi ini cerita, tinggal posting :D

      chahahaha

  • lunniey 12:29 pm on July 29, 2010 Permalink | Reply  

    Karena Dia Tahu Rasanya 

    Tadaaaa =D

    Saatnya kembali bercerita..

    Minggu kemarin bisa dibilang minggu yang hectic banget, ada kerjaan yang deadlinenya tuh akhir bulan. Jadi harus dikerjain buru-buru.. Kerjaannya => Masukin data yang ribuan jumlahnya.. Uh! Bikin pala kiyung-kiyung -,-” Tapi yang paling hebohnya adalah di sebuah hari yang cerah ceria ketika gua berhasil mengerjakan 1000 data lebih selama seharian penuh kejadian fantastis itu pun tercipta..

    Ketika waktunya tiba untuk menutup lembar Excel yang dengan susah payah telah tercipta..

    Pertanyaan terpenting hari itu..

    “Do you want to save the changes you made?”

    Dengan cantiknya gua mengklik “NO” -,-”

    Huwaaaaaaaaaaaaaa nangis darah deeeeeeeh… T.T yang bener aja kalo gua harus ngulang masukin data 1000 lebih lagi.. Memikirkannya saja sebuah siksaan yang sungguh tak terperi.. higz higzz… Tapi apa mau dikata, enggak ada cara apapun untuk mengembalikan data Excel yang secara tidak sengaja tidak ter-save. Sesal pun tiada guna…

    Di hari berikutnya, kejadian fantastis kembali tiba… Di FB FOS kan gua jualan buku buat bantu dana FEC. hari itu ada 1 orang yang mau pesen.. ternyata tinggalnya di Harapan Indah, pertama dia minta harganya dikurangin karena sama2 di Bekasi, gua bilang gak bisa, ongkirnya udah fixed kalo ke Bekasi juga itu 5ribu, dia bilang kalo ngambil sendiri bisa?  Ya silakan aja gua bilang, kalo ambil sendiri mah gak pake ongkir. Gua kasih tuh alamat lengkap gua. Eh… Ternyata dia gak gitu tahu daerah gua, dia bilang dia minta dianterin aja bukunya, tapi gak usah pake bayar ongkir *nahloh*. Gua dah jelasin situasinya di sms, dia malah ketawa-ketawa. Abis itu dia juga bilang kita gak niat jualan. Gua kasi tau lagi ke dia, kalo untungnya tuh 1 buku cuma 5rb.. Kalo mo nyuruh orang nganter ongkosnya aja udah lebih dari 5rb.. Trus dia malah bilang, ini katanya buat dana sosial kok malah ngomongin untung-rugi? Dosa kayak gitu *Gubraaaaaak nyolotin ajaaa…

    Gua bales sms dia, dia malah bilang, kalo mau ngajak debat boleh kok saya ladenin. Padahal penjelasan sederhana aja gak masuk logikanya dia … Asli.. gua kesel banget pagi itu… Untungnya Sa-Te pagi itu bener2 pas banget sama keadaan gua, judulnya – Kelewat Batas. Trus abis itu juga dapet rhema dari ayat yang sama yang Ci Grace pernah tulis di buku TMMCC ‘n kemaren juga sempet ditulis Inyung di buletin. Dan hari itu giliran ganti nampar gua =D

    “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” Fil 2:8

    Alasan kenapa gua kesel banget sama tu orang adalah karena gua merasa direndahkan.. Dan tamparan Tuhan hari itu lumayan keras.. Hehehe… Yaelah masa cuma gara-gara omongan yang begitu mengacaukan hari gua, yang emang udah cukup kacau dari malam sebelumnya? Lagian emang ada yang salah dengan kata-katanya? Biasa aja.. Biarin aja dibilang gak niat jualan atau cuma cari untung doank atau apapun itu.. Gak berhak sedikitpun gua membela diri untuk masalah sepele kayak gitu.. Lha Tuhan Yesus aja mau direndahin kok… Dia kan Raja gua, kalo Raja aja mau merendahkan diriNya dan gak ribut membela diri waktu dihina dan diludahi, masa gue, yang notabene adalah hamba-Nya ribut banget sih cuma dihina dikit di-sms… Ckckckkck.. Memalukan… *maaf ya Tuhan :’(*

    Akhirnya gua bales tu sms minta maaf tanpa mendebat lagi. Gua lanjutkan hari gua dengan doa dan kembali ngulang kerjaan gua yang kemarin hilang. Hari itu pun gua bisa ngerjain segalanya dengan baik dan mengakhirinya dengan ucapan syukur. That’s all because God is within me throughout the day ^^

    Eniwei, Kemarin gua baru baca bukunya Max Lucado – In The Eyes of The Storm… Whuaa baguss banget.. baru baca 3 Bab sih.. Isi bab-bab pertama itu intinya.. Kita semua pernah mengalami satu hari dimana keadaan yang tenang tiba-tiba menjadi kekacauan dalam sekejap. Hari dimana kita merasa bahwa beban yang ditumpukkan bertubi-tubi sudah melebihi kapasitas kita. Hari dimana kita merasa begitu lelah tapi tetap harus melakukan banyak hal. Dan hari seperti itu — Yesus pun pernah mengalaminya sebagai manusia, di awali dengan berita Yohanes Pembaptis yang mati karena dipancung kepalanya oleh Herodes, Yohanes Pembaptis ini sepupunya Yesus loh, coba aja kalo orang yang deket sama kita tiba2 meninggal mengenaskan. Pasti kita down banget, butuh waktu buat menyendiri dan menenangkan diri (Yesus juga 100% manusia ketika di dunia) Tapi apa yang terjadi? Ketika Yesus mau menyendiri dan menenangkan diri, ribuan orang datang berbondong-bondong mengikuti Dia, minta disembuhin, minta diajarin firman, dan pada akhirnya harus diberi makan juga.. Yup. di hari yang hectic tersebut karena Kasih-Nya Dia pun memberi makan 5000 orang lebih yang sama sekali gak pernah berpikir mengenai keadaan-Nya di hari itu.

    Kesimpulannya — Yesus tahu banget rasanya ketika kita berada di hari dimana kita merasa begitu sangat lelah, sangat sedih, sangat ingin marah karena hal yang bertubi-tubi terjadi. Tapi melewati kesemuanya itu Yesus tetap tenang. Dan karena Dia tahu rasanya, saat kita mengalami hal itu kita bisa datang pada-Nya. Dia adalah sumber sukacita dan damai sejahtera yang konstan. Jadi saat dunia kita jungkir balik dan tidak seperti biasanya, saat sukacita dan damai sejahtera kita hilang, itu berarti fokus kita udah gak lagi ke Yesus..

    Hufft… I don’t want to have that kind of day anymore.. But if I ever.. Please remind me about this.. Let me through it all calmly ..

     
    • evnov 8:25 am on July 30, 2010 Permalink | Reply

      kira2, Yesus pernah gak yaa seharian tidur2an, males2an, kaya orang2 yang liburan’a mpe 2 bulan? chehehe…

      Yesus itu bener2 teladan LUAR BIASA buat kita!! ^^

      dan lagi2, ka’lenong berhasil membuat saya semakin kagum tentang betapa ajaibnya DIa lwat tulisan’a ka’lenong :D

      nb: btw, lu mah bener2 dah kaa!! jgn ulangi lagi yaa :) )

      • lunniey 5:13 am on August 25, 2010 Permalink | Reply

        Chahahaha ngarep banget lu yah kemalasan lo ada pembenarannya xD Kerjakan liputan FEC -,-”
        Eniwei tq my darl^^

    • xtina 8:27 am on August 4, 2010 Permalink | Reply

      hahaha…baca ini, jadi inget kejadian semalem…sedikit share yaaa :)
      gondok banget nungguin driver kantor, pdhl gw uda mo pulang…d telp in ga d angkat2,,cuma bisa pasrah tuch…ampe di mobil masi gondok,,ampe kepikiran mo tulis status d jejaring sosial heheeh….
      tapiiii,,untungnya tiba2 aja muncul kata2 NO COMPLAINT, JUST THANKS GOD :D
      jadilah yg tadi nya gw uda kesel abis, jadi kalem lagi gara2 itu…
      jadi mikir,,cuma gara2 hal sepele gitu gw marah2…padahal gw sering banget bikin Tuhan kesel, cuma Tuhan ttp sabar kan ama gw :)

      dari situ bener2 bersyukur banget How Good is our God and He always give us the best ^^

      • lunniey 5:20 am on August 25, 2010 Permalink | Reply

        Chahahah sharenya mantap sist ^^ emang tuh kalo lagi bt, biasanya godaan paling utama jaman sekarang adalah menyebarkan ke-BTan kita lewat berbagai jejaring sosial.. Padahal kalo dipikir2 mah gakda untungnya, apalagi kalo yang lagi baca status kita orang yang lagi BT juga, yg ada tu orang jadi tmbah BT yah kita gak jd berkat deh^^

        Yup! gue juga gak pernah berhenti kagum sama Dia!!Indeed He is soo good to us ^^

        BTW, salam kenal yah Tina :D *kayanya blun kenalan nih…

    • riuw 5:07 am on August 6, 2010 Permalink | Reply

      Jesus is Man of the macth… Kapan gw pny pacar yg karakter’a kyk Yesus yah? Hhahaahaiii no body’s perfect..

      Kadang sbg manusia qt ga bs jd sempurna lun, ad bbrp sisi negatif yg mesti di benahi (termasuk gw jg). Tp klo qt udh mw membuka hati utk benahi titik negatif itu dgn gentle, elit and bijak pst smua akn baik2 saja. Yesus jg yg akn slalu menyempurnakan qt.. Klo udah melewati proses tsb ga prlu di sesali. Berkat’a bs jd pengalaman, pembenahan diri, jd artikel deh yg memberkati anak2 Tuhan yg lain, mantabbbb.

      Smangatsssssss…

      • lunniey 5:14 am on August 25, 2010 Permalink | Reply

        Yup bener bange tuh ri ^^ harus dengan gentle dan humble !! sip dah semangats juga yuh beb ^^

    • kicchan 8:30 am on September 8, 2010 Permalink | Reply

      Aku baru baca, bagus sekali kak! =))

      • lunniey 1:57 pm on September 8, 2010 Permalink | Reply

        Ah ada Kicchan ^^ arigato gozaimasu yo!!
        eh ikutan nulis yuuk :D

  • evnov 7:18 am on July 19, 2010 Permalink | Reply  

    Ketika Tomboy… 

    Kata pengantar: Ini cerbung (cerita bersambung) pertama saya *terharu*. Sebelum saya ajukan ke penerbit dengan harga 50 juta, saya publish dulu di mari :D

    Ketika Tomboy berubah…

    “Gue sumpahin lu jadi botaaaaaaak!!!”

    Biasanya teriakan itulah yang menggema tiap hari di rumah berlantai dua ini, teriakan si Ribka Syalomita yang adalah adik perempuanku satu-satunya. Perempuan? Di KTP sih tertulis begitu, tapi aslinya… Pria banget!! Ksatria, perkasa! Makanya aku enggak pernah manggil dia Ribka, mulut jadi asin kalau manggil dia pakai nama perempuan. Jadi aku panggil dia Ribko Santoso, tapi karena kepanjangan, aku panggil dia Tomboy.

    Selain rambutnya yang bondol kaya Afgan, Tomboy juga jago silat. Pemegang sabuk hitam sejak pertengahan kelas dua SMA. Jalannya petantang-petenteng, mirip preman di sinetron. Rok yang tomboy punya cuma rok sekolah, sisanya celana. Mau ke gereja juga pakai celana, untungnya masih celana bahan. Dengan tinggi 157 cm dan berat 45 kg, Tomboy termasuk mungil. Waktu masih kecil, kulit Tomboy bersih bersinar, sekarang sudah menghitam karena suka panjat tebing. Matanya besar dan bola matanya hitam, memang cocok buat Tomboy yang selalu penasaran sama urusan orang lain. Kulit mukanya bersih licin, selicin singa laut.

    Tapi tiga bulan ini lebih sering harga minyak goreng naik turun dibanding munculnya teriakan si Tomboy. Aku memang enggak terlalu ‘ngeh’ dengan hal apa saja yang terjadi di rumah. Suatu kali aku lagi cuci motor dan minta mbak Nur nyalain kran air. Aku kaget setengah napas karena yang muncul bukan mbak Nur, tapi lelaki berjambul dengan kumis ala “Si Doel Anak Sekolahan”. Hampir saja kepalanya benjol karena emberku, untunglah Mama cepat muncul dan mengabarkan bahwa pria berkumis itu adalah pembantu baru kami, sejak tiga hari lalu!! Dueeeeenk!!

    Mungkin aku cuek, tapi perubahan Tomboy adalah hal yang sangat menarik perhatian. Istilahnya, seperti seorang nenek pakai baju jogging warna pink, celana ketat warna hijau, sekaligus pakai high heels di depan pintu mall. Mencolok banget gitu loh!

    Misalnya kemarin pagi. Aku serasa mendapat serangan jantung. “Beneran nih lagunya Hillsong?” Pikirku waktu mendengar ‘King of Majesty’ dari kamar si Tomboy. Walau aku buta dengan lagu-lagu rohani, tapi kalau Hillsong ya tahu sedikitlah.

    “Lu demam yak?” Punggung tanganku menutupi dahi Tomboy, mengecek apakah dia sedang pilek atau terkena demam kemarau.

    “Ih oncom, apaan sih lu ah!” Tomboy menepis tanganku.

    “Lagu dari mana tuh?”

    “Dari Sarah. Enak kan? Gue suka banget deh sama lagu-lagunya Hillsong. Lagu-lagunya TW juga enak. Terus…”

    “Lu sakit, Boy?” Potongku cepat.

    Tomboy pun berlalu sambil nyengir lebar.

    Kejanggalan kembali terjadi sore ini. Yang ini benar-benar bikin serangan jantung. Tomboy masuk ke kamarku untuk mengambil haedset yang kupinjam. Begini urutan kejadiannya: Kejanggalan pertama, “tok…Tok… Tok”, Tomboy mengetuk pintu kamarku, padahal biasanya, “kreeet… Gubrak”, masuk tiba-tiba persis anggota SWAT di film action. Kejanggalan kedua, “bang, headset gue mana?” Dan aku mendarat mulus dari tempat tidurku menuju lantai yang dingin.

    “Lu manggil sapa, Boy?” Kataku sambil menengok kanan kiri. Siapa tahu ada orang lain di kamarku.

    “Hahaha… Ya elu lah. Headset gue mana?”

    “Di… Di… Di atas meja”, aku gagap.

    “Oke bang”. Dan Tomboy pun kembali nyengir seraya menutup pintu pelan.

    “Abaaaaaang?!!” Aku histeris di dalam kamar. Oncom adalah penggilannya kepadaku, karena aku suka pepes oncom. Dan Tomboy tahu dengan pasti aku kesal dengan julukan itu. Ya iyalah, masa muka ganteng nan cool ini dipanggil oncom?! Tapi, abang? Nooo!! Delapan belas tahun Tomboy menjadi adikku (yang aku akui di depan semua orang bahwa Tomboy adalah anak tetanggaku), baru kali ini manggil aku abang, pake senyum pula! Alamak!

    Umurku memang 22 tahun, tapi menghabiskan hari-hari bersama Tomboy tak pernah ada bosannya. Berantem sih iya, justru itu yang bikin rumah jadi enggak membosankan. Selain berantem aku sering menonton film, main ke dufan, panjat tebing, camping di gunung, dan main monopoli sama Tomboy. Tapi sekarang sudah enggak pernah! Rasa penasaran ini tak terbendung lagi. Aku pun menjadi detektif dan mulai menelusuri misteri ini…

    Tuut… Tuut…

    “Halo?”

    “Wooi, Na. Si Tomboy kemana? Kok belum pulang?” Seruku pada Rina, teman dekat tomboy.

    “Ga tau, kak, bubar kelas kita langsung pisah. Lu telepon ajalah”

    “Ogah! Kok lu ga pernah bareng Tomboy lagi?

    “Lu tanya aja sendiri sama dia. Mulai sombong tuh anak punya temen-temen baru”. Rina menjawab ketus.

    “Oh, okelah. Tengkiu yak”.

    Telepon putus. Aneh… Rina aja enggak tahu dimana Tomboy berada. Nelepon Tomboy? Sorry layaw! Nanti kedokku sebagai detektif terbongkar, enggak seruuu! Tapi minimal sudah ada dua fakta: satu, Tomboy punya teman-teman baru. Dan dua, suara si Rina di telepon cempreng banget.

    Aku pun melanjutkan penyelidikan. Aku ambil handphone dan mulai memijit nomor telepon Via, cewe berambut panjang yang sering bolak-balik ke kamar Tomboy belakangan ini.

    Tuut… Tuut…

    “Halo?”

    “Ni gue, Andrew. Ada tomboy ga?”

    “Oh, ada kak. Ni kita abis ibadah Jumat di sekolah. Mau ngomong langsung sama Ribka?”

    “Ibadah?!” Melon yang sedang kukunyah hampir nyangkut di tenggorokan. “Ga usah, jangan bilang gue nelepon yak. Betewe, gue mo nanya Vi…”. Perbincangan pun berlanjut hingga setengah jam berikutnya…

    Tahulah aku bahwa Tomboy mulai ikutan ibadah jumat di SMA-nya sejak enam bulan lalu, tepatnya waktu ia naik kelas tiga. Dan sejak ia ikut retreat tiga bulan lalu, itulah awal mula aku merasakan keanehan pada Tomboy. Tiga bulan ini tiap malam minggu Tomboy selalu ngeloyor pergi, dan baru aku tahu dari Via, bahwa ia pergi ke komsel barunya, komsel dari gereja Via. Minggu kemarin ketika kami sekeluarga mau berangkat ke gereja, Tomboy pakai rok warna hitam dengan kemeja hitam. Mata kami sekeluarga hampir melompat persis kodok di kali. Walaupun gaya pakaiannya kaya mau melayat ke rumah duka, tapi rok?! Tomboy pakai rok walaupun masih bergaya gothic. Enggak ada lagi levi’s butut robek-robek atau kaus oblong kalau Tomboy keluar rumah. Ia tetap memakai jeans dan kaus, tapi yang enggak ada robeknya. Enggak ada lagi gelang dan kalung berantai berduri yang memang norak, tapi keren menurut Tomboy. Itu semua dimuseumkan. Waw!

    ***

    “Cabut yu”, ajakku pada Tomboy yang sedang duduk di kursi goyang sambil membaca buku bersampul biru muda.

    “Kemana?” jawab tomboy tanpa mengalihkan matanya dari huruf-huruf di buku itu.

    “Ke mana kek! Ke Ancol, ke Monas, ke warung makan padang, terserah lu lah”

    “Nanti ya bang, abis gue baca buku ini”, Tomboy menjawab santai.

    “Ah elah, baca apaan sih lu? ‘Tuhan Datang Mendekat’, Max Lucado. Ajigileee, tobat lu ye? Bacaannya berat cuy”. Kataku sambil menjitak kepala Tomboy.

    “Ah, sakit oncom.” Jawab Tomboy dengan ketus.

    “Beh, kalo dijitak lu manggil gw oncom lagi. Sini gue jitakin supaya lu waras lagi.” Kataku sambil menjitaki kepala Tomboy.

    “Aaaah! Iya iya, kita jalan. Tapi lu ikut gue dulu ya.”

    “Kemana?” Tanyaku heran.

    “Ke komsel.”

    “Ogah!” Dan kami pun tiba di komsel gereja Via dua jam berikutnya.

    Kesan pertama di komsel ini: menyenangkan. Cuma ada lima belas orang, sembilan cewe dan enam cowo. Semuanya ramah. Musiknya cuma gitar, tapi justru terasa khidmat. Dari kecil aku dan Tomboy udah biasa ke gereja. Sama Mama, Papa juga. Papa bilang enggak enak kalau enggak gereja, soalnya salah satu petinggi gereja ini adalah bos Papa sejak zaman dahulu kala.  Di gereja tempat kami ibadah orangnya sibuk semua. Ada pejabat, artis, sampai reporter berita kriminal. Karena mereka orang sibuk, kami jaraaaaaaang banget ngobrol sama orang-orang gereja kami. Selesai ibadah ya pulang, masa mau nyapuin lantai gereja? Lagian makin lama si Via kelihatan tambah manis, lumayan datang komsel buat PDKT. Hehehe…

    Setelah komsel, aku dan Tomboy mampir dulu ke cafe favorit kami. Kami berdua memesan spaghetti dan orange juice. Aku sudah melahap seperempat spaghetti ketika kulihat tomboy berdoa.

    “Amin”. Tomboy menyelesaikan doanya, aku masih terpana.

    “Boy, lu ngapain barusan?”

    “Nyuci beras. Ya berdoa lah. Sebelum makan tuh berdoa dulu.” Tomboy menyeruput orange juice dan mulai menyantap spaghetti-nya.

    “Yaelah, biasanya juga langsung makan aja. Lagian kan ini di tempat umum Boy. Malu ah kalo pake berdoa.”

    “Lah, kan kita udah bayar pajak. Orang yang ga bayar pajak, baru tuh malu.” Tomboy melawak. Sama sekali enggak lucu.

    “Berdoa tuh di rumah sama di gereja aja, Boy. Lagian kan kita cuma makan mie. Kalo makan nasi baru berdoa.” Kataku dengan gaya ‘gue-paling-tau.’

    “Lah, apa bedanya nasi sama mie?”

    “Kalo nasi kecil-kecil warna putih, kalo mie keriting warna kuning.” Jawabku mantap.

    “Hahahaha! Eh bang, Yesus aja berdoa dulu sebelum makan roti sama murid-murid-Nya, lah kita makan mie masa ga doa? Dosa tau bang.”

    “Sok tau lu!” Dan aku pun menghabiskan makan malam itu dengan rasa berdosa.

    ***

    Sore ini aku duduk santai di teras setelah memandikan ‘si belalang tempur’, mobil kesayanganku. Kugigit choco chips dan menyeruput melon juice. Angin semilir membuat mataku terpejam membayangkan sosok manis Via. Belum utuh Via muncul dalam khayalanku, ‘cluk’, ada sesuatu yang menyentuh hidungku. Aku bangun dengan kaget, dan melihat pesawat terbang kertas di pangkuanku. Kubuka lipatannya dan membaca sebaris pantun disana,

    buah mangga enak rasanya

    apalagi ditambah gula

    jangan suka berkhayal tak guna

    hanya akan menambah dosa

    Sial! Aku bersiap bangkit dari kursi dan menjitak kepala Tomboy yang sedang duduk cekikikan di atas kap “si belalang tempur” yang sedang kujemur. Namun gerakanku terhenti ketika kulihat beberapa lembar HVS dan sebuah pulpen di atas meja di sampingku. Oooh, mau main lempar-lemparan pesawat terbang? Boleh! Ku ambil selembar HVS dengan garang dan mulai menulis. Selesai, lalu kuterbangkan pesawat kertas itu sengaja ke pohon mangga. Tomboy buru-buru turun dan segera memanjat pohon mangga. Aku tertawa terbahak-bahak. Kubuat pantun dengan tulisan seperti ini,

    anak kancil masih kecil

    si tomboy centil, suka ngupil

    Dan sore itu kami habiskan dengan pesawat kertas yang berterbangan di angkasa.

    ***

    Badanku nyeri, pegaaaaaal!! Sehabis nge-band memang paling enak duduk di kasur sambil menikmati segelas orange juice dan sekaleng choco chips, yuuuuummy… Baru saja mbak Nur meletakkan orange juice di meja kamarku, teriakan Mama kembali bergema di rumah berlantai dua ini.

    “Ya udah lah terserah. Papa kan emang gak pernah mau tau urusan keluarga!”

    “Loh kok jadi Papa yang salah? Kenapa bukannya Mama aja yang pergi? Itu kan pestanya saudara Mama. Ngapain jadi Papa ikut-ikutan?” Suara Papa tak kalah menggema dari suara Mama.

    “Tuh kan, tuh kan, mulai lagi!  Di pesta itu kan temanya jungle. Harus pake baju macam loreng-loreng macan. Mama gak mau pake baju loreng-loreng!!! Papa aja yang pergi!!!”

    Sementara suara Mama semakin tinggi, Tomboy masuk dan merampas sekaleng  choco chips dari tanganku. Tomboy makan tiga choco chips sekali lahap. Ia duduk di sampingku sambil terus mengunyah.

    “Papa juga gak mau pake baju loreng-loreng.” Suara Papa tak kalah tinggi.

    “Papa egois.” Mama teriak.

    “TERSERAH!!” Papa teriak lebih kencang.

    “AAAAAARRRRGGGGHHHH!!!!” Waw, ternyata teriakan Mama lebih kencang lagi. Ya ampun, baju loreng-loreng saja jadi masalah. Konyol! Tapi pertengkaran seperti ini sudah sering terjadi, tak terhitung. Tentang bulu kucing di sepatu Mama, dasi gambar bunga melati punya Papa, ayam tetangga yang masuk ke garasi, hal-hal semacam itu bisa bikin rumah ini ramai. Di kamar, di teras, di tempat kerja, di mall, di mana-mana mereka gemar sekali berselisih paham.  Aku dan Tomboy terus saja mengunyah choco chips. Hal seperti ini menjadi biasa bagi kami. Ya, sepertinya kami terbiasa. Namun sebenarnya hati kami tidak pernah terbiasa…

    ***

    Aku pernah menanyakan pada Tomboy tentang panggilan barunya kepadaku. Ia menjawab sambil nyengir, “si Via aja manggil kakak sepupunya pake abang, masa gue panggil elu oncom. Hehe.” Aku juga bertanya tentang Rina, Mela, Jhony, dan teman-teman gank-nya yang sudah enggak pernah lagi datang ke rumah.

    “Gue diajauhin mereka, bang.” Tomboy menjawab santai.

    “Hah? Kenapa? Lu ga mandi lagi? Sabun di rumah lu gigitin lagi? Ampuun dah Boy.”

    “Bukaaan!” Tomboy menjawab sewot. Aku sudah mengambil bantal kursi untuk menutupi kepalaku, bersiap menangkis tonjokan Tomboy. Tapi enggak ada tonjokan, heran juga. Aku pun melanjutkan bertanya.

    “Terus?”

    “Gara-gara tiap Jumat, Sabtu, gue ga jalan lagi sama mereka. Kan gue kebaktian. Lagian ya bang, gue cape maen sama mereka. Ke mall muluuu. Ngomonginnya cowooo mulu, bosen!”

    “Boy, kalo boleh tanya, kalo boleh nih ya, lu dikasih makan apa sih di retreat sekolah?”

    “Kenapa bang? Penasaran yak?” Tomboy nyengir jahil.

    “Dih. Pede lu!”

    “Hahahahaha.” Tomboy tertawa keras sebelum akhirnya melanjutkan, “di retreat itu gue dapet banyak hal, bang. Mengenal Yesus dari cara yang berbeda. Selama ini gue kira Yesus itu sosok yang kaku, yang tinggalnya di langit sana. Hehehe. Gue juga belajar tentang pengampunan, dan ternyata kebaktian sama temen-temen enak loh. Nyanyi-nyanyi, cerita-cerita, dan lu tau ga bang…”

    Perbincangan kami eggak berhenti hanya hari itu. Entah mengapa, aku penasaran sekali dengan perubahan Tomboy. Cara bicara, berjalan, makan, bahkan rambutnya dibiarkan tumbuh melewati telinganya, membuatku terus bertanya tentang perubahannya. Kami masih sering ke bioskop menonton film action, panjat tebing, bahkan camping. Tapi kusadari, waktu kami mulai sering kami habiskan dengan bercerita tentang Yesus, kadang bersama teman-teman komsel, kadang hanya kami berdua. Kami duduk di teras, aku bermain gitar dan kami berdua bernyanyi lagu yang kami tahu dari komsel, juga dari CD lagu-lagu rohani yang kami putar di rumah dan di dalam mobil. Kadang aku dan Tomboy duduk di kamarku dan kami saling bercerita, tentang apa saja, sekolah, kucing tetangga, bahkan tentang cita-cita dan keluarga. Sesuatu yang tidak pernah kami perbincangkan di tengah keributan kami di hari-hari yang lalu. Aku kaget sampai lagi-lagi jatuh dari tempat tidur, ketika Tomboy bercerita bahwa ia suka dengan Michael, salah satu anak komsel. Tomboy suka cowo? Dueeeeenk!!

    Suatu kali aku pernah berselisih paham dengan Roy, anak komsel juga. Aku sangat kesal karena Roy menyebut aku dan Tomboy sebagai anak ayam. Memang kami baru mengenal Yesus dengan cara yang berbeda, dengan nuansa yang berbeda. Sebutan anak ayam jelas-jelas menjadikan kami sebagai “pengikut” Kristus yang sangat tidak berharga. Aku memutuskan untuk tidak lagi datang ke komsel. Sudah untung muka Roy tidak kujadikan abstrak! Tapi Tomboy datang ke kamarku, aku tahu bahwa ia akan membujukku tapi ini tidak akan berhasil. Voila, ternyata dugaanku salah. Tomboy bilang ia juga enggak suka Roy, apalagi bila Roy datang dengan jambul 5 cm yang super norak. Tapi Yesus akan tetap hadir di komsel dengan atau tanpa Roy, jadi kenapa aku dan Tomboy tidak datang komsel karena Roy? Bukankah itu berarti aku dan Tomboy lebih peduli dengan Roy dibanding Yesus? Setelah Tomboy keluar dari kamarku, aku mematikan lampu dan berdoa “Tuhan Yesus, aku merasa ini ga adil buatku dan Tomboy. Tapi aku tau, Kau bukan Tuhan yang kurang kerjaan dan merancangkan hal yang gak penting buat kami. Ini penting, dan saat ini aku mau membuka hatiku untuk maapin Roy. Maapin aku juga ya Tuhan. Dalam nama Yesus, amin.”

    Semua berjalan menyenangkan, semua hari terasa baru dan kami merasa bersemangat. Sampai tiba hari aku menerima kabar itu, kabar yang mengguncang duniaku seakan bumi tiba-tiba kehilangan gaya gravitasi dan meluncur drastis dari porosnya. Hari yang tidak akan kulupa, hari ketika Tomboy…

     
    • Henri H. 8:29 am on July 19, 2010 Permalink | Reply

      lanjut gan…menanti episod berikut..

    • riuw 6:56 am on July 20, 2010 Permalink | Reply

      .

    • riuw 7:07 am on July 20, 2010 Permalink | Reply

      cihuuii lucu.. Next.. Dtgu ev.. ;)

    • riuw 7:09 am on July 20, 2010 Permalink | Reply

      koq gw komen2 ga masuk2 c?? (–”)
      lucu, dtgu yah ev :)

    • lunniey 8:33 am on July 29, 2010 Permalink | Reply

      ini yang 18 halaman yak ep!! gak nyangka ternyata sebagian diambil dari kisah asli hidup lo yak.. lu pan dulu tomboy gitu pan.. rambut kaya cowo, jalannya petantang-petenteng xD chihihihihihi….
      seru juga cerbungnya^^ lanjut layy !

    • evnov 8:18 am on July 30, 2010 Permalink | Reply

      @all: thx yoo :D

      @ka’lun: jadinya 22 halaman xD
      pengalaman idup lu juga gw masupin qo, tukang vcd di glodok!! :P
      eh cuy, gmn proyek nulis kita? ga lanjut, coy? wakakakak!

  • riuw 3:15 pm on July 18, 2010 Permalink | Reply  

    MENITI TANGGA KEBERHASILAN 

    Hari senin dini hari seorang gadis manis putri specialnya Tuhan Yesus dengan kaki di bungkus sarung karena dingin, peluk guling, jantung yang deg-degan banget menonton tim kesayangannya La Furia Roja “spanyol” di final piala dunia 2010 melawan belanda. Pada akhirnya dengan perpanjangan waktu tim matador tersebut  dapat mencetak gol yang di cetak oleh Andres Iniesta di menit ke 116. Tumben yah bukan jagoan ku david villa yang nge gol-in. padahal doi itu seorang striker dan mulai dari awal pertandingan piala dunia sampai menuju final gol tunggal slalu dari david villa. Yah gimana mau nge go-in, semenjak melawan jerman di semifinal dan melawan belanda di final sang striker david villa di kepung abis. Jadi sering jatuhlah, sering gak bisa lari bawa bola kemana. Hahahaii gak terima sih gw soalnya pake system mengepung striker :p tapi namanya juga sebuah pertandingan, pasti menghalalkan segala cara untuk menang.

    Aku sendiri walaupun espanol jadi tim favorit, gak terlalu yakin mereka bisa memenangkan piala dunia 2010. Tadinya perkiraanku yang menang tuh Brasil atau Argentina atau Jerman. Aku hanya mendukung espana(spanyol) mau mereka menang atau kalah, tetep spanyol :p. Alasannya sebenernya simple, semenjak aku melihat mereka bertanding di piala eropa tahun 2008 yang lalu, aku udah suka dengan cara mereka bermain dan itu yang menghantarkan mereka serta mereka layak menang.

    Kalau artikel aku yang sebelumnya tentang point-point positifnya, sekarang aku mau bagiin langkah-langkah mereka meniti tangga keberhasilan. Disini gw akan lebih banyak kasi contoh melalui spain.

    *semangat yang tinggi dari diri sendiri. Kata-kata “semangat” karena sering di ucapkan kedengerannya jadi biasa saja. Saat kita down atau bete’, temen-temen atau orang di sekeliling kitya akan berkata hal yang biasa ini yaitu “semangat ya”. Tanpa kita sadari kadang kita sangat mudah mengucapkan kata “semangat” kepada orang lain. Sekalinya menyemangati diri sendiri, susah bener rasanya :D . Seperti pelatih sepak bola, gw perhatiin banyak yang Cuma bisa teriak-teriak ngatur-ngatur pemainnya ketimbang kasi motivasi & solusi. Rasanya gak sama saat kita berjuang langsung dengan orang yang hanya nonton & ngoceh soal perjuangan kita. Yup, intinya kalau gw ngambil contoh dari spanyol, mereka punya semangat yang tinggi untuk meraih cita-cita mereka yaitu mengawinkan euro cup 2008 & world cup 2010.

    *bangkit dari kekalahan. Siapa sih yang gak pernah merasakan pahitnya sebuah kekalahan atau kegagalan. Siapapun itu termasuk presiden kita pasti pernah mengalami yang namanya kegagalan/kekalahan. Waktu spain melawan swiss pertandingan group H putaran pertama, spain kalah dengan skor 0-2. Akhir pertandingan melawan swiss, tim spain langsung masuk ninggalin lapangan. Terlihat wajah sang kipper ‘iker casillas’ yang terlihat malu dan kecewa serta menyesal banget bisa kebobolan dua gol. Disitu juga permainan spain jelek banget. Kerja samanya kurang. Dan yang paling mengejutkan karena kejadian ini kipper ‘iker casillas’ nyaris di pecat. What? Di pecat? Segitunya kah sampai harus di pecat? Kalau aku jadi casillas maybe bakal nangis kali yah. Tapi tidak buat sang kipper yang juga kapten dari kesebelasan spain ini. Namanya juga kapten berarti dia secara tidak langsung menjadi pemimpin dari kesebelasan tersebut. Pastinya casillas bangkit dari kekalahannya, dia motivasi temen-temennya dan pada akhirnya? Hasilnya sang kipper ‘casillas’ mendapat golden golve (sarung tangan emas). Casillas melewati rekor tidak kebobolan selama 277 menit dan secara keseluruhannya di afsel casillas membukukan rekor tim tidak kebobolan selama 433 menit. Guys, casillas ini orang yang nyaris di pecat loh. Tapi kahirnya karena bangkit dari kekalahan, dia menjadi kipper terbaik lagi dan baru casillas kipper pertama yang mendapatkan sarung tangan emas karena baru world cup kali ini ada istilash pemberian ‘golden golve’. Gak mudah, sangat teramat tidak mudah yang namanya bangkit dari kekalahan. Kalau aja aku sendiri mengalami seperti casillas yang tadinya nyaris di pecat, beh… belum tentu aku kuat menghadapi dan bangkit lagi. Wajar waktu pertandingan final usai dan dimenangkan oleh tim nya sendiri casillas sampai nangis terus. Pas pengangkatan trofi piala dunia karena doi kapten jadi dia yang angkat, eh nangis lagi tuh si cowok tampan :p hahaha, mata aku aja berkaca-kaca (lebay.com ^_^).

    *tetap rendah hati. Del bosque (59 tahun) sang pelatih spain sosok orang yang tenang dalam pertadningan berlangsung. Kalau spain gol, Cuma dirinya yang paling cool ekspresinya. David villa aja bisa sampai guling-guling terlentang saking bahagianya dan personil yang lain juga. Tapi beda dengan Del Bosque. Sang pelatih juga sebelum pertandingan final berakhir dia bangkit dari kursinya lalu memeluk anggota staf pelatih dengan cara yang nyaris formal.kakek yang satu ini paling cool diantara pelatih-pelatih yang lain. Dia tidak pernah menjanjikan apapun jika timnya kalah. Harapannya hanya timnya bisa menang piala dunia dan membanggakan negara. Berhasilah dia membawa timnya serta negaranya untuk menang piala dunia pertama kali. Belum pernah menang sama skali soalnya. Keren banget deh. ^_^

    *disiplin. Di Indonesia terkenal banget yang namanya jam karet. Dari segi waktu saja kadang aku orang yang kurang disiplin. Padahal waktu aku di didik dalam kegiatan pramuka, disiplin itu ada dua : yang pertama disiplin waktu & disiplin kerja. Displin waktu saja masih kurang, apalagi disiplin kerja, hehe. Piala dunia kali ini pemenang tim fair play yaitu spanyol. Spanyol pemainnya yang paling disiplin. Pastinya kalau yang nilai FIFA gitu mereka gak bakal salah nilai. Diliat dari disiplin waktunya dan kerja mereka. Dalam kerja mereka yang sudah pernah gw bahas sebelumnya team work itu sangatlah penting. Kalau portugal dan argentina sampai kalah, itu karena mereka kurang disiplin dan gak ada team worknya. Merasa jagoan jadinya main sendiri-sendiri. di koran-koran bola di nyatakan kepada christiano ronaldo(portugal) dan messi(argen) dengan judul “main bola rame-rame dunk”, haduh dalem juga yah kata-katanya. =) dengan disiplin yang tinggi dan kerja sama yang sangat baik david villa sang striker, iniesta-xavi-pedro di lini tengah(umpan) serta puyol-capdelvilla-alonso-ramos-pique-fabregas sang bek serta kipper casillas.

    Keberhasilan pasti akan membawa dampak yang baik. Menjadi motivasi bagi yang lain juga. Gw aja gak habis piker. Dampak piala dunia itu banyak, sampai-sampai yah guys, perang aja berhenti. Ebuset perang aja berhenti gara-gara ada piala dunia. Para tentara-tentara pada nonton bola, semua-muanya, hahahaaii kocak bener. 4 tahun lagi gw pengen banget ke brasil untuk nonton pertandingannya langsung. Amin.. J

    Masih banyak hal-hal yang bias kita pelajari dari meniti tangga keberhasilan. Mempunyai karakter yang kuat itu juga salah satunya. Jika udah mencakup ketiga hal di atas aja pasti udah mantab banget. Ketiga hal diatas sangat teramat bukan hal yang mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa untuk dilakukan. Tergantung kemauan yang kuat dari dalam diri. Satu hal yang gak boleh kita lupa, bahkan hal yang satu ini harus kita lakukan yaitu selalu mengandalkan Tuhan. Seperti halnya saat daud menghadapi raksasa, gak bakal sanggup kalau daud gak mengandalkan Yesus. Untuk mencapai kualitas hidup yang maksimal, kita harus menapaki tangga keberhasilan. Dari yang paling bawah naik setahap demi setahap. Dari rintangan yang mudah hingga sukar diatasi. Dan kita mampu melakukannya karena Allah telah melatih dan mendidik kita. Saat ini mungkin kita masih di tangga paling bawah. Tapi gak apa-apa. Teruslah berjuang dan percayalah bahwa puncak tangga keberhasilan akan kita capai bersama dengan Tuhan.

     
    • evnov 7:01 am on July 19, 2010 Permalink | Reply

      like this ^^

      btw, casillas tuu lucu yaa, nangis mulu dah doi saking senengnyaaaa, jadi terharu :’)

      setahap demi setahap, tetap nikmati, bersama Tuhan segalanya menjadi mungkin :)

    • riuw 1:05 pm on July 19, 2010 Permalink | Reply

      thx dedek evi..

      Iyah, gmn gak seneng dek. Pertandingan putaran pertama pnh kalah. Casillas mw di pecat T.T, eh skr malah juara bola dunia n dpt sarung tangan emas lg,, pertama kali dlm sejarah, wow.. Keren. Qt jg pst bs. Bersama Tuhan, gak ad yg mustahil. Klo di spain david villa is Man of the macth, klo di kita: Jesus is Man of the macth..

    • lunniey 8:21 am on July 29, 2010 Permalink | Reply

      Chahahhah kayanya david villa emang co yang sangat sensitip yah… gak malu buat nangis.. mantapnyaa :D
      Bener banget tu ri.. Our Man of the Match kita tu Jesus mpe selamanyaa ^^

    • riuw 4:17 pm on July 30, 2010 Permalink | Reply

      yg nangis casillas lun, bukan david villa.. Klo villa mah cowo cool dya :p

      yup… Jesus is Man of the macth gak tergantikan.. :’)

    • alfonz 3:10 am on November 7, 2011 Permalink | Reply

      ManK..hrs jatuh n hancur dlu.. baru qt bisa bngkit n membngun apa yg sdh hncur.. perjuangn mank brt.. tp ykin JESUS menyertai..always..n AlwAys.

c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.